Sekar Anindyah Lamase | Kusma Nanda
ilustrasi kesehatan mental (Unsplash/martzzl)
Kusma Nanda

Pernahkah seseorang menceritakan kesedihan yang sedang dialaminya, tetapi justru mendapat tanggapan, “Coba lebih bersyukur. Masih banyak orang yang hidupnya lebih susah”? Kalimat tersebut mungkin disampaikan dengan maksud memberikan semangat dan mengingatkan seseorang agar tidak hanya berfokus pada kesulitan. Namun, tidak semua orang merasa terbantu setelah mendengarnya. Bagi sebagian orang, tanggapan tersebut justru membuat perasaan mereka seolah tidak penting dan tidak pantas untuk diceritakan.

Fenomena ini memperlihatkan bagaimana rasa syukur terkadang digunakan untuk menanggapi persoalan yang berkaitan dengan kesehatan mental. Seseorang yang merasa lelah dianggap kurang menghargai kehidupannya. Seseorang yang mengalami kecemasan diminta berhenti memikirkan hal-hal negatif. Bahkan, orang yang sedang menghadapi masalah psikologis tidak jarang dinilai kurang bersyukur atau kurang mendekatkan diri kepada Tuhan.

Padahal, rasa syukur dan kesedihan bukanlah dua keadaan yang harus saling meniadakan. Seseorang dapat menghargai kesempatan yang dimiliki sekaligus merasa kecewa terhadap keadaan yang sedang dihadapi. Seseorang juga dapat menyadari berbagai hal baik dalam kehidupannya tanpa harus berpura-pura bahwa semua persoalan dapat diatasi dengan mudah.

Persoalannya bukan terletak pada pentingnya rasa syukur, melainkan pada cara masyarakat memaknainya. Ketika rasa syukur dijadikan ukuran untuk menilai apakah seseorang boleh merasa sedih, nasihat yang semula dimaksudkan untuk menguatkan justru berpotensi menjadi bentuk penghakiman.

Rasa syukur merupakan sikap yang dapat membantu seseorang mengenali dan menghargai hal-hal positif dalam kehidupannya. Akan tetapi, manfaat tersebut tidak berarti bahwa setiap persoalan harus diselesaikan dengan mengingat hal-hal yang patut disyukuri. Ada perbedaan antara mengajak seseorang melihat sisi positif kehidupan dan menganggap bahwa kesedihannya muncul karena ia tidak mampu bersyukur.

Perbedaan tersebut dapat terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Seorang mahasiswa, misalnya, sedang mengalami kesulitan beradaptasi dengan lingkungan kampus, menghadapi tugas akademik yang menumpuk, dan merasa khawatir mengenai masa depannya. Ketika mencoba menceritakan masalah tersebut kepada orang terdekat, ia justru diingatkan bahwa kesempatan berkuliah merupakan sesuatu yang harus disyukuri karena tidak semua orang dapat mengenyam pendidikan tinggi.

Pernyataan tersebut memang mengandung hal yang patut dihargai. Kesempatan memperoleh pendidikan merupakan sesuatu yang berharga. Namun, kesempatan berkuliah dan tekanan selama menjalani perkuliahan merupakan dua persoalan yang berbeda. Menghargai kesempatan pendidikan tidak secara otomatis menghilangkan kelelahan, kecemasan, atau kesulitan beradaptasi.

Hal serupa dapat terjadi dalam persoalan pekerjaan, keluarga, hubungan sosial, maupun ekonomi. Seseorang yang mengalami kesulitan finansial tidak serta-merta merasa lebih baik hanya karena ada orang lain yang hidupnya lebih sulit. Seseorang yang menghadapi masalah keluarga juga tidak harus mengabaikan perasaannya hanya karena masih memiliki tempat tinggal, makanan, atau orang-orang yang menyayanginya.

