Jika tidak mencoba, maka tidak akan pernah tahu. Begitulah kalimat yang pas untuk menggambarkan situasi saya beberapa tahun lalu. Berawal dari rasa penasaran hingga berujung membawa banyak perubahan.
Sejak kecil, saya lebih suka membaca buku non-fiksi. Cerpen dan novel belum mampu membuat mata saya melirik. Namun, pandangan tersebut langsung patah ketika saya mencoba hal baru: Membaca novel di perpustakaan. Dari sana, buku fiksi dan non-fiksi bersanding setara di mata saya. Sama-sama menarik untuk dibaca.
Selama perjalanan tersebut, saya telah menuntaskan banyak judul. Sebagian dari mereka memiliki tema tentang suka-duka menjalani kehidupan. Cocok dibaca sebagai bahan perenungan sebelum tidur, terlebih lagi setelah beraktivitas seharian. Berikut daftar rekomendasi dari saya.
1. Kado Terbaik karya J.S. Khairen
J.S. Khairen berhasil membuat emosi saya naik-turun ketika membaca Kado Terbaik. Ceritanya sederhana, keinginan seorang kakak untuk membelikan adik-adiknya baju lebaran. Namun, bukan J.S. Khairen jika tulisannya biasa-biasa saja. Sepanjang jalan, ada banyak adegan haru, marah, dan tegang.
Setelah rampung membaca, saya menjadi tahu makna sebenarnya sebuah keluarga. Keluarga tidak hanya tentang ikatan darah, tetapi juga mereka yang saling mengasihi, melindungi, dan mendukung satu sama lain.
2. Kami (Bukan) Jongos Berdasi karya J.S. Khairen
Kami (Bukan) Jongos Berdasi merupakan buku kedua dari seri Kami (Bukan). Novel karya J.S. Khairen ini mengisahkan kehidupan Ogi dan kawan-kawan setelah lulus dari UDEL (Universitas Daulat Eka Laksana).
Ada yang kariernya mentereng, megap-megap (baca: Di ujung tanduk), bahkan ada juga yang masih bimbang dengan jalan hidupnya. Kisahnya benar-benar dekat dengan realitas.
Seperti biasa, beragam petuah tersebar di banyak halaman, terutama kutipan di awal episode. Novel terbitan Bukune ini mengubah cara saya memandang mimpi, karier, dan tanggung jawab. Saya berkali-kali dibuat merenung oleh pesan-pesan yang ada di dalamnya.
3. Janji karya Tere Liye
Novel Janji berkisah tentang pencarian Bahar, santri dari sekolah agama terkemuka. Saat menempuh pendidikan, perangainya sangat nakal. Entah sudah berapa banyak masalah yang dia ciptakan. Puncaknya ketika meriam bambu yang ia buat mengakibatkan gedung sekolah terbakar.
Sejak insiden itu, Bahar dikeluarkan dari sekolah. Ia hidup berkelana. Menariknya, perjalanan tersebut justru mengubah sifatnya. Bukan lagi anak nakal, melainkan pria dengan lima janji pusaka (baca: Prinsip hidup).
4. Tentang Kamu karya Tere Liye
Jika ada nominasi wanita paling sabar, maka saya akan memilih Sri Ningsih. Dari kecil, hari-harinya dipenuhi dengan ujian hidup. Ia piatu sejak kecil, ayahnya meninggal saat berlayar, dan ibu tirinya berlaku semena-mena kepadanya. Namun, ia tetap sabar dan berbuat baik kepada ibu tirinya.
Banyak peristiwa terjadi dalam hidup Sri Ningsih. Ia berkali-kali berpindah-pindah tempat tinggal: Dari satu kota ke kota lain, dari satu benua ke benua lain. Bagaimana mungkin? Tentu saja bisa. Meski jenjang pendidikannya tidak tinggi, Sri Ningsih memiliki otak yang encer. Ia pandai membaca peluang, membangun bisnis, dan menguasai hukum waris.
Membaca Tentang Kamu membuat saya belajar banyak hal, mulai dari wejangan hidup hingga sejarah dunia. Ada banyak fakta unik di sana, misalnya asal usul penyebutan pedagang kaki lima. Tere Liye tampaknya telah melakukan riset mendalam sebelum menulis novel ini.
5. Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati karya Brian Khrisna
Jauh sebelum diadaptasi ke layar lebar, saya telah menamatkan novel ini. Ceritanya apik. Buku setebal 216 halaman ini berlatar tentang kehidupan Ale, pria yang merasa tidak memiliki kendali atas hidupnya sendiri.
Ia sempat memutuskan untuk bertindak lebih jauh. Sebelum itu terjadi, ia memiliki satu keinginan terakhir yaitu menikmati seporsi mie ayam. Menariknya, harapan tersebut justru membawa rangkaian petualangan yang mengubah pandangannya tentang kehidupan.
Membaca buku sebelum tidur membawa banyak manfaat, salah satunya sebagai jeda untuk menutup rutinitas harian. Dari sana, kita bisa mendapat banyak bahan renungan agar lebih mengenal diri sendiri.
Baca Juga
-
Burnout Bukan Prestasi: 5 Tanda Kamu Cuma Sibuk, tapi Nggak Produktif
-
Menyapa Diri Sendiri Lewat Tulisan: Langkah Kecil Merawat Kesehatan Mental
-
5 Langkah Mudah Menanam Bunga Telang untuk Pemula: Hanya 2 Bulan Bisa Panen!
-
Ulasan Novel Kado Terbaik: Potret Haru Perjuangan Anak Jalanan
-
Jangan Langsung Dibuang! 5 Sampah Dapur Ini Bisa Menyuburkan Tanaman
Artikel Terkait
-
Tentang Masa Depan yang Belum Terjadi dan Pikiran yang Sibuk Khawatir
-
Ulasan Until August: Ketika Usia Tak Menghentikan Pencarian Jati Diri
-
5 Buku Romance yang Diadaptasi ke Film dan Series Tahun Ini, Sudah Nonton?
-
Tidak Selalu Harus Hadir: Mengapa Memberi Ruang dalam Relasi Itu Penting?
-
Stop Kebanyakan Scroll! Saatnya Kamu Memberi Jeda untuk Diri Sendiri
Lifestyle
-
Stop Kebanyakan Scroll! Saatnya Kamu Memberi Jeda untuk Diri Sendiri
-
Exynos 2700 Sudah Diproduksi, Apakah Galaxy S27 Ultra akan Pakai Chip Ini?
-
Lenovo Lecoo N27 Pro Resmi Meluncur: PC All-in-One 27 Inci yang Tampil Modern dan Intel Core i5
-
Ingin Otak Lebih Tenang? Coba 5 Kegiatan Jeda Unik Ini untuk Redakan Stres
-
5 Parfum Floral Fruity Terbaik untuk Tampil Memikat Saat First Date
Terkini
-
Melihat Langsung Dapur 'Stunt Fighting': Saat 1 Detik Bertarung Butuh Keringat Panjang
-
Review Film Bad Apples: Apesnya Bocah Nakal Disandera Guru Sendiri
-
Tentang Masa Depan yang Belum Terjadi dan Pikiran yang Sibuk Khawatir
-
Arin dan Yoon Chan Young Jadi Pemeran Utama Film Horor Bongcheon-dong Ghost
-
Bahaya Brain Rot: Ketika Video Singkat Mengikis Fokus dan Daya Kritis