Cukup mengejutkan saat mengetahui bahwa isi buku karya Romo Sindhunata berjudul Mata Air Bulan ini ternyata mengisahkan perjalanan rohani umat Kristiani di lereng Gunung Merapi. Awalnya, sempat muncul keraguan untuk menyelesaikannya. Namun, dengan perasaan netral—tanpa menghujat kepercayaan lain dan tetap berpegang pada prinsip lakum dinukum waliyadin—saya mencoba membacanya. Ternyata, isinya luar biasa dan menyimpan pelajaran hidup yang sangat mahal.
Buku ini aslinya ditulis dalam bahasa Jawa dengan judul Nderek Sang Dewi ing Ereng-Erenging Redi Merapi. Sebelumnya, saya mengenal Sindhunata melalui karyanya, Putri Cina dan Menyusu Celeng. Melalui Mata Air Bulan, saya kembali menemukan pandangan yang segar dan jernih terhadap kehidupan.
Sinopsis: Perjuangan di Lereng Merapi
Buku ini berisi pengalaman perjalanan rohani (lelaku) yang mengisahkan lahirnya sebuah sumur kecil di sebuah gereja desa di lereng Gunung Merapi. Daerah tersebut sangat kering, dihuni oleh penduduk yang mayoritas miskin.
Gereja yang mereka bangun tidak memiliki cukup dana untuk membeli patung Maria yang layak diletakkan di altar. Akhirnya, dengan jerih payah dan ketulusan jemaat Pakem, mereka membuat patung Maria sendiri yang khas pedesaan, yang kemudian dinamai “Ibu Risang Sungkawa”.
Sebelum ditemukan sumur ini, warga sangat kesulitan mendapatkan air, terutama saat musim kemarau. Romo Sindhunata mengisahkan setiap tahap tirakat yang mereka lalui—seperti laku kembang pitu dan laku tuk pitu—dengan sudut pandang sederhana namun sarat makna. Kehidupan orang-orang kecil yang sering kita abaikan justru menjadi sarana untuk menghayati iman yang paling dalam.
Persinggungan Budaya: Ngelmu Susu dan Lakon Bima
Meskipun berlatar gereja, buku ini sangat kental dengan falsafah kehidupan Jawa. Salah satu bagian yang paling berkesan adalah konsep "Ngelmu Susu". Sindhunata menggambarkan kearifan seorang ibu saat menyusui anaknya; ketika sang anak tampak terburu-buru, sang ibu berucap, "Ngger, ojo kesusu" (Nak, jangan terburu-buru).
Pesan ini berlaku universal bagi siapa pun seumur hidup: jangan terburu-buru. Dalam budaya Jawa, sifat kesusu atau terburu-buru justru akan membuat kita tidak mendapatkan hasil yang sejati. Segala sesuatu butuh proses pematangan batin.
Nuansa pewayangan juga hadir sangat kuat, terutama napak tilas perjuangan warga yang mirip dengan lakon Bima Suci saat mencari Air Perwitasari. Sebagaimana Bima yang harus mengarungi samudera demi pencerahan, warga Pakem harus melalui berbagai rintangan batin sebelum menemukan mata air kehidupan mereka. Bahkan, penulis juga menceritakan adanya tirakatan di makam Syekh Jumadil Kubro, menunjukkan betapa cairnya spiritualitas dalam konteks budaya setempat.
Nilai dan Refleksi: Kemiskinan sebagai Keembitran
Melalui tokoh-tokoh seperti Mbok Tukiyem, Mbok Sumo, Mbah Wir, dan Mbok Darmo, kita melihat potret perempuan-perempuan tangguh yang hidup dalam penderitaan sejak lahir, namun tetap bersahaja. Di sini, muncul pemikiran mendalam bahwa menjadi miskin adalah anugerah. Sebagaimana kata Syironi yang meneladani laku Bunda Maria, menjadi orang miskin adalah sebuah "keembitran"—sebuah ruang sunyi tempat manusia belajar menerima, merendah, dan berserah. Dari sanalah lahir kekuatan yang tidak riuh, tetapi teguh. Kita diajak untuk belajar:
Neng, Ning, Nang, Nung: Perjalanan menuju keheningan untuk bersatu dengan Yang Maha Kuasa.
Menjadi Kendi Kosong: Filosofi tentang kepasrahan dan kerelaan untuk memberi, sebuah konsep yang senada dengan Stoikisme.
Penutup
Kisah napak tilas dalam buku ini memberikan banyak pelajaran hidup yang universal, meskipun dibalut dengan ajaran Kristen Jawa yang kental. Pada bagian “Air Mata Celeng”, kita kembali dipertemukan dengan simbolisme kupu-kupu kuning—metafora yang juga muncul dalam karya Sindhunata sebelumnya, seperti Menyusu Celeng dan Putri Cina.
Mata Air Bulan berhasil membumi, menyatukan spiritualitas dengan konteks budaya tanpa kehilangan kedalamannya. Sebuah pengingat bahwa dalam kekurangan, selalu ada kelimpahan makna; dan dalam kesederhanaan, ada kedalaman jiwa yang tak terbatas.
Identitas Buku
Judul: Mata Air Bulan
Penulis: Sindhunata
Tahun Terbit: 2025
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 979-602-2274-3
Baca Juga
-
Dilema Pengantin Baru dan Anekdot Misterius dalam Perempuan Kelabu
-
Siklus Kekuasaan dalam Animal Farm: Cermin Retak Realitas Indonesia
-
Simalakama Plastik: Antara Lonjakan Harga dan Napas UMKM yang Sesak
-
1984: Dialektika Kebebasan di Bawah Cengkeraman Absolutisme Negara
-
Gerundelan Penulis Kere: Kontradiksi Idealisme dan Hegemoni Kapitalisme
Artikel Terkait
-
Pemerintah Luncurkan Buku Saku 0%, Targetkan Kemiskinan Nol Persen
-
Meski Berakhir Mati, Salmon Memilih Bergerak: Merenungi Buku Raditya Dika
-
Mengejar Gitar Legendaris Sunburst 1960 di Buku Andrea Hirata
-
Dari Tanzania ke Tapaktuan: Menaklukkan Diri, Bukan Sekadar Menempuh Jarak
-
Buku Pernah Tenggelam, Batas Tipis Antara Mengidolakan dan Kehilangan Arah
Ulasan
-
Mr. & Mrs. Egois: Saling Mencintai, Tapi Kenapa Harus Saling Menyakiti?
-
Menyorot Tradisi Membaca Buku di Negara Jepang di Buku Aneh Tapi Nyata
-
Violets: Melawan Masa Kecil Kurang Bahagia dari Anak yang Tidak Diinginkan
-
Drama Melo Movie: Refleksi Luka, Kehilangan, dan Keberanian Mencintai Lagi
-
Membaca Realitas di Novel Bekisar Merah: Kala Suara Tak Pernah Diberi Ruang
Terkini
-
Bye Keriput! 5 Body Wash Kolagen untuk Kulit Lebih Kencang
-
Bukan Sekadar Melindungi Rakyat, Ini Alasan Pemerintah Menahan Kenaikan BBM
-
AKMU Temukan Harmoni Hidup di Lagu Terbaru 'Joy, Sorrow, A Beautiful Heart'
-
4 Inspirasi Sporty Look ala Park Min Young, Tetap Chic saat Berkeringat!
-
Ulasan Novel A untuk Amanda, Beban Berat di Balik Nilai Sempurna