Membandingkan keadaan seseorang dengan kehidupan orang lain sering kali tidak menyelesaikan persoalan yang sedang dihadapi. Perbandingan tersebut justru dapat mengalihkan perhatian dari penyebab masalah dan kebutuhan yang sebenarnya diperlukan.

Pada akhirnya, seseorang tidak harus membuktikan bahwa penderitaannya lebih berat daripada penderitaan orang lain agar layak didengarkan. Kesulitan tidak seharusnya menjadi perlombaan untuk menentukan siapa yang paling pantas mendapatkan empati.

Salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian adalah anggapan bahwa masalah kesehatan mental selalu berkaitan dengan kurangnya rasa syukur atau lemahnya keimanan. Dalam artikel mengenai stigma kesehatan jiwa, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2024) menjelaskan bahwa masalah seperti depresi, gangguan kecemasan, dan stres masih kerap dikaitkan dengan rendahnya keimanan seseorang. Pandangan semacam ini dapat mempersempit pemahaman masyarakat terhadap persoalan psikologis.

Kondisi mental seseorang tidak dapat dinilai hanya berdasarkan seberapa positif ia berbicara tentang kehidupannya. Orang yang terlihat ceria belum tentu tidak sedang menghadapi tekanan. Sebaliknya, orang yang mengungkapkan kesedihan bukan berarti gagal menghargai apa yang dimilikinya.

Berbagai persoalan psikologis dapat dipengaruhi oleh keadaan dan pengalaman yang berbeda-beda. Tekanan akademik, konflik keluarga, masalah ekonomi, pengalaman kehilangan, serta kesulitan dalam hubungan sosial merupakan beberapa keadaan yang dapat menjadi sumber tekanan emosional. Respons setiap orang terhadap keadaan tersebut juga tidak selalu sama.

Oleh karena itu, menyederhanakan seluruh persoalan menjadi masalah kurang bersyukur berisiko membuat kebutuhan seseorang tidak dikenali. Seseorang mungkin membutuhkan waktu untuk beradaptasi, dukungan dari orang terdekat, perubahan terhadap keadaan yang menekan, atau bantuan profesional. Mengingatkan untuk bersyukur saja belum tentu menjawab kebutuhan tersebut.

Penting pula untuk membedakan dukungan spiritual dengan penghakiman spiritual. Bagi sebagian orang, agama dan praktik spiritual dapat menjadi sumber ketenangan serta kekuatan ketika menghadapi kesulitan. Mengajak seseorang berdoa atau mengingat hal-hal baik dalam hidupnya dapat menjadi bentuk dukungan apabila disampaikan secara tepat dan sesuai dengan kebutuhannya.

Namun, dukungan tersebut berbeda dari pernyataan yang menyimpulkan bahwa seseorang mengalami kesulitan psikologis karena kurang beriman. Keyakinan spiritual tidak seharusnya digunakan untuk mempermalukan seseorang atau membuatnya merasa bersalah karena sedang mengalami masalah.

Dukungan spiritual dan bantuan profesional juga tidak harus dipertentangkan. Ketika masalah emosional berlangsung lama, mengganggu aktivitas sehari-hari, atau terasa sulit diatasi secara mandiri, mencari bantuan tenaga profesional dapat menjadi langkah yang patut dipertimbangkan. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2024) turut menyoroti bagaimana stigma dan diskriminasi dapat menghambat pemulihan serta membuat seseorang enggan mencari pertolongan.

Dengan demikian, kepedulian terhadap kesehatan mental memerlukan pemahaman yang lebih luas daripada sekadar meminta seseorang mengubah cara berpikirnya. Rasa syukur dapat menjadi salah satu sumber kekuatan, tetapi tidak tepat apabila dijadikan satu-satunya penjelasan atas persoalan yang dialami seseorang.

