Pernahkah Anda membuka media sosial dan seketika merasa pusing melihat komentar yang bertebaran? Begitu banyak orang marah, berdebat, hingga menyeret nama Tuhan seolah-olah Sang Pencipta membutuhkan pengacara hebat di Mahkamah Konstitusi Jagat Raya.
Jika Anda lelah dengan kegaduhan beragama yang sering kali hanya menyentuh "kulit" tanpa memahami "isi", maka buku karya Emha Ainun Nadjib (Mbah Nun) ini adalah penawar sakit kepala yang mujarab. Efek sampingnya bukan membuat kantuk, melainkan justru membuat hati menjadi lebih "waspada".
Antara Undangan Tuhan dan Lomba Panjat Pinang
Mbah Nun, dengan gaya bicara khasnya—kadang menusuk, kadang memancing tawa, namun selalu penuh cinta—mengundang kita untuk berhenti sejenak. Beliau mengingatkan sesuatu yang kerap terlupakan di era serba viral ini: bahwa hidup bukanlah lomba panjat pinang duniawi. Kita sering kali terengah-engah memanjat pohon pinang berlabel "karier", "popularitas", hingga "klaim kesucian", padahal di puncaknya mungkin hanya ada ego kita sendiri.
Beliau menekankan bahwa hidup bukan tentang siapa yang paling kaya atau tersohor, melainkan siapa yang paling menyadari bahwa setiap langkahnya adalah jawaban atas panggilan Tuhan. Buku Tuhan Itu Dikenali, Bukan Dibela ini menyentil fenomena masa kini; kita sering merasa sedang membela Tuhan saat meneriakkan pendapat atau memenangkan debat.
Namun, benarkah Tuhan Yang Maha Besar membutuhkan pembelaan dari kita yang kecil dan masih sering melupakan rakaat salat? Jangan-jangan, yang kita pertahankan dengan menggebu-gebu itu bukanlah Tuhan, melainkan fanatisme kelompok semata.
Beragama Tanpa "Kebisingan"
Kelebihan utama buku ini adalah penolakannya terhadap cara beragama yang "berisik". Mbah Nun menekankan pentingnya perjalanan batin dan olah akal yang jujur tanpa sedikit pun kesan menggurui. Bahasanya tidak kaku seperti "dosen killer" di ruang sidang skripsi, melainkan hangat layaknya seorang kakek yang sedang mendongeng di teras rumah sambil menyuguhkan singkong rebus. Membaca buku ini rasanya seperti diajak bercermin: apakah selama ini agama hanya berhenti di tenggorokan sebagai suara, atau sudah meresap ke hati sebagai rasa?
Tentu, buku ini memiliki tantangan tersendiri. Bagi mereka yang terbiasa dengan buku agama berstruktur kaku dan kaya argumen tekstual, gaya penulisan Mbah Nun yang sangat filosofis dan penuh metafora mungkin akan terasa membingungkan di awal. Butuh waktu untuk benar-benar meresapi maksud di balik narasi "santai" beliau agar pembaca tidak salah menangkap konteks pemikirannya.
Secara keseluruhan, Tuhan Itu Dikenali, Bukan Dibela bukan sekadar bacaan, melainkan sebuah perjalanan untuk "pulang". Buku ini sangat direkomendasikan bagi Anda yang sedang mencari ketenangan di tengah kebisingan klaim kebenaran. Mari mulai mengenal-Nya lebih intim melalui perilaku sehari-hari, sebelum kita terlalu sibuk membela hal-hal yang sebenarnya sama sekali tidak memerlukan pembelaan kita.
Identitas Buku:
- Judul: Tuhan Itu Dikenali, Bukan Dibela
- Karya: Emha Ainun Nadjib
- Penyunting: Ahmad Najib & Tofik Pram
- Terbit: November 2025
- Penerbit: Penerbit Noura Books
Baca Juga
-
Surat Kecil Untuk Tuhan: Janji dan Misteri di Balik Persahabatan
-
Membaca Tanah Surga Merah Karya Arafat Nur: Satire Sengit Penguasa Daerah
-
Kritik Novel Bukan Perawan Maria: Antara Gagasan Berani dan Narasi Tanggung
-
Membaca Al-Asbun Karya Pidi Baiq: Ketika Keisengan Menjelma Filosofi Hidup
-
Bukan Hanya Sapi atau Kambing: Sudahkah Anda Menyembelih 'Sifat Binatang' di Dalam Diri?
Artikel Terkait
-
Mau Glowing Luar Dalam? Cobain 200 Resep Sehat JSR dari dr. Zaidul Akbar
-
Membunuh Literasi, Membunuh Demokrasi: Saat Akses Bacaan Dicekik Negara
-
Ulasan Buku Anya's Ghost,Persahabatan Beracun dari Alam Baka
-
Seni Memilah Prioritas di Buku Mencari Intisari Karya Sherly Annavita
-
Buku Pesan Cinta untuk Diriku: Sumber Cinta Terbesar Ada di Dalam Diri
Ulasan
-
Mati Berkali-kali, Tetap Harus Masuk Kerja: Dilema Eksistensi dalam Mickey7
-
Review Film Faces of Death: Versi Remake yang Lebih Intens dan Realistis!
-
Bukan Sekadar Perebutan Emas, Gold Land Juga Menyoroti Sisi Gelap Manusia
-
Surat Kecil Untuk Tuhan: Janji dan Misteri di Balik Persahabatan
-
Buku Ya Tuhan, Desain Grafis, Deadline, Doa: Curhat Absurd Pekerja Kreatif
Terkini
-
Infinix HOT 70 Meluncur di Indonesia, Andalkan Helio G100 Ultimate dan Desain Dynamic Shine Unik
-
Dukung Gerakan Cegah Tindakan Bunuh Diri, Doyoung NCT Donasi Rp 1,1 Miliar
-
Sinopsis The First Jasmine, Drama Kolosal Bai Lu dan Ryan Cheng Tayang 9 Juni
-
Sinopsis Emily to Maria, Drama Komedi Jepang Dibintangi Marika Matsumoto
-
Lebih dari 1.000 Lampion akan Terangi Langit Borobudur saat Waisak 2026