Grup musik Ungu baru saja menggelar konser bertajuk “Waktu yang Dinanti” di Sahid Raya Hotel & Convention Yogyakarta pada Sabtu (22/11/2025).
Konser ini berjalan dengan sukses dan meriah, memenuhi kerinduan para penggemar yang telah menantikan kehadiran Ungu di Yogyakarta setelah dua tahun terakhir mereka tidak tampil di kota ini.
Digelar di Indraprasta Grand Ballroom, konser berlangsung penuh nostalgia dan menghadirkan deretan lagu hits yang membawa para penonton kembali ke masa kejayaan band yang telah berkarya hampir tiga dekade.
Para penggemar yang hadir bukan hanya berasal dari Yogyakarta dan sekitarnya. Penonton berdatangan dari berbagai daerah seperti Kalimantan, Gorontalo, Pasuruan, hingga dari negara tetangga Malaysia, menunjukkan kuatnya ikatan emosional antara Ungu dan para Cliquers. Antusiasme mereka langsung terasa sejak awal acara, bahkan sebelum konser dimulai.
Band yang beranggotakan Pasha, Enda, Onci, Makki, dan Rowman membuka konser dengan lagu “Hampa Hatiku”, yang langsung disambut teriakan histeris dari ribuan penonton.
Lagu tersebut menjadi pembuka yang luar biasa meriah dan berhasil menghidupkan suasana ballroom dalam hitungan detik.
Penampilan mereka juga tampak berbeda dari biasanya, karena untuk pertama kalinya dalam perjalanan karier mereka, seluruh personel tampil mengenakan Batik Cirebon, memberikan kesan elegan sekaligus menjadi apresiasi terhadap budaya lokal.
Sepanjang konser, Ungu membawakan total 15 lagu, termasuk “Percaya Padaku”, “Saat Bahagia”, “Kekasih Gelap”, “Tercipta Untukku”, “Cinta Dalam Hati”, hingga “Demi Waktu”.
Setiap lagu yang dibawakan langsung disambut dengan nyanyian bersama para penonton, menciptakan suasana hangat dan penuh kenangan.
Di sela-sela penampilan, Pasha beberapa kali berinteraksi dengan para penggemar. Ia sempat berbagi cerita yang mengundang tawa.
“Banyak yang cerita, dulu saat masih pacaran, banyak yang ‘nembak’ pacarnya atau belajar main gitar menggunakan lagu Ungu. Pertanyaannya, sekarang masih tahu lagu Ungu tidak?" ujarnya.
Pertanyaan itu langsung disambut sorakan dan tawa dari para penonton, membuktikan bahwa karya-karya Ungu masih sangat melekat dalam ingatan mereka.
Momen kehangatan semakin terasa ketika Pasha turun langsung dari panggung untuk menyapa para penonton dari dekat dan berfoto bersama. Aksi ini menjadi salah satu momen paling berkesan dalam konser.
Tak hanya itu, beberapa penonton beruntung juga diajak naik ke panggung untuk bernyanyi bersama Ungu.
Para personel bahkan memberikan pakaian batik yang mereka kenakan kepada sejumlah penggemar, membuat konser ini semakin penuh kejutan dan kedekatan emosional.
Sebagai penutup, Ungu membawakan lagu “Seperti Mati Lampu”. Begitu lagu tersebut dimainkan, suasana ballroom seketika pecah oleh suara ribuan Cliquers yang bernyanyi bersama.
Energi penonton mencapai puncaknya, menjadikan lagu ini sebagai klimaks yang sempurna untuk menutup malam penuh nostalgia, kebersamaan, dan cinta terhadap musik Ungu.
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Ngaku Fans Peterpan, Pasha Ungu Antusias Ditawari Jadi Vokalis
-
Ipar Dituding Numpang Hidup, Ayu Ting Ting Langsung Pasang Badan
-
Swara Prambanan 2025, Tutup Tahun dengan Nada, Budaya, dan Doa
-
Tanpa Kembang Api, Swara Prambanan 2025 Rayakan Tahun Baru dengan Empati
-
Saat Sketsa dan Tulisan Berubah Jadi Aksi Menjaga Mangrove di Pantai Baros
Artikel Terkait
-
Momen Manis Konser Ungu di Jogja: Beri Hadiah Bulan Madu untuk Fans dari Pasuruan
-
Deretan Konser dan Festival Musik Desember 2025, Ada Secondhand Serenade hingga Pesta DWP di Bali
-
Konser Ungu di Yogyakarta Penuh dengan 1.400 Penonton, Ada yang Datang dari Malaysia
-
Termurah Rp 1,25 Juta, Ini Daftar Harga Tiket Konser NCT Wish di Jakarta
-
Kupas Tuntas Konser The 1/9 Tour by eaJ di Jakarta: Musik, Empati, dan Energi
News
-
WFC Gak Se-Estetik di Medsos! Tantangan Pekerja Remote Menepis Stigma Negatif
-
Syukuran Novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati Cetakan ke-100: Ada Extra Chapter dan Bocoran Film!
-
Bekal Penting Sebelum ke Luar Negeri: Cara Calon Pekerja Migran Hindari Jeratan Love Scam
-
Di Balik Viral Novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati, Ada Psikiater yang Ikut Mengawal Cerita
-
Lewat Lensa Kamera, APC Angkat Cerita Kaum Marginal dalam Pameran Fotografi
Terkini
-
Ulasan Novel Periculo: Citra Sempurna, Pengkhianatan, dan Misteri Kematian
-
Stop 'Check Out' Spontan! Ini Alasan Kenapa Payday Kamu Justru Bikin Rumah Berantakan
-
Ketika Sastra Menjadi Kritik Sosial: Membaca Cak Nun Lewat Dosa Mencabut Kutukan Tarian Rembulan
-
Boyfriend Material Vibes, 5 Ide Pose Mirror Selfie Ala Dokyeom SEVENTEEN!
-
Tragedi Kresek Hitam: Sengkarut Sampah Plastik Pasca-Iduladha yang Tak Kunjung Usai