Pernahkah terpikir mengapa seseorang yang bekerja sejak pagi hingga malam masih kesulitan memenuhi kebutuhan hidup, sementara orang lain memiliki kesempatan yang jauh lebih besar untuk berkembang? Di tengah masyarakat yang kerap menjadikan kerja keras sebagai ukuran keberhasilan, kenyataan tersebut menghadirkan pertanyaan mendasar: apakah kemiskinan benar-benar hanya persoalan usaha individu?
Nasihat untuk bekerja lebih giat, meningkatkan keterampilan, dan mengelola keuangan dengan baik sering kali menjadi jawaban ketika kemiskinan dibicarakan. Nasihat tersebut tidak sepenuhnya salah. Namun, persoalannya menjadi berbeda ketika seseorang sudah bekerja keras, tetapi penghasilannya tetap tidak mencukupi. Ketika seorang anak memiliki cita-cita tinggi, tetapi akses terhadap pendidikan berkualitas terbatas. Atau ketika sebuah keluarga ingin memperbaiki kehidupannya, tetapi terus berhadapan dengan biaya hidup dan kesempatan kerja yang tidak memadai.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kemiskinan tidak selalu dapat dijelaskan melalui kemauan dan kemampuan individu. Ada struktur sosial, ekonomi, dan kebijakan publik yang turut menentukan kesempatan seseorang untuk memperbaiki kehidupannya. Fenomena inilah yang dikenal sebagai kemiskinan struktural. Jika kemiskinan terus dipandang semata-mata sebagai akibat kurangnya usaha, persoalan yang lebih mendasar justru berisiko luput dari perhatian.
Kerja keras sering dianggap sebagai jalan utama menuju kesejahteraan. Seseorang yang rajin belajar diharapkan memperoleh pekerjaan yang baik, sedangkan mereka yang bekerja dengan tekun diharapkan mampu meningkatkan taraf hidup. Idealnya, usaha memang membuka peluang untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Namun, tidak semua orang memulai perjalanan hidup dari titik yang sama.
Bayangkan dua anak yang sama-sama ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Anak pertama tumbuh dalam keluarga yang mampu membiayai pendidikan, menyediakan fasilitas belajar, dan mendukung kebutuhan akademiknya. Sementara itu, anak kedua berasal dari keluarga berpenghasilan rendah, harus membantu orang tua, menghadapi keterbatasan fasilitas belajar, dan memikirkan biaya pendidikan sejak dini.
Keduanya mungkin sama-sama rajin dan memiliki kemampuan yang baik. Namun, jalan yang harus ditempuh tidak sepenuhnya sama. Anak kedua bukan berarti kurang berusaha ketika menghadapi lebih banyak hambatan. Ia hanya harus berjuang dengan sumber daya yang lebih terbatas.
Perbedaan kesempatan semacam ini tidak berhenti pada pendidikan. Latar belakang keluarga, lingkungan tempat tinggal, akses transportasi, kualitas layanan publik, dan ketersediaan lapangan kerja turut memengaruhi peluang seseorang untuk berkembang.
Kemiskinan struktural terjadi ketika hambatan-hambatan tersebut saling berkaitan dan terus membatasi kesempatan hidup. Keterbatasan ekonomi dapat mengurangi akses pendidikan. Pendidikan yang terbatas kemudian mempersempit pilihan pekerjaan. Pekerjaan dengan upah rendah membuat seseorang sulit menabung atau membiayai pendidikan anaknya. Akibatnya, kondisi ekonomi yang serupa berpotensi berulang pada generasi berikutnya.
Dengan demikian, persoalannya bukan sekadar apakah seseorang bersedia bekerja keras, melainkan apakah kerja keras tersebut didukung oleh kesempatan yang memadai.
Data kemiskinan dapat membantu menggambarkan besarnya persoalan yang dihadapi masyarakat. Badan Pusat Statistik (BPS), dalam rilis Profil Kemiskinan di Indonesia Maret 2025, mencatat bahwa jumlah penduduk miskin Indonesia mencapai 23,85 juta orang atau 8,47 persen dari total penduduk. Angka tersebut menurun dibandingkan Maret 2024, ketika jumlah penduduk miskin tercatat sebanyak 25,22 juta orang atau 9,03 persen (Badan Pusat Statistik, 2025).
Penurunan tersebut merupakan perkembangan yang patut diapresiasi. Namun, angka kemiskinan juga perlu dibaca secara lebih mendalam. Di balik statistik, terdapat keluarga yang harus mengatur pengeluaran dengan sangat hati-hati, pekerja yang penghasilannya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, serta anak-anak yang masa depannya dipengaruhi oleh kemampuan ekonomi keluarga.
