Selama ini, saya kira hanya tubuh yang perlu istirahat. Setelah beraktivitas sehari penuh, ternyata pikiran juga perlu diberi jeda. Menulis merupakan salah satu cara untuk mencapai ketenangan sekaligus sarana untuk berdialog dengan diri sendiri.
Tidak selalu ditulis dengan diksi indah. Saat membuat jurnal harian, bahasa yang digunakan juga boleh mengalir spontan. Isinya bisa tentang refleksi perasaan pada hari itu. Mirip seperti catatan diary hanya saja ini versi lebih lengkap.
Penasaran apa saja yang bisa ditulis di jurnal harian? Simak rekomendasi berikut ini!
1. Cerita pengalaman hari ini
Selain kamera, buku dan pena juga bisa menjadi alat untuk merekam momen. Meskipun tidak ada fitur suara atau gambar, kalimat yang tertulis di sana bisa mengompensasi kekurangan tersebut. Penulisnya bisa membayangkan kembali suasana ketika membuat catatan tersebut.
Ini semacam lorong waktu yang bisa dikunjungi kapan pun. Kisah-kisahnya tidak akan hilang selama buku tersebut dirawat dengan baik. Oleh karena itu, bagi saya menulis merupakan cara terbaik untuk melawan lupa.
2. Refleksi perasaan dan pelajaran hidup
Tidak hanya cerita, proses refleksi juga bisa ditulis di jurnal harian. Saya termasuk orang yang suka menuliskannya. Bukan karena ingin dicap filosofis dengan banyak wejangan hidup, melainkan jenis tulisan ini membuat saya bisa makin dekat dengan diri sendiri.
Biasanya, saya akan mengawalinya dengan cerita kejadian di hari itu. Lalu, mencari akar masalah dan pelajaran di baliknya. Terkadang, petuah tersebut saya dapat dari siniar (podcast) atau buku bacaan. Namun, baru tahu wujud penerapannya ketika mengalami sendiri. Inilah alasan mengapa menulis pengalaman dan refleksi itu penting.
3. Pelacak kebiasaan (habit tracker) dan goals
Apakah kamu pernah menggunakan aplikasi habit tracker? Saya pernah, bahkan sampai sekarang. Saya bisa memantau kemajuan (progress) membuat kebiasaan baru dengan aplikasi itu. Namun, saya justru merasa lebih nyaman ketika tracker tersebut dibuat manual.
Untuk membuatnya, saya menggambar tabel beserta kotak centang dan nama kegiatan. Dua hal tersebut saya buat secara vertikal, sedangkan tabel berisi tanggal saya buat secara horizontal. Bisa juga ditambah ornamen hiasan atau warna-warni spidol agar makin cantik.
4. Jurnal bersyukur harian (gratitude journal)
Bersyukur tidak selalu tentang pencapaian megah, ia juga bisa datang dari detail kecil. Sayangnya, kita sering melupakan mereka ketika tugas dan rasa lelah menumpuk. Melalui jurnal bersyukur, kita diajak untuk membiasakan diri dengan prestasi sederhana tersebut.
Paling tidak, tiga hal yang bisa membuat kita tersenyum pada hari ini. Bentuknya tidak harus muluk-muluk. Momen sederhana seperti aroma kopi di pagi hari atau sapaan ramah dari kawan lama juga patut untuk disyukuri.
5. Afirmasi positif setiap usaha yang telah dilakukan
Terkadang hari berjalan berat, menyisakan rasa lelah dan ragu terhadap diri sendiri. Inilah momen di mana kita membutuhkan afirmasi positif. Saya menggunakannya sebagai ruang untuk mengapresiasi setiap usaha yang telah dikerahkan.
Kalimat sederhana seperti, “Kamu sudah berusaha hari ini,” atau, “Terima kasih karena sudah bertahan sejauh ini,” bisa terasa sangat menyentuh. Ini menjadi pengingat bahwa perjuangan juga butuh waktu. Dan, kita berhak bangga atas setiap langkah kecil yang telah dilakukan.
Ada banyak cara untuk memberi jeda di tengah kesibukan. Setiap orang memiliki preferensinya masing-masing. Meski begitu, tidak ada salahnya jika kamu mencoba journaling. Selain menenangkan, cara ini membuat kita makin kenal dengan diri sendiri.
Baca Juga
-
Butuh Bahan Bacaan? Ini 5 Rekomendasi Novel tentang Kehidupan
-
Burnout Bukan Prestasi: 5 Tanda Kamu Cuma Sibuk, tapi Nggak Produktif
-
Menyapa Diri Sendiri Lewat Tulisan: Langkah Kecil Merawat Kesehatan Mental
-
5 Langkah Mudah Menanam Bunga Telang untuk Pemula: Hanya 2 Bulan Bisa Panen!
-
Ulasan Novel Kado Terbaik: Potret Haru Perjuangan Anak Jalanan
Artikel Terkait
-
Seni Berdamai dengan Kecewa: Mengapa Kita Sangat Membutuhkan 'Emotional Boundaries'
-
Ragamu Bukan Mesin: Seni Melambat di Dunia yang Terlalu Cepat
-
Jebakan Urgensi Palsu di Balik Notifikasi: Saatnya Merebut Kembali Kendali atas Waktumu
-
Room Reset, Mind Reset: Saatnya Memberi Jeda untuk Diri Sendiri
-
Digital Detox Bukan Cuma Tren: Kita Perlu Jeda dari Kebisingan Media Sosial
Lifestyle
-
Room Reset, Mind Reset: Saatnya Memberi Jeda untuk Diri Sendiri
-
Ragamu Bukan Mesin: Seni Melambat di Dunia yang Terlalu Cepat
-
Jebakan Urgensi Palsu di Balik Notifikasi: Saatnya Merebut Kembali Kendali atas Waktumu
-
Tinggal Tap! 3 Stamp Blush On Ini Bikin Pipi Merona Cocok Buat Daily Makeup
-
Pelukan Suzume dan Pelajaran tentang Inner Child yang Sering Disalahpahami
Terkini
-
Seni Berdamai dengan Kecewa: Mengapa Kita Sangat Membutuhkan 'Emotional Boundaries'
-
Di Luar Ada Zombie, di Dalam Ada Pembunuh! Review Novel Murder at Shijinso
-
Novel Ascendance of a Bookworm Bagian 4 Diadaptasi Jadi Anime TV
-
Kalau Syaratnya Tak Terpenuhi, Mengapa Bisa Lolos Sejak Awal?
-
Museum Blambangan dan Artefak Tanah Liat yang Harus Dijaga