Sekar Anindyah Lamase | Aryo Akhmad Maulana
Ilustrasi wanita mengalami burnout (pexels/Antoni Shkraba)
Aryo Akhmad Maulana

Sibuk dan produktif merupakan dua konsep yang berbeda. Tidak selamanya durasi kerja sejalan dengan hasil kinerjanya. Ada yang pontang-panting seharian, tetapi output-nya justru di bawah standar. Sebaliknya ada pula yang melampaui target, tetapi tetap enjoy dengan prosesnya.

Bukan tidak adil, melainkan ada perbedaan cara pandang di sana. Yang satu fokus pada durasi, sedangkan yang lain fokus pada dampak yang dihasilkan. Agar energimu tidak terbuang sia-sia, cek apakah kamu termasuk produktif atau hanya terlihat sibuk?

1. Menganggap multitasking sebagai syarat mutlak menjadi produktif

Ilustrasi wanita mengetik di laptop (pexels/Ahmed)

Multitasking ternyata berdampak buruk bagi produktivitas. Meskipun tampak bisa menyelesaikan banyak tugas sekaligus, aktivitas ini menunjukkan betapa singkat kemampuan manusia untuk fokus. Kita hanya beralih dari satu tugas ke tugas lain tanpa memahami esensi dari pekerjaan tersebut.

Dilansir Verywell Mind, otak manusia tidak dirancang untuk melakukan multitasking. Alih-alih melakukan beragam aktivitas di waktu yang sama, lebih baik jika kita berkonsentrasi pada satu tugas tertentu. Ini membuat fokus kita terjaga sehingga output yang dikeluarkan lebih maksimal.

2. Fokus mudah teralihkan oleh notifikasi tidak penting

Ilustrasi mengecek notifikasi media sosial di tengah pekerjaan (pexels/Teona Swift)

Suara notifikasi memang kerap kali menjadi musuh produktivitas. Saat sedang mengerjakan suatu tugas, konsentrasi justru terpecah karena nada deringnya. Ada rasa penasaran di sana, seakan terus memanggil untuk segera diklik.

Kebiasaan seperti ini memicu kita mengabaikan pekerjaan awal dan seringkali berakhir scrolling berjam-jam. Jika tidak dihentikan, ritual ini akan berlanjut hingga larut malam. Saat itu tiba cadangan energi sudah terlalu minim untuk mengerjakan tugas, padahal tanggung jawab tersebut masih banyak yang belum terpenuhi.

Langkah yang dapat kita ambil ialah menonaktifkan sementara notifikasi dari aplikasi tertentu. Terlebih lagi, jika aplikasi tersebut rentan membuat kita tenggelam ke dalamnya. Selain itu, bisa juga mengatur gawai agar memasuki mode jangan ganggu.

Akan tetapi, solusi di atas berlaku untuk jangka pendek. Sebab beberapa pekerjaan menuntut kita untuk aktif menggunakan gawai atau media sosial. Maka dari itu, kita perlu membiasakan diri agar tidak teralihkan oleh notifikasi-notifikasi tersebut.

3. Melakukan semua tugas tanpa ada prioritas

Ilustrasi AI matriks Eisenhower Box beserta penjelasannya (gemini.ai)

Ada satu konsep produktivitas bernama Eisenhower Box. Alih-alih mengurutkan agenda berdasarkan waktu pengerjaan, metode ini membaginya berdasarkan prioritas. Ada empat kuadran di dalamnya, masing-masing memvisualisasikan tingkat kepentingan tugas tersebut.

Dilansir Verywell Mind, Eisenhower Box menghindarkan kita dari kegiatan kurang relevan atau masih dapat didelegasikan. Ini juga membantu kita menentukan mana yang perlu dikerjakan terlebih dahulu, sehingga beban tugas menjadi terarah dan terbagi rata.

4. Energi mudah habis karena manajemen waktu yang buruk

Ilustrasi pria mengalami kelelahan karena beban kerja (pexels/Vitaly Gariev)

Ketika tubuh kekurangan energi, kemampuan untuk memusatkan perhatian menjadi menurun. Hal ini berdampak pada kualitas pengerjaan tugas sehari-hari. Raga kita menghadapinya, tetapi pikiran kita tidak dapat menyatu dengan aktivitas tersebut.

Tidur malam merupakan istirahat yang sulit digantikan. Ia memegang peranan penting dalam meremajakan sel-sel tubuh sekaligus mempersiapkannya kembali untuk beraktivitas di esok hari. Selain tidur, peregangan singkat juga diperlukan untuk menjaga fokus kita.

5. Mengutamakan durasi alih-alih hasil bermakna

Ilustrasi daftar tugas di kertas tempel (pexels/Ann H)

Jika ada perbedaan antara orang produktif dan sekadar sibuk, maka itu dari caranya memandang waktu. Orang produktif akan berusaha memangkas waktu pengerjaan seminimal mungkin. Tujuannya agar dengan durasi yang sama, ia dapat melakukan lebih banyak tugas.

Salah satu siasat untuk memaksimalkan waktu penyelesaian tugas ialah dengan deep work. Dilansir Asana, kerja mendalam bisa dicapai dengan menciptakan lingkungan yang nyaman, menjauhkan diri dari distraksi, dan mengatur prioritas pekerjaan.

Tidak seperti yang sering dibayangkan, sibuk belum tentu produktif. Itu merupakan dua hal yang berbeda. Alih-alih membuat tenaga, akan lebih baik jika memusatkannya pada aktivitas yang bermakna.