BPS juga mencatat bahwa persentase penduduk miskin di perdesaan pada Maret 2025 mencapai 11,03 persen, sedangkan di perkotaan sebesar 6,73 persen (Badan Pusat Statistik, 2025). Perbedaan ini menunjukkan bahwa kemiskinan memiliki karakteristik yang tidak seragam antar wilayah.
Tentu saja, perbedaan tersebut tidak berarti seluruh penduduk desa mengalami kesulitan ekonomi atau semua penduduk kota hidup sejahtera. Namun, data tersebut mengingatkan bahwa wilayah tempat tinggal berkaitan dengan perbedaan akses terhadap pekerjaan, layanan publik, infrastruktur, dan sumber penghidupan.
Masyarakat yang tinggal di wilayah dengan pilihan pekerjaan terbatas dapat menghadapi situasi berbeda dari masyarakat yang berada di pusat kegiatan ekonomi. Begitu pula penduduk yang kesulitan mengakses fasilitas pendidikan dan kesehatan harus menghadapi hambatan yang tidak selalu dapat diselesaikan hanya dengan meningkatkan pendapatan pribadi.
Karena itu, kemiskinan tidak cukup dipahami melalui jumlah uang yang dimiliki seseorang. Perlu diperhatikan pula apakah setiap orang mempunyai kesempatan untuk memperoleh pendidikan yang layak, pekerjaan yang manusiawi, layanan kesehatan, dan perlindungan ketika menghadapi kesulitan ekonomi.
Salah satu anggapan yang perlu dikritisi adalah bahwa seseorang yang sudah bekerja pasti mampu keluar dari kemiskinan. Kenyataannya, pekerjaan tidak selalu menjamin kesejahteraan apabila penghasilan, keamanan kerja, dan perlindungan sosial yang tersedia belum memadai.
Bank Dunia dalam laporan Indonesia Poverty Assessment: Pathways Towards Economic Security (2023) menjelaskan bahwa sektor pertanian dan jasa bernilai tambah rendah berperan penting dalam pengurangan kemiskinan di Indonesia. Namun, pekerjaan di sektor-sektor tersebut tidak selalu cukup produktif untuk membawa pekerja keluar dari kondisi ekonomi yang rentan. Laporan tersebut juga menyoroti terbatasnya pekerjaan berketerampilan tinggi yang dapat membuka jalan menuju ketahanan ekonomi.
Temuan tersebut mengajak masyarakat melihat persoalan ketenagakerjaan secara lebih kritis. Seorang pekerja yang mengandalkan pendapatan harian, misalnya, dapat kehilangan penghasilan ketika sakit dan tidak mampu bekerja. Jika pada saat yang sama ia harus membayar kebutuhan rumah tangga atau biaya pengobatan, kondisi ekonominya dapat memburuk dengan cepat.
Masalahnya bukan berarti orang tersebut tidak mau bekerja. Justru, ia telah bekerja, tetapi belum tentu mempunyai jaminan pendapatan, tabungan, atau perlindungan yang cukup untuk menghadapi keadaan darurat.
Situasi serupa dapat dialami pekerja informal, buruh berupah rendah, dan pelaku usaha kecil yang rentan terhadap perubahan harga maupun penurunan permintaan. Mereka mungkin memiliki kemauan untuk berkembang, tetapi ruang untuk mengambil risiko dan membangun modal sangat terbatas.
Dalam keadaan seperti ini, anjuran untuk menabung atau membuka usaha sendiri tidak selalu menjadi jawaban yang memadai. Bagaimana seseorang dapat menyisihkan uang apabila pendapatannya hampir seluruhnya digunakan untuk makan, tempat tinggal, transportasi, dan kebutuhan keluarga? Bagaimana usaha kecil dapat berkembang jika akses terhadap modal, pasar, dan pendampingan belum tersedia secara layak?
Bekerja keras memang penting, tetapi hasil kerja juga dipengaruhi oleh kondisi pasar, kualitas pekerjaan, akses terhadap sumber daya, dan perlindungan yang dimiliki seseorang. Mengabaikan faktor-faktor tersebut hanya akan mempersempit pemahaman mengenai penyebab kemiskinan.
Kemiskinan struktural menjadi semakin serius ketika dampaknya berlangsung lintas generasi. Keluarga dengan keterbatasan ekonomi mungkin harus memprioritaskan kebutuhan paling mendasar sehingga pengeluaran untuk pendidikan tambahan, pemeriksaan kesehatan, atau pengembangan keterampilan menjadi sulit dilakukan.
