Saya pernah merasa bersalah hanya karena memilih diri sendiri. Menolak ajakan saat sedang lelah, tidak selalu tersedia untuk orang lain, atau sekadar mengambil waktu untuk istirahat dan bersantai.
Hal-hal sederhana itu sering membuat saya bertanya: ini bentuk self-love, atau justru selfish?
Di tengah banyaknya narasi tentang pentingnya mencintai diri sendiri, ternyata tidak sedikit dari kita yang masih bingung membedakan keduanya, termasuk saya.
Tumbuh dengan Pola “Mendahulukan Orang Lain”
Sejak kecil, saya diajarkan untuk peduli, membantu, dan tidak mementingkan diri sendiri. Sebenarnya nilai itu tidak salah, bahkan penting.
Tapi tanpa saya sadari, saya tumbuh dengan keyakinan bahwa kebutuhan orang lain harus selalu lebih dulu.
Namun, konsep ini membuat saya jadi beranggapan kalau mengatakan “tidak” adalah sesuatu yang tidak baik.
Akibatnya, ketika saya mulai mencoba mendahulukan diri sendiri, ada rasa asing yang tumbuh berupa perasaan bersalah.
Ketika Self-Love Terasa Seperti Pelanggaran
Pertama kali saya benar-benar mencoba mempraktikkan self-love, rasanya tidak seindah yang dibayangkan.
Alih-alih merasa tenang, saya justru jadi overthinking memikirkan apakah orang lain akan kecewa atau apakah saya terlihat berubah.
Bahkan di satu titik, saya mulai memikirkan kalau keputusan mengutamakan diri sendiri sejenak akan dianggap egois oleh orang lain.
Pada akhirnya saya sadar kalau ternyata yang sulit bukan melakukan self-love, tapi mengubah cara pandang pada konsep ini.
Memahami Perbedaan: Merawat Vs Mengabaikan
Pelan-pelan, saya mulai mencoba membedakan dua konsep ini. Self-love itu tentang merawat diri, sementara selfish cenderung mengabaikan orang lain.
Ketika saya memilih istirahat karena lelah, itu bentuk merawat diri. Jika saya terus-menerus menolak orang lain tanpa alasan yang jelas, mungkin saya perlu refleksi.
Perbedaannya memang tidak selalu hitam-putih, tapi niat dan kesadaran jadi kunci. Saya mulai bertanya ke diri sendiri: apakah ini kebutuhan atau hanya ingin menghindar?
Batasan Itu Bukan Penolakan, Tapi Perlindungan
Salah satu bentuk self-love yang paling sulit bagi saya adalah membuat batasan. Mengatakan “tidak” ketika memang tidak sanggup.
Tidak selalu merespons cepat. Tidak memaksakan diri untuk selalu ada. Dulu, saya takut batasan akan merusak hubungan. Tapi sekarang saya mulai melihatnya sebagai bentuk perlindungan untuk diri sendiri dan hubungan itu sendiri.
Karena kalau saya memaksakan diri terus-menerus, yang muncul justru lelah dan emosi yang tidak sehat.
Tidak Semua Orang Akan Mengerti
Ini bagian yang cukup menantang. Saat saya mulai berubah—lebih menjaga diri, lebih selektif, lebih jujur terhadap kebutuhan sendiri—tidak semua orang langsung memahami.
Ada yang merasa saya berubah, ada yang mungkin kecewa. Dan situasi semacam ini tidak mudah. Tapi saya belajar kalau self-love bukan tentang membuat semua orang nyaman.
Kadang juga berarti menerima kalau tidak semua orang akan setuju dengan cara kita menjaga diri.
Belajar Menempatkan Diri dengan Seimbang
Sekarang, saya tidak lagi melihat self-love dan selfish sebagai dua hal yang harus dipertentangkan. Saya melihatnya sebagai keseimbangan yang perlu dijaga.
Saya tetap ingin peduli pada orang lain, tapi tanpa mengabaikan diri sendiri. Saya ingin hadir untuk orang lain, tapi juga hadir untuk diri saya.
Praktiknya tidak selalu mudah dan kadang saya masih salah langkah. Kadang saya masih terlalu memberi atau malah terlalu menarik diri. Tapi setidaknya sekarang saya lebih sadar.
Mencintai Diri Tanpa Kehilangan Empati
Self-love bukan tentang menjadi pusat dunia, tapi tentang memastikan kita tidak menghilang dalam hidup sendiri. Saya belajar kalau mencintai diri sendiri tidak harus membuat saya menjadi egois.
Selama saya tetap punya empati, tetap menghargai orang lain, dan tetap sadar akan batasan. Mungkin batasnya memang tipis, tapi bukan berarti tidak bisa dipahami oleh orang lain.
Dan mungkin, di tengah semua keraguan itu, satu hal yang bisa saya pegang adalah konsep untuk melihat pada kebutuhan diri. Saya berhak merasa cukup, tanpa harus terus-menerus mengorbankan diri.
Baca Juga
-
Tantangan Finansial Gen Z: Gaji Buat Hidup, Tagihan, Healing, dan Tabungan
-
Mitos Self-Reward Liburan: Healing Tidak Selalu Menyelesaikan Masalah Hidup
-
Tren Soft Life dan Isu Mental Health: Bisakah Hidup Tenang Tanpa Harus Kaya?
-
Jebakan Konsumerisme Digital: Di Balik Perilaku Cemas dan Lapar Mata Gen Z
-
Sisi Gelap Solo Traveling yang Gak Ada di Algoritma Instagram, Perempuan Wajib Tahu!
Artikel Terkait
-
Konferensi Pers GJLS: Berapi-Api, Bawa Armada Damkar Asli & Wahana Bus Interaktif ke Epicentrum XXI
-
Room No. 7: Saat Persoalan Finansial Mengikis Moral dan Empati Seseorang
-
Dampak Bahaya Tone Deaf, saat Ucapan Merusak Empati dan Pertemanan
-
Bahaya AI Companion: Ketika Teman Virtual Menggantikan Empati
-
Belok Kiri Langsing: Ketika Transformasi Fisik Dimulai dari Mencintai Diri
Lifestyle
-
Super Gemas! 5 Lip Scrub Kemasan Jar Mungil untuk Bibir Halus dan Lembap
-
Tak Hanya Menyembuhkan, 5 Dokter ini juga Bagikan Inspirasi Lewat Tulisan
-
5 Exfoliating Toner Lokal yang Affordable dan Ramah untuk Kulit Sensitif
-
5 Body Lotion dengan Kandungan Aloe Vera, Memberi Sensasi Sejuk di Kulit!
-
5 Cara Elegan Menghadapi Anggota Kelompok yang Pasif, Bebas Drama dan Nggak Bikin Baper!
Terkini
-
The Last 10 Years: Ketika Kita Hanya Punya Sedikit Waktu untuk Bisa Bahagia
-
Alicia's Law Tayang 11 November di Netflix, Adaptasi Serial The Good Wife
-
Review Film All of You: Ketika Sains Ikut Campur dalam Urusan Cinta
-
Review Serial Lupin Part 3: Sebuah Aksi Menawan Assane Diop yang Penuh Trik
-
Review The Best Thing: Kisah Romantis Dokter TCM dan Manajer Hotel