Sekar Anindyah Lamase | Desyta Rina Marta Guritno
Ilustrasi Pasangan (Pixabay/N-Y-C)
Desyta Rina Marta Guritno

Media sosial belakangan ini seperti tidak pernah kehabisan berita buruk, mulai dari tindak mejahatan, korupsi, hingga hubungan percintaan sekalipun.

Hampir setiap hari ada saja pengguna yang mrngunggah kisah perselingkuhan, perceraian, hubungan penuh konflik, hingga kasus kekerasan dalam rumah tangga.

Ada banyak orang yang akhirnya berani menceritakan pengalaman mereka untuk mencari dukungan atau mengingatkan orang lain agar tidak mengabaikan tanda-tanda hubungan yang tidak sehat.

Namun, jika terlalu sering melihat cerita semacam ini, efeknya bisa terasa berbeda bagi orang yang sedang menjalani hubungan maupun mereka yang masih dalam tahap menemukan pasangan.

Banyak netizen yang kemudian merasa resah dan bertanya-tanya 'Apakah jatuh cinta di era sekarang masih layak dilakukan?'

Bagi sebagian orang, jatuh cinta seolah tidak lagi sesuatu yang indah, tapi  tentang kemungkinan dikhianati, disakiti, atau berakhir dengan cara yang tidak pernah dibayangkan.

Di sisi lain, di tengah ramainya konten hubungan yang penuh drama tersebut, muncul pula jenis konten yang menawarkan suasana berbeda, yaknu couple carousel atau konten carousel yang menampilkan pasangan melalui kumpulan foto dan cerita-cerita kecil tentang hubungan mereka.

Apa Itu Couple Carousel?

Apa sih couple carousel itu? Istilah ini sejatinya merujuk kepada fitur carousel di media sosial (Instagram dan TikTok) yang memungkinkan pengguna mengunggah banyak foto dalam satu kali unggah.

Nah, couple carousel isinya adalah carousel yang isinya foto pasangan kekasih. Melansir dari laman Vice, couple carousel atau carousel reveal adalah cara untuk memperkenalkan hubungan secara perlahan. Namun, ada juga carousel yang isinya penuh dengan foto bersama pasangan.

Misalnya, pasangan yang membagikan foto ketika mereka sedang makan berdua, merayakan anniversary, atau foto-foto random selama menjalani hubungan. 

Konten Gemas, Bikin Senyum-Senyum Sendiri

Seperti yang sudah kita bahas tadi, bahwa sekarang ada banyak unggahan tentang kasus perselingkuhan, pertengkaran, perceraian, atau konflik dalam hubungan.

Konten couple carousel kemudian memberikan keseimbangan, lewat foto-foto kebahagiaan yang sederhana, orang kembali melihat sisi lain dari sebuah hubungan.

Melihat kisah perselingkuhan tidak berarti semua pasangan akan selingkuh. Melihat perceraian tidak berarti semua pernikahan akan berakhir dengan perceraian. Begitu pula melihat kasus KDRT tidak berarti hubungan romantis selalu identik dengan rasa takut.

Bahwa hubungan tidak selalu identik dengan pertengkaran, bahwa pasangan tidak selalu harus membuat konten romantis yang berlebihan, bahwa ada juga hubungan yang dibangun dari kebiasaan-kebiasaan kecil dan perhatian sederhana.

Ini seolah mengingatkan bahwa hubungan yang menyenangkan juga ada, sehingga kita tidak bisa mengatakan bahwa berpasangan adalah sumber masalah.

Jadi “Penolong” untuk Para Hopeless Romantic?

Bagi orang-orang yang masih mengaku sebagai hopeless romantic alias putus asa soal percintaan, konten seperti ini bisa menjadi hiburan tersendiri.

Bukan berarti couple carousel bisa menyembuhkan trauma atau membuat seseorang langsung percaya kepada cinta lagi.

Namun, konten-konten kecil tersebut setidaknya bisa jadi penenang bahwa kita tidak perlu takut jatuh cinta hanya karena melihat kasus orang lain.

Jadi, tidak perlu menjadikan hubungan orang lain di internet sebagai gambaran kita dalam memilih pasangan. Ambil saja sisi baiknya sebagai pelajaran dan inspirasi, tanpa membandingkan kehidupan sendiri dengan potongan kehidupan orang lain.

Mungkin itulah alasan tren couple carousel terasa menyenangkan untuk disimak, ketika timeline dipenuhi cerita tentang hubungan yang gagal, konten sederhana tentang dua orang yang terlihat bahagia bisa menjadi pengingat bahwa cinta tidak selalu harus berakhir dengan cerita buruk.