Ketika anak-anak dari keluarga tersebut memasuki usia kerja, pilihan yang tersedia dapat menjadi lebih terbatas. Sebagian harus segera bekerja untuk membantu keluarga sehingga waktu dan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan berkurang. Dengan bekal pendidikan atau keterampilan yang terbatas, mereka berpotensi menghadapi persaingan kerja dari posisi yang kurang menguntungkan.
Laporan Bank Dunia, Indonesia's Rising Divide (2016), membahas persoalan ketimpangan di Indonesia dan bagaimana perbedaan kesempatan serta akses terhadap layanan dasar dapat berkaitan dengan kesenjangan kesejahteraan. Perspektif tersebut memperkuat pentingnya melihat kemiskinan tidak hanya sebagai persoalan pendapatan, tetapi juga sebagai persoalan distribusi kesempatan.
Lingkaran ini tidak berarti bahwa anak dari keluarga miskin pasti akan menjadi miskin. Banyak orang berhasil memperbaiki kehidupannya meskipun berasal dari latar belakang yang penuh keterbatasan. Namun, keberhasilan individu tidak seharusnya digunakan untuk menyimpulkan bahwa setiap orang memiliki peluang yang sama.
Kisah seseorang yang berhasil meningkatkan taraf hidup melalui pendidikan merupakan hal yang patut dihargai. Akan tetapi, keberhasilan tersebut juga perlu diikuti pertanyaan mengenai berapa banyak orang lain yang memiliki kemampuan serupa, tetapi tidak memperoleh dukungan, akses, atau kesempatan yang dibutuhkan.
Jika perhatian hanya tertuju pada mereka yang berhasil, hambatan yang dihadapi banyak orang dapat terabaikan. Masyarakat kemudian mudah menganggap kegagalan keluar dari kemiskinan sebagai kesalahan pribadi tanpa mempertimbangkan kondisi yang membatasi pilihan mereka.
Kemiskinan struktural bukan alasan untuk meniadakan tanggung jawab individu. Konsep ini justru menunjukkan bahwa tanggung jawab pribadi dan tanggung jawab sosial harus berjalan bersama. Seseorang tetap perlu berusaha, tetapi sistem sosial dan ekonomi juga perlu menyediakan kesempatan agar usaha tersebut dapat menghasilkan perubahan nyata.
Jika kemiskinan turut dipengaruhi oleh struktur sosial dan ekonomi, penanganannya tidak cukup mengandalkan imbauan agar masyarakat bekerja lebih keras. Diperlukan kebijakan yang memperluas kesempatan sekaligus mengurangi hambatan yang membuat sebagian kelompok terus berada dalam posisi rentan.
Pendidikan yang berkualitas dan terjangkau menjadi salah satu langkah penting. Kesempatan belajar seharusnya tidak terlalu ditentukan oleh kemampuan ekonomi keluarga atau wilayah tempat seseorang dilahirkan. Dukungan biaya pendidikan, pemerataan fasilitas, dan akses terhadap pelatihan keterampilan perlu disertai upaya memastikan bahwa masyarakat benar-benar dapat memanfaatkannya.
Selain itu, penciptaan lapangan kerja yang layak harus menjadi perhatian. Pekerjaan bukan hanya tentang tersedianya tempat untuk memperoleh penghasilan, melainkan juga tentang upah yang memadai, kondisi kerja yang aman, serta perlindungan ketika pekerja menghadapi risiko kehidupan.
Pemerataan pembangunan juga tidak boleh berhenti pada pembangunan fisik. Jalan, transportasi, jaringan komunikasi, fasilitas kesehatan, dan layanan pendidikan perlu dikembangkan dengan mempertimbangkan kebutuhan masyarakat yang selama ini memiliki akses terbatas. Infrastruktur yang memadai dapat membantu menghubungkan masyarakat dengan pasar, pekerjaan, dan pelayanan dasar.
Bank Dunia (2023) menekankan pentingnya memperluas kesempatan ekonomi, melindungi rumah tangga dari risiko jatuh miskin, serta mengarahkan belanja publik pada investasi yang berpihak kepada masyarakat kurang mampu. Bantuan sosial, perlindungan sosial, akses keuangan, dan infrastruktur yang tangguh merupakan bagian dari upaya tersebut.
Namun, kebijakan yang baik tidak cukup hanya dirancang di atas kertas. Pelaksanaannya harus tepat sasaran, mudah diakses, transparan, dan dievaluasi berdasarkan dampaknya terhadap kehidupan masyarakat. Bantuan yang tidak menjawab kebutuhan nyata atau sulit dijangkau kelompok sasaran berisiko kehilangan manfaat yang seharusnya diberikan.
