Suporter klub sepakbola di Indonesia tercatat memiliki konflik pertama sejak kompetisi musim 1999 hingga 2000-an. Setiap pertangan hampir selalu diakhiri dengan kericuhan.
Mereka selalu memiliki kreativitas untuk menyemangati para pemain dan tidak mengenal lelah untuk terus mendukungnya. Sayangnya, rivalitas antar suporter lebih sering menghasilkan hal-hal yang negatif.
Ada saling ejek di antara klub pendukung melalui lagu, atribut, hingga munculnya keributan yang membuat semakin panas, yang tak jarang berujung pada berakhirnya nyawa seseorang. Pada 2018, banyak rivalitas yang berdampak negatif , yang bukan saja saat menonton pertandingan, tapi juga lewat sosial media.
Pada September 2018, misalnya, ramai dibicarakan korban jiwa yang terjadi akibat rivalitas 2 klub suporter sepakbola yang sangat terkenal. Korban Haringga Sirilla, menghembuskan napas terakhirnya setelah dikeroyok dan dianiaya dengan sadis oleh para oknum menjelang laga Persib vs Persija di Liga 1 2018, di Stadion Gelora Bandung Lautan Api.
Berita tersebut menjadi perbincangan serius PSSI, pemerintah, dan aparat keamanan. Masyarakat pun menyatakan prihatin atas kasus ini.
Masyarakat pun resah dengan sepak terjang para suporter klub sepakbola di Indonesia. Mereka dinilai tidak memiliki rasa kemanusiaan, karena lebih mementingkan dendam.
Ada yang beranggapan, suporter klub sepakbola ini minim pendidikan terhadap Pancasila, nilai norma-norma, dan perilaku kemanusiaan. Mereka jadi dinilai tak bermoral etika kepada orang lain.
Berbagai cara sudah dilakukan untuk mengurangi aksi serupa, namun yang pasti, para suporterlah yang harus bersikap dewasa. Ada sejumlah tips yang bisa dilakukan oleh pihak sekolah, orangtua, dan anak-anak itu sendiri, untuk memulai sebuah persahabatan.
Berikut ada beberapa tips yang dapat dilakukan untuk mengurangi perasaan rivalitas terhadap suporter klub sepakbola, yaitu:
1. Memberikan edukasi khusus bagi suporter, dengan memberikan informasi penting berkaitan dengan etika, perilaku kemanusiaan, dan menjaga norma-norma penting terhadap suporter lain.
2. Para suporter harus sadar untuk saling memaafkan satu sama lain.
3. Walau bertemu satu sama lain, mereka tidak saling mengejek dan melukai suporter lain.
4. Tidak membuat aksi konvoi yang berlebihan.
5. Membuat atribut yang sama, yang bertujuan untuk mendamaikan kedua kubu yang berbeda.
Yuk, berdama! Saling menjujung tinggi sportivitas!
Di dalam permainan pasti ada yang kalah dan yang menang. Mereka yang menang, tidak usah saling mengejek yang kalah, karena sebenarnya ini hanya permainan olahraga.
Bagi yang kalah, tidak usah balas dendam dan baper.Jujung tinggi kekompakan, walaupun beda tim suporter sepakbola, karena Indonesia menganut Pancasila, khususnya sila ke-3, Persatuan Indonesia.
Harapan ke depan, semoga para suporter klub sepakbola bisa mengerti tentang betapa pentingnya sportivitas, menyesali perbuatan yang dilakukan ketika membuat orang lain terluka, dan bisa mengubah pola pikiran bahwa rivalitas yang berlebihan itu tidak ada.
Pengirim: Angelia Miswazudi Radinliew, Mahasiswa London School of Public Relations
Baca Juga
-
Indonesia Masuk 6 Negara dengan Obesitas Rendah di Dunia, Apa Rahasianya?
-
Sinopsis Insidious: Out of the Further, Kisah Baru Elise dengan Teror Seram
-
Rektor Ditangkap KPK: Maba Korban Pemerasan Harus Diselamatkan?
-
Karhutla Kembali Kepung Kalimantan, Ini Dampaknya bagi Iklim
-
Tarif Parkir Rp60 Ribu Jakarta: Bukan soal Angka, tapi Kepercayaan
News
-
Karhutla Kembali Kepung Kalimantan, Ini Dampaknya bagi Iklim
-
Pecah! Gelar Pertunjukan HIVI! Tutup MOKAKU UPI 2026 di Bumi Siliwangi
-
KKN-MAs Kelompok 19 Kenalkan Dimsum Lele untuk PMT Balita di Puthukrejo
-
Tegang Maksimal! Potret Kelam Remaja Kaya Los Angeles Era 80-an dalam Serial The Shards
-
Gabung Grup Maut AVC Women's 2026, Begini Peluang Timnas Voli Putri Indonesia
Terkini
-
Indonesia Masuk 6 Negara dengan Obesitas Rendah di Dunia, Apa Rahasianya?
-
Sinopsis Insidious: Out of the Further, Kisah Baru Elise dengan Teror Seram
-
Rektor Ditangkap KPK: Maba Korban Pemerasan Harus Diselamatkan?
-
Tarif Parkir Rp60 Ribu Jakarta: Bukan soal Angka, tapi Kepercayaan
-
5 Centimeters Per Second: Ketika Cinta Pertama Bertemu dengan Kenyataan