Seperti yang kita tahu, industri per-filman Korea memang tidak ada habisnya. Ada banyak film horor Korea yang membuat kita takut dengan hantu, kutukan, dan makhluk tak wujud.
Namun, Film "The Cursed: Dead Man’s Prey" menawarkan sesuatu yang lebih nyata dimana mayat hidup yang digunakan sebagai alat keadilan atau justru alat kejahatan baru. Film ini tidak sekadar menakuti lewat darah atau zombie, tetapi mempertanyakan bagaimana kekuasaan bisa menghidupkan kembali kematian untuk tujuan yang tidak pernah kita bayangkan.
Secara garis besar film ini bermula dari kasus ganjil dimana terdapat seorang korban pembunuhan ditemukan bersama tersangka yang sudah mati tiga bulan sebelumnya. Tubuh tersangka ada di TKP, lengkap dengan senjata pembunuhan, seolah-olah dia benar-benar hadir dan melakukan aksinya. Dari sinilah misteri dimulai.
Kejadian tersebut, tentu membuat polisi kebingungan, media gempar, dan publik mulai bertanya: bagaimana seseorang bisa melakukan pembunuhan setelah meninggal?
Dalam kekacauan itu, seorang jurnalis investigasi bernama Im Jin Hee (yang diperankan oleh Uhm Ji Won) mendapat telepon dari seseorang yang mengaku sebagai dalang pembunuhan.
Orang itu menantangnya untuk melakukan wawancara eksklusif, bahkan menyampaikan daftar nama calon korban berikutnya. Ia juga memperingatkan dengan santai bahwa para pembunuh yang akan beraksi bukan manusia hidup, melainkan jaechaui (mayat yang dikendalikan melalui ilmu hitam).
Review Film Korea The Cursed: Dead Man’s Prey
Hal yang membuat film ini menarik adalah bagaimana film ini tidak menjadikan supranatural semata sebagai sumber teror. Ia justru menggabungkannya dengan isu sosial: eksperimen perusahaan farmasi, eksploitasi manusia miskin, dan bisnis gelap yang memanfaatkan tubuh manusia bahkan setelah mati.
Sutradara Yeon Sang Ho (Yang menyutradarai film Train to Busan dan Hellbound) yang menggarap film ini kembali berusaha untuk memperlihatkan bahwa horor paling menakutkan bukan yang datang dari kegelapan gaib, melainkan dari keserakahan yang terasa sangat manusiawi.
Menurut penulis, kekuatan film ini terletak pada atmosfer tegang yang tidak terburu-buru. Alih-alih sibuk dengan jumpscare, film ini membangun ketakutan dari rasa tidak berdaya: bagaimana jika sistem hukum bisa dikalahkan dengan sihir?
Apa jadinya ketika tubuh kita tak lagi milik kita setelah mati? Pertanyaan semacam ini membuat ketegangan terasa lebih dalam dibanding sekadar lari dari zombie.
Selain dari sisi konsep, penokohan dalam film ini juga ditampilkan sangat baik. Duet karakter Jin Hee dan Baek So Jin (yang diperankan oleh Jung Ji So) juga menjadi magnet emosional. Jin Hee dengan skeptis dan logikanya, So-jin dengan kemampuan supranatural yang seperti beban trauma.
Keduanya berhasil mewakili dua dunia yaitu, sains dan mistik. Hal ini membuat penonton melihat penyelidikan dari sudut pandang yang tidak hanya rasional, tapi juga spiritual.
Meski begitu, film ini memiliki catatan. Karena berasal dari lanjutan drama berseri, beberapa detail terasa kurang jelas bagi penonton baru yang hanya menonton dari sisi filmnya.
Terdapat juga latar hubungan dan konflik masa lalu yang seolah ingin kita ketahui lebih dalam, tapi tidak bisa dijelaskan dan disajikan dengan tuntas. Namun secara keseluruhan kekurangan itu tidak merusak sensasi misteri dan intensitas ceritanya.
Dengan semua keunggulan ini, skor untuk film ini bagi penulis adalah 4/5. film ini adalah film yang keren secara keseluruhan, maka dari itu penulis berani memberikan skor yang tinggi.
Pada akhirnya, Film The Cursed: Dead Man’s Prey yang tayang tahun 2021 adalah horor yang tidak selesai hanya dengan menakut-nakuti. Ia mengajak kita bertanya "di antara kematian dan keadilan, mana yang sebenarnya lebih kejam?"
Baca Juga
-
Sinopsis Whispering Water, Film Horor Baru yang Dibintangi Kim Hye Yoon
-
Ketika Air Keras Menjadi Pesan: Ancaman Nyata bagi Suara Kritis Demokrasi
-
Terlalu Tua untuk Bekerja? Wajah Ageisme di Dunia Kerja Indonesia
-
Usai 7 Tahun Vakum, Son Dam Bi Siap Comeback Akting Lewat Drama Pendek Baru
-
70% Perempuan Alami Kekerasan di Tempat Kerja, Ini Saatnya Benahi Sistem
Artikel Terkait
-
Tradisi Mengerikan Jawa! Celine Evangelista Bahas Teror di 'Danyang Wingit Jumat Kliwon'
-
Ulasan Film Korea Mantis: Ketika Pembunuh Bayaran Jadi Pekerjaan Tetap
-
5 Film Horor Klasik Terbaik Sepanjang Masa, Tak Kalah dari yang Modern
-
Ulasan Film Emergency Declaration: Teror di Langit dan Pertaruhan Nurani
-
Review Film Legenda Kelam Malin Kundang: Plot Twist Gila Bikin Melongo
News
-
River Ranger Jakarta Pilih Tersesat di Pedalaman Demi Solusi Warga, Kenapa?
-
Rahasia The Power of Habit, Mengapa Niat Saja Tidak Cukup untuk Berubah Jadi Lebih Baik?
-
Studi: Perluasan Ruang Hijau Kota Hanya Redam Sebagian Kecil Kenaikan Suhu, Bagaimana Solusinya
-
Harga Beras Bikin Jantungan? Di Penggilingan Turun, Eh di Pasar Malah Melambung!
-
Berkah Pion di Warung Kopi: Ketika Perang di Papan Hitam Putih Ternyata Bisa Lawan Pikun
Terkini
-
Membaca Dalil-Dalil Agama Gus Dur: Menyusuri Jembatan Keilmuan Islam di Indonesia
-
Di Balik Bendera Besar pada Truk Bantuan: Murni Solidaritas atau Sekadar Pencitraan Global?
-
Misteri Ikan Sapu-Sapu yang Tak Pernah Habis Dibasmi, Ternyata Biang Keroknya Kita Sendiri?
-
Kendala Jadwal, That Time I Got Reincarnated as a Slime S4 Tunda Episode 5
-
Lawan Minyak Berlebih, Ini 4 Face Wash Charcoal Terbaik untuk Pria