Di sisi lain, masyarakat juga perlu membangun cara pandang yang lebih adil. Pentingnya kedisiplinan dan kerja keras tidak perlu disangkal, tetapi keadaan ekonomi seseorang juga tidak seharusnya menjadi dasar untuk menghakimi karakter atau kemampuannya. Empati bukan berarti membenarkan semua pilihan individu, melainkan kesediaan memahami persoalan sebelum memberikan penilaian.
Mengatasi kemiskinan membutuhkan lebih dari sekadar motivasi. Diperlukan sistem yang memungkinkan setiap orang memperoleh pendidikan, bekerja dengan layak, mengembangkan kemampuan, dan bangkit ketika menghadapi kesulitan.
Kemiskinan struktural mengingatkan bahwa kehidupan tidak selalu berjalan berdasarkan rumus sederhana: siapa yang bekerja keras akan berhasil, sedangkan siapa yang gagal berarti kurang berusaha. Kenyataannya, usaha manusia berlangsung di tengah kondisi yang berbeda-beda. Ada yang memperoleh dukungan sejak awal, sementara yang lain harus menghabiskan sebagian besar tenaganya hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar.
Individu tetap memiliki peran dalam menentukan arah hidupnya. Namun, pengakuan terhadap tanggung jawab pribadi tidak boleh menghapus peran kebijakan publik, kesempatan ekonomi, kualitas layanan dasar, dan distribusi sumber daya dalam membentuk kehidupan masyarakat.
Penurunan angka kemiskinan merupakan kemajuan penting, tetapi pekerjaan belum selesai selama masih ada masyarakat yang kesulitan mengakses peluang untuk memperbaiki kehidupannya. Keberhasilan pembangunan seharusnya tidak hanya diukur dari berapa banyak orang yang melewati garis kemiskinan, tetapi juga dari seberapa kuat kemampuan mereka untuk bertahan ketika menghadapi krisis dan membangun masa depan yang lebih baik.
Pertanyaan yang perlu diajukan bukan lagi sekadar, “Mengapa mereka tidak berusaha lebih keras?” Melainkan, “Apakah lingkungan sosial dan sistem ekonomi sudah memberikan kesempatan yang cukup agar usaha mereka membuahkan hasil?”
Sebab, masyarakat yang adil bukanlah masyarakat yang menjanjikan hasil sama bagi setiap orang. Masyarakat yang adil adalah masyarakat yang tidak membiarkan keadaan tempat seseorang dilahirkan menentukan terlalu banyak batas dalam hidupnya. Kemiskinan tidak seharusnya menjadi warisan yang terus berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Kerja keras tetap penting, tetapi kesempatan yang setara membuat kerja keras memiliki arti yang lebih nyata. Selama hambatan struktural belum ditangani secara serius, seruan untuk keluar dari kemiskinan hanya akan menjadi nasihat yang terdengar sederhana bagi persoalan yang sebenarnya jauh lebih kompleks.
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Dijejali Jargon NKRI tapi Warga Perbatasan Melarat: Di Mana Keadilan Itu?
-
Kemiskinan vs Menstruasi: Saat Kebutuhan Dasar Perempuan Tak Terjangkau
-
Tekan Angka Kemiskinan! Gubernur Sulsel akan Bangun 6 Sekolah Rakyat Baru
-
Berhenti Meromantisasi Kemiskinan! Rakyat Bukan Peserta Lomba Bertahan Hidup
-
Kemiskinan Struktural: Ketika Manusia Kehilangan Hak untuk Bermimpi
Kolom
-
Awas Kena PHP Perusahaan! Ini Bahaya Terselubung Tren Ghost Job bagi Pencari Kerja
-
Jebakan Konsumerisme Digital: Di Balik Perilaku Cemas dan Lapar Mata Gen Z
-
Anak SD Tewas Dibully Kakak Kelas: Guru, Sekolah, atau Orang Tua yang Harus Bertanggung Jawab?
-
Sisi Gelap Solo Traveling yang Gak Ada di Algoritma Instagram, Perempuan Wajib Tahu!
-
Viral Guru AI IELTS Mengamuk, Benarkah Kecerdasan Buatan Mulai Punya Perasaan?
Terkini
-
Mengenal Luka yang Tak Terlihat & Harapan untuk Pulih dalam Novel Rekindled
-
Thriller hingga Romcom, 5 Rekomendasi Drama yang Dibintangi Kim Young Kwang
-
Malaikat Maut Juga Bisa Galau? Sisi Lain Kematian di Novel Setelah Melompat Aku Ingin Hidup
-
5 Cara Elegan Menghadapi Anggota Kelompok yang Pasif, Bebas Drama dan Nggak Bikin Baper!
-
5 Sampo Kelapa Kaya Nutrisi untuk Rawat Keindahan Rambutmu