M. Reza Sulaiman | Taufiq Hidayat
Cover Buku Tuhan Itu Dikenali, Bukan Dibela. (mizanstore.com)
Taufiq Hidayat

Pernahkah Anda membuka media sosial dan seketika merasa pusing melihat komentar yang bertebaran? Begitu banyak orang marah, berdebat, hingga menyeret nama Tuhan seolah-olah Sang Pencipta membutuhkan pengacara hebat di Mahkamah Konstitusi Jagat Raya.

Jika Anda lelah dengan kegaduhan beragama yang sering kali hanya menyentuh "kulit" tanpa memahami "isi", maka buku karya Emha Ainun Nadjib (Mbah Nun) ini adalah penawar sakit kepala yang mujarab. Efek sampingnya bukan membuat kantuk, melainkan justru membuat hati menjadi lebih "waspada".

Antara Undangan Tuhan dan Lomba Panjat Pinang

Mbah Nun, dengan gaya bicara khasnya—kadang menusuk, kadang memancing tawa, namun selalu penuh cinta—mengundang kita untuk berhenti sejenak. Beliau mengingatkan sesuatu yang kerap terlupakan di era serba viral ini: bahwa hidup bukanlah lomba panjat pinang duniawi. Kita sering kali terengah-engah memanjat pohon pinang berlabel "karier", "popularitas", hingga "klaim kesucian", padahal di puncaknya mungkin hanya ada ego kita sendiri.

Beliau menekankan bahwa hidup bukan tentang siapa yang paling kaya atau tersohor, melainkan siapa yang paling menyadari bahwa setiap langkahnya adalah jawaban atas panggilan Tuhan. Buku Tuhan Itu Dikenali, Bukan Dibela ini menyentil fenomena masa kini; kita sering merasa sedang membela Tuhan saat meneriakkan pendapat atau memenangkan debat.

Namun, benarkah Tuhan Yang Maha Besar membutuhkan pembelaan dari kita yang kecil dan masih sering melupakan rakaat salat? Jangan-jangan, yang kita pertahankan dengan menggebu-gebu itu bukanlah Tuhan, melainkan fanatisme kelompok semata.

Beragama Tanpa "Kebisingan"

Kelebihan utama buku ini adalah penolakannya terhadap cara beragama yang "berisik". Mbah Nun menekankan pentingnya perjalanan batin dan olah akal yang jujur tanpa sedikit pun kesan menggurui. Bahasanya tidak kaku seperti "dosen killer" di ruang sidang skripsi, melainkan hangat layaknya seorang kakek yang sedang mendongeng di teras rumah sambil menyuguhkan singkong rebus. Membaca buku ini rasanya seperti diajak bercermin: apakah selama ini agama hanya berhenti di tenggorokan sebagai suara, atau sudah meresap ke hati sebagai rasa?

Tentu, buku ini memiliki tantangan tersendiri. Bagi mereka yang terbiasa dengan buku agama berstruktur kaku dan kaya argumen tekstual, gaya penulisan Mbah Nun yang sangat filosofis dan penuh metafora mungkin akan terasa membingungkan di awal. Butuh waktu untuk benar-benar meresapi maksud di balik narasi "santai" beliau agar pembaca tidak salah menangkap konteks pemikirannya.

Secara keseluruhan, Tuhan Itu Dikenali, Bukan Dibela bukan sekadar bacaan, melainkan sebuah perjalanan untuk "pulang". Buku ini sangat direkomendasikan bagi Anda yang sedang mencari ketenangan di tengah kebisingan klaim kebenaran. Mari mulai mengenal-Nya lebih intim melalui perilaku sehari-hari, sebelum kita terlalu sibuk membela hal-hal yang sebenarnya sama sekali tidak memerlukan pembelaan kita.

Identitas Buku:

  • Judul: Tuhan Itu Dikenali, Bukan Dibela
  • Karya: Emha Ainun Nadjib
  • Penyunting: Ahmad Najib & Tofik Pram
  • Terbit: November 2025
  • Penerbit: Penerbit Noura Books