Selain tuntutan untuk bersyukur, masyarakat juga sering menempatkan sikap positif sebagai sesuatu yang harus selalu dipertahankan. Kegagalan diharapkan segera diterima, kesedihan diminta segera diakhiri, dan setiap pengalaman buruk seolah harus langsung menghasilkan pelajaran berharga. Akibatnya, emosi yang tidak menyenangkan terkadang dianggap sebagai sesuatu yang harus disembunyikan.

Padahal, menjadi pribadi yang positif bukan berarti tidak boleh merasakan emosi negatif. MedlinePlus, layanan informasi kesehatan dari U.S. National Library of Medicine, menjelaskan bahwa menjaga kesehatan mental juga mencakup upaya menyeimbangkan emosi positif dan negatif. Bersikap positif tidak berarti seseorang tidak pernah merasa sedih atau marah. Emosi tersebut dapat membantu seseorang mengenali persoalan yang sedang dihadapi (National Library of Medicine, n.d.).

Kesedihan dapat muncul ketika seseorang kehilangan sesuatu yang berharga. Kekecewaan dapat muncul ketika harapan tidak terpenuhi. Kecemasan juga dapat muncul ketika seseorang menghadapi keadaan yang tidak pasti. Munculnya emosi tersebut tidak dengan sendirinya menunjukkan bahwa seseorang kurang bersyukur atau mengalami gangguan mental.

Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana seseorang memahami dan menghadapi emosinya, termasuk apakah kondisi tersebut mulai mengganggu kehidupan sehari-hari. Memaksa diri untuk selalu terlihat baik-baik saja bukanlah satu-satunya cara untuk menghadapi kesulitan.

Ketika seseorang terus-menerus diminta berpikir positif tanpa diberi kesempatan menjelaskan masalahnya, ia dapat merasa bahwa emosinya tidak diterima. Kesulitan yang semula sudah terasa berat kemudian disertai rasa bersalah karena tidak mampu bersikap positif seperti yang diharapkan orang lain.

Keadaan tersebut juga dapat membuat seseorang memilih menyimpan masalahnya sendiri. Ia mungkin khawatir dianggap berlebihan, lemah, atau tidak mampu menghargai kehidupannya apabila kembali bercerita. Akibatnya, orang-orang di sekitarnya tidak selalu mengetahui bahwa ia sedang membutuhkan dukungan.

Perlu dipahami bahwa mengakui kesedihan bukan berarti menyerah pada keadaan. Mengenali emosi justru dapat menjadi langkah awal untuk memahami sumber persoalan dan menentukan cara menghadapinya. Sikap positif akan lebih bermakna ketika tumbuh dari pemahaman terhadap keadaan, bukan dari tuntutan untuk menyangkal perasaan sendiri.

Mengkritisi penggunaan ungkapan “kurang bersyukur” bukan berarti menolak nilai positif dari rasa syukur. Persoalan utamanya terletak pada cara rasa syukur dipahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Diniz et al. (2023) melakukan tinjauan sistematis dan meta-analisis terhadap penelitian mengenai intervensi rasa syukur. Kajian tersebut mencakup 64 uji klinis acak dan menemukan bahwa intervensi rasa syukur berkaitan dengan peningkatan kesehatan mental serta penurunan gejala kecemasan dan depresi pada kelompok yang diteliti. Para peneliti menyimpulkan bahwa praktik rasa syukur berpotensi digunakan sebagai pelengkap dalam penanganan persoalan tertentu dan dapat mendukung munculnya perasaan positif.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa rasa syukur memang memiliki potensi manfaat. Namun, hasil penelitian itu tidak berarti bahwa seluruh persoalan kesehatan mental dapat diselesaikan hanya dengan bersyukur. Intervensi rasa syukur merupakan salah satu pendekatan yang dapat membantu, bukan alasan untuk meniadakan kebutuhan akan bentuk dukungan lainnya.

Rasa syukur dapat berjalan berdampingan dengan pengakuan terhadap kesulitan. Seseorang dapat menghargai dukungan keluarganya sekaligus membutuhkan bantuan tambahan. Seseorang dapat berusaha mengambil pelajaran dari kegagalan sekaligus mengakui kekecewaan yang dirasakan. Demikian pula, seseorang dapat memperoleh ketenangan melalui praktik spiritual sambil mempertimbangkan bantuan profesional ketika diperlukan.

