Seperti tahun-tahun sebelumnya, Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand (PCI NU ANZ) tahun ini mengadakan kegiatan Safari Ramadan (3-27 Juli 2014).
Kegiatan ini dirancang untuk mengisi kehausan komunitas muslim Indonesia di Australia dan New Zealand akan siraman rohani yang berkualitas dan relevan dengan kondisi mereka.
Relevan menjadi kata kunci di sini, karena sebagai minoritas mereka menghadapi banyak tantangan dalam menjalankan ajaran Islam.
“Ini tentu berbeda dengan masyarakat muslim yang hidup di Indonesia, yang nyaris tanpa menghadapi kendala sama sekali, karena memang mayoritas Islam,” kata Ketua Tanfidziyah PCI NU ANZ, Mokhamad Nur.
Menurutnya, Islam ala NU yang mengusung Islam Rahmatan lil ‘Alamin dinilai cukup pas dengan kondisi di sini. Makanya kegiatan ini selalu dinantikan oleh warga setempat dan PCI NU ANZ berusaha melaksanakannya secara rutin setiap tahun.
Rangkaian safari kali ini diawali dari Perth (3-6 Juli), Adelaide (6-10 Juli), Sydney (10-13 Juli), Melbourne (13-17 Juli), Canberra (17-20 Juli), Brisbane (20-24 Juli) dan diakhiri di Auckland New Zealand (24-27 Juli).
Dalam serangkaian kegiatan yang padat tersebut, penceramah mengunjungi dan menyampaikan materi di majlis ta’lim, komunitas perempuan muslim, kalangan akademik di kampus, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) dan juga Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI).
Undang Intelektual-cum-Muballighah
Selama beberapa tahun PCI NU ANZ menyelenggarakan Safari Ramadan, tahun ini menjadi istimewa. Yang membuat Safari Ramadhan kali ini menjadi istimewa adalah PCI NU ANZ mengundang intelektual yang juga muballighah (mubaligh perempuan). Di adalah Dr. Faizah Ali Syibromalisi, pakar tafsir dari UIN Syarif Hidayatullah Ciputat.
Menurut Mokhamad Nur mengundang perempuan bukan tanpa alasan.
“Secara implisit kami PCI NU ANZ ingin mempertegas bahwa perempuan banyak yang memiliki kapasitas bagus dan memberi kesempatan kepada mereka untuk lebih banyak berkontribusi kepada masyarakat.”
Menurut mahasiswa Doktoral di Victoria University itu, bila kesempatan luas diberikan kepada perempuan, maka diharapkan ini bisa menjadi bola saju yang menggelindingkan inspirasi kepada perempuan lain untuk terus meningkatkan kapasitas dan lebih kontribusi kepada masyarakat.
Lebih lanjut dia juga menyatakan bahwa penceramah yang diundang sudah dipilih berdasarkan kriteria yang ketat. Bukan hanya mempertimbangkan kapasitas dalam menyampaikan dakwah, tapi yang lebih penting adalah memiliki kapasitas intelektual yang baik.
“Sehingga nantinya acara yang tersaji bukan hanya sebatas menghibur tapi minim isi, sebagaimana banyak di televisi, tapi yang lebih penting adalah lebih berkualitas," katanya.
Dikirim oleh Sekretaris Tanfidziyah PCI NU ANZ, Samsul Ma’arif Mujiharto, Canberra
Anda memiliki cerita atau foto menarik? Silakan kirim ke email: yoursay@suara.com
Tag
Baca Juga
-
Emosional, Monsta X Ungkap Proses Pendewasaan Diri di Lagu 'growing pains'
-
5 Rekomendasi Tempat Bukber di Malang yang Hidden Gem!
-
Novel Paya Nie, Perlawanan Perempuan Aceh terhadap Penindasan Patriarki
-
Buku Mengenal Diri Sendiri: Menemukan Jalan Pulang dalam Karya Eka Silvana
-
Novel The Old Man and the Sea: Memaknai Perjuangan Hidup sang Nelayan Tua
Artikel Terkait
News
-
Mengenal 6 Tipe Kepribadian Perempuan: Kamu Alpha, Beta, atau Sigma?
-
Di Antara Batu, Kami Bertumbuh
-
Berhenti Jadi People Pleaser! Ini Cara Mulai Menghargai Diri Sendiri
-
Macan Tutul di Bandung dan Tragedi Gajah Riau: Siapa yang Sebenarnya Menyerobot Wilayah?
-
5 Fakta Menarik Tarsius, Si Mata Besar Penjaga Hutan Sulawesi
Terkini
-
Emosional, Monsta X Ungkap Proses Pendewasaan Diri di Lagu 'growing pains'
-
5 Rekomendasi Tempat Bukber di Malang yang Hidden Gem!
-
Novel Paya Nie, Perlawanan Perempuan Aceh terhadap Penindasan Patriarki
-
Buku Mengenal Diri Sendiri: Menemukan Jalan Pulang dalam Karya Eka Silvana
-
Novel The Old Man and the Sea: Memaknai Perjuangan Hidup sang Nelayan Tua