Novel Counterattacks at Thirty karya Sohn Won-Pyung menghadirkan kisah yang dekat dengan realitas kehidupan pekerja kantoran. Jika banyak novel Korea Selatan berfokus pada romansa atau drama keluarga, novel ini justru mengangkat keresahan para pekerja biasa yang lelah menghadapi politik kantor, birokrasi rumit, dan ketidakadilan sosial.
Dengan gaya penulisan yang ringan tetapi penuh sindiran tajam, novel ini terasa relevan untuk pembaca dewasa muda hingga pekerja kantoran yang pernah merasa terjebak dalam lingkungan kerja toksik.
Tokoh utama dalam novel ini adalah Jihye, seorang wanita berusia tiga puluhan yang hidupnya terasa biasa-biasa saja. Ia bekerja sebagai administrator di sebuah akademi dan menjalani rutinitas monoton setiap hari.
Di tempat kerjanya, Jihye terbiasa menghadapi atasan yang menyebalkan, budaya kerja yang menekan, serta situasi absurd yang membuatnya harus terus menahan emosi.
Ia memilih diam demi bertahan hidup, seperti kebanyakan pekerja lain yang takut kehilangan pekerjaan.
Kehidupan Jihye mulai berubah ketika seorang pegawai magang bernama Gyuok Lee datang ke kantor mereka. Berbeda dengan karyawan lain yang pasrah, Gyuok memiliki keberanian untuk melawan ketidakadilan kecil di sekitar mereka.
Ia kemudian mengajak beberapa rekan kantor untuk melakukan “balas dendam kecil” kepada orang-orang yang menyalahgunakan kekuasaan.
Mulai dari aksi grafiti, pelemparan telur, hingga tulisan anonim, aksi mereka perlahan menjadi bentuk protes terhadap sistem yang menindas.
Namun novel ini bukan sekadar cerita tentang pemberontakan receh. Di balik aksi-aksi tersebut, terdapat pembahasan mendalam tentang tekanan hidup orang dewasa, rasa putus asa, dan kebutuhan manusia untuk didengar.
Seiring cerita berkembang, Jihye dan teman-temannya mulai menemukan makna persahabatan dan keberanian untuk melawan keadaan yang selama ini mereka terima begitu saja.
Salah satu kelebihan terbesar novel ini adalah bagaimana Sohn Won-Pyung mampu menggambarkan dunia kerja dengan sangat realistis.
Banyak adegan yang terasa relatable, terutama bagi pembaca yang pernah menghadapi atasan toxic, budaya kerja tidak sehat, atau tekanan untuk selalu terlihat sempurna di kantor.
Penulis juga berhasil menyisipkan humor satir di tengah suasana yang sebenarnya penuh stres, sehingga cerita tetap terasa menghibur dan tidak terlalu berat.
Karakter-karakter dalam novel ini juga terasa manusiawi. Jihye bukan tokoh utama yang hebat atau penuh ambisi besar. Ia justru digambarkan sebagai orang biasa yang lelah dan sering ragu mengambil keputusan.
Hal itu membuat pembaca mudah terhubung secara emosional dengannya. Sementara itu, karakter Gyuok Lee menjadi sosok yang unik karena membawa semangat perlawanan tanpa terasa berlebihan atau heroik.
Dari segi gaya bahasa, novel ini menggunakan narasi sederhana dan mengalir. Terjemahannya pun terasa nyaman dibaca sehingga emosi dan humor dalam cerita tetap tersampaikan dengan baik.
Meski tema yang diangkat cukup serius, penulis mampu menjaga ritme cerita agar tetap ringan dan menyenangkan diikuti.
Meski begitu, novel ini memiliki beberapa kekurangan. Alurnya cenderung lambat di bagian awal karena fokus menggambarkan kehidupan sehari-hari Jihye dan suasana kantor.
Bagi pembaca yang menyukai cerita penuh konflik besar atau plot twist cepat, bagian awal mungkin terasa membosankan.
Selain itu, aksi “balas dendam” yang dilakukan para tokohnya sebenarnya cukup sederhana sehingga pembaca yang mengharapkan ketegangan besar mungkin akan merasa kurang puas.
Namun justru di situlah kekuatan novel ini. Counterattacks at Thirty tidak berusaha menjadi cerita aksi penuh ledakan emosi.
Novel ini lebih menekankan bahwa keberanian kecil pun bisa menjadi bentuk perlawanan yang berarti. Pesan tentang solidaritas, persahabatan, dan pentingnya menjaga harga diri di tengah tekanan hidup terasa hangat dan menyentuh.
Novel ini cocok dibaca oleh mahasiswa, pekerja kantoran, maupun pembaca dewasa muda yang sedang merasa lelah menghadapi kehidupan.
Buku ini juga pas dibaca saat sedang burnout atau kehilangan semangat karena mampu memberikan rasa bahwa kita tidak sendirian menghadapi kerasnya dunia kerja.
Baca Juga
-
Jangan Takut Laba-Laba Sebelum Membaca "Weaver and the Web"
-
Little Bee and the Bloom: Petualangan Lebah Kecil Mengenal Keajaiban Alam
-
Grow Wild, My Child: Saat Alam Menjadi Ruang Kelas Terbaik Anak
-
Milk & Mocha: Ketika Momen Kecil Ternyata Tak Selalu Membekas
-
Review Buku This Book Is Seriously Silly!: Belajar Interaktif Lewat Ubur-Ubur Konyol
Artikel Terkait
-
Ulasan Novel Cantik Itu Luka: Ketika Kecantikan Menjadi Senjata dan Kutukan
-
Review Air Mata Terakhir Bunda: Magenta yang Bikin Mata Menganak Sungai!
-
Ulasan Novel Book Shamer: Bukan Sekadar Potret Penulis Antikritik
-
Ulasan Novel Rumah di Seribu Ombak: Nggak Cuma Kesetiaan, Tapi Ketimpangan
-
Menyingkap Pahit Manis Sejarah Tionghoa Peranakan dalam Novel Ca-Bau-Kan
Ulasan
-
Poret Pendidikan di Pinggiran Kuala Mesuji dalam Novel Anak-Anak Kuala
-
3 Buku Parenting Rekomendasi Nikita Willy, Sukses Didik Anak Tumbuh Optimal
-
Review Serial 10 PM: Ketika Teknologi Membuka Pintu Menuju Dunia Lain
-
Review Avengers: Endgame Encore, Bocoran 4 Adegan Baru yang Menggoda Fans
-
Jika Boring, Jangan Lupa Touring: Menikmati Lautan Awan di Puncak Malangsari
Terkini
-
Niti Rumat: Ketika Kurator Seni Rupa Tak Hanya Pameran, tapi Juga Merawat Sejarah
-
Bukan Buat Perang, Ini Alasan RI Butuh Kapal Induk
-
Bebas Kilap! 4 Physical Sunscreen Silica untuk Kontrol Sebum Kulit Sensitif
-
HUAWEI MatePad Air 2026: Tablet Tipis dengan Layar OLED 144Hz dan AI untuk Kerja Lebih Cerdas
-
Slow Dating: Tak Mau Terburu-buru atau Menghindari Hubungan Intens di Awal?