Dalam konteks ini, rasa syukur sebaiknya tidak diposisikan sebagai kewajiban untuk selalu merasa bahagia. Bersyukur dapat dimaknai sebagai kemampuan mengenali hal-hal yang berharga tanpa harus menyangkal kenyataan yang sedang dihadapi.

Seseorang yang sedang mengalami kesulitan tidak perlu menunggu sampai mampu berpikir positif untuk mencari pertolongan. Ia juga tidak harus membuktikan bahwa dirinya sudah cukup bersyukur sebelum berhak memperoleh dukungan. Bantuan dapat dibutuhkan dalam berbagai keadaan, termasuk ketika seseorang masih berusaha memahami perasaannya sendiri.

Mendengarkan Juga Merupakan Bentuk Kepedulian
Ketika seseorang menceritakan masalahnya, respons yang paling dibutuhkan tidak selalu berupa nasihat. Terkadang, mendengarkan dengan sungguh-sungguh sudah menjadi bentuk dukungan yang berarti. Sayangnya, keinginan untuk segera memberikan solusi dapat membuat seseorang terlalu cepat menilai keadaan yang sebenarnya belum dipahami secara menyeluruh.

Nasihat seperti “Jangan terlalu dipikirkan”, “Orang lain lebih susah”, atau “Kamu harus lebih bersyukur” mungkin dimaksudkan untuk menguatkan. Namun, apabila disampaikan tanpa memahami situasi, nasihat tersebut dapat membuat orang yang bercerita merasa tidak didengarkan.

Respons yang lebih terbuka dapat dimulai dengan mengakui bahwa keadaan yang dihadapi memang tidak mudah. Pertanyaan sederhana seperti “Apa yang paling membuat keadaan ini terasa berat?” atau “Ada yang bisa dilakukan untuk membantu?” dapat memberikan kesempatan bagi seseorang untuk menjelaskan kebutuhannya.

Mendengarkan bukan berarti harus menyetujui semua pendapat atau tindakan seseorang. Empati tetap dapat berjalan bersama saran yang membangun, batasan yang sehat, dan dorongan untuk mencari bantuan apabila diperlukan. Perbedaannya terletak pada cara memberikan respons: bukan dengan langsung menyimpulkan bahwa masalah muncul karena seseorang kurang bersyukur, melainkan dengan berusaha memahami persoalan yang mendasarinya.

Sikap ini penting diterapkan dalam lingkungan keluarga, pertemanan, dan pendidikan. Mahasiswa yang sedang tertekan, misalnya, tidak selalu membutuhkan perbandingan dengan mahasiswa lain yang dianggap lebih mampu. Ia mungkin lebih membutuhkan kesempatan untuk menjelaskan kendalanya dan mendiskusikan langkah yang realistis untuk mengatasinya.

Demikian pula, seseorang yang sedang menghadapi masalah keluarga tidak selalu membutuhkan nasihat agar menerima keadaan. Dalam beberapa situasi, ia mungkin membutuhkan dukungan praktis, perlindungan, atau bantuan dari pihak yang memiliki kompetensi untuk menangani persoalan tersebut.

Dengan mendengarkan terlebih dahulu, orang-orang di sekitar dapat menghindari kecenderungan memberikan jawaban yang sama untuk berbagai masalah yang berbeda. Kepedulian bukan hanya tentang menemukan kalimat yang terdengar bijaksana, tetapi juga tentang memahami kapan seseorang membutuhkan nasihat dan kapan ia membutuhkan ruang untuk bercerita.

Pemahaman mengenai kesehatan mental tidak hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan. Keluarga, teman, lembaga pendidikan, dan masyarakat juga memiliki peran dalam membentuk lingkungan yang membuat seseorang merasa aman untuk mengungkapkan kesulitannya.

Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah mengurangi kebiasaan memberikan label secara terburu-buru. Seseorang yang sedang sedih tidak seharusnya langsung dianggap lemah. Seseorang yang membutuhkan bantuan tidak seharusnya dianggap tidak mandiri. Begitu pula, seseorang yang mengalami masalah psikologis tidak seharusnya langsung dinilai kurang bersyukur.

Masyarakat juga perlu membedakan antara memberikan dorongan dan memaksakan pandangan. Mengajak seseorang melihat sisi positif kehidupan dapat menjadi bentuk dukungan, tetapi ajakan tersebut sebaiknya tidak menghapus kesempatan untuk membicarakan masalah yang sedang dialami. Harapan akan lebih mudah tumbuh ketika seseorang merasa dipahami, bukan ketika perasaannya terus-menerus disangkal.

Di lingkungan pendidikan, perhatian terhadap kesehatan mental dapat diwujudkan melalui komunikasi yang terbuka, dukungan dari dosen dan teman sebaya, serta informasi mengenai layanan konseling yang tersedia. Di lingkungan keluarga, kepedulian dapat ditunjukkan dengan memberi ruang untuk berbicara tanpa langsung membandingkan pengalaman atau menyalahkan orang yang sedang menghadapi kesulitan.

Selain itu, akses terhadap bantuan profesional perlu dipandang sebagai bagian dari kepedulian terhadap diri sendiri. Apabila seseorang mengalami kesulitan yang menetap atau mulai mengganggu aktivitasnya, dukungan dari orang terdekat dapat disertai dorongan untuk mencari bantuan yang sesuai.

Lingkungan yang peduli bukanlah lingkungan yang selalu memiliki jawaban untuk setiap persoalan. Lingkungan yang peduli adalah lingkungan yang bersedia mendengarkan, tidak terburu-buru menghakimi, dan membantu seseorang menemukan dukungan yang dibutuhkannya.

Pada akhirnya, rasa syukur seharusnya membantu seseorang menghargai kehidupannya, bukan menjadi alat untuk menentukan apakah kesedihannya pantas diungkapkan. Mengakui hal-hal baik yang dimiliki tidak mengharuskan seseorang menutup mata terhadap persoalan yang sedang dihadapi. Keduanya dapat hadir secara bersamaan.

Ungkapan “kurang bersyukur” mungkin terdengar sederhana, tetapi dampaknya bergantung pada konteks dan cara penyampaiannya. Ketika digunakan untuk menghakimi, ungkapan tersebut berisiko menutup ruang bagi percakapan yang sebenarnya dibutuhkan seseorang. Sebaliknya, rasa syukur yang disertai empati dapat membantu seseorang melihat harapan tanpa harus berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.

Kesehatan mental tidak semestinya dinilai hanya dari seberapa positif seseorang berbicara atau seberapa sering ia mengungkapkan rasa syukur. Ada kalanya seseorang membutuhkan pengingat untuk menghargai hal-hal baik dalam hidupnya. Namun, ada kalanya ia lebih membutuhkan seseorang yang bersedia mendengarkan tanpa mengecilkan perasaannya.

Rasa syukur tetap memiliki tempat penting dalam kehidupan. Akan tetapi, nilai tersebut akan kehilangan maknanya apabila digunakan untuk membungkam kesedihan atau membuat seseorang merasa bersalah karena sedang menghadapi kesulitan. Menghargai kehidupan tidak berarti harus menyangkal kenyataan, sebagaimana mengakui kesedihan tidak berarti mengabaikan hal-hal baik yang masih dimiliki.

Sebab, bersyukur tidak berarti harus selalu bahagia. Mengalami kesulitan tidak berarti gagal menghargai kehidupan. Dan mencari pertolongan bukanlah tanda kelemahan, melainkan salah satu bentuk kepedulian terhadap diri sendiri.