Marty Supreme adalah film sports comedy-drama Amerika tahun 2025 yang disutradarai oleh Josh Safdie, yang juga menulis skenario bersama Ronald Bronstein. Film ini menandai debut solo Safdie setelah kolaborasinya dengan saudaranya, Benny, dalam film seperti Uncut Gems.
Diproduksi oleh A24, film ini menampilkan Timothée Chalamet sebagai pemeran utama, didukung oleh ensemble cast yang mengesankan termasuk Gwyneth Paltrow, Odessa A'zion, Fran Drescher, Tyler, the Creator (sebagai Tyler Okonma), Kevin O'Leary, serta penampilan khusus dari figur seperti Abel Ferrara dan Sandra Bernhard. Dengan durasi sekitar 150 menit, Marty Supreme menggabungkan elemen drama ambisi, komedi slapstick, dan thriller olahraga, yang semuanya dibalut dalam estetika retro 1950-an yang kacau dan energik.
Sinopsis: Awal Perjuangan di Bawah Tanah New York
Cerita berpusat pada Marty Mauser (Chalamet), seorang pemuda Yahudi di New York City yang bekerja sebagai penjual sepatu sambil mengejar mimpi menjadi juara dunia pingpong. Terinspirasi secara longgar dari kehidupan pemain tenis meja legendaris Marty Reisman, Marty digambarkan sebagai underdog ambisius yang tak kenal lelah.
Ia menghadapi tantangan dari kompetitor tangguh seperti Koto Kawaguchi (diperankan oleh Koto Kawaguchi sendiri), hubungan rumit dengan Rachel Mizler (A'zion)—teman masa kecil yang sudah menikah—dan Kay Stone (Paltrow), seorang aktris Hollywood yang misterius. Marty harus melakukan hustle, berbohong, dan memanipulasi orang-orang di sekitarnya untuk mencapai puncak, sambil bergulat dengan isu kelas sosial, identitas, dan ambisi beracun. Plotnya bergerak seperti permainan pingpong itu sendiri: cepat, tak terduga, dan penuh twist, mulai dari New York hingga London dalam kompetisi internasional.
Review Film Marty Supreme
Salah satu kekuatan utama film ini adalah penampilan Chalamet. Aktor yang pernah masuk nominasi Oscar ini memberikan performa terbaiknya dengan menggabungkan karisma licik, energi gila, dan kerentanan emosional. Marty adalah antihero yang menawan tetapi menjengkelkan—seseorang yang bisa keluar dari masalah apa pun dengan bualannya, tetapi juga destruktif bagi orang sekitar. Chalamet, yang kabarnya berlatih pingpong selama enam tahun, membuat adegan pertandingan terasa autentik dan intens, lebih mirip aksi thriller daripada olahraga biasa.
Paltrow, yang kembali ke layar lebar setelah absen lama, memberikan nuansa mendalam pada karakter Kay yang bijak, sementara A'zion muncul sebagai talenta baru dengan chemistry kuat bersama Chalamet. Drescher sebagai ibu manipulatif dan Tyler, the Creator sebagai teman setia terasa kurang tereksplorasi (underutilized), namun kontribusi mereka menambah warna komedi yang segar.
Safdie menyutradarai dengan gaya khasnya: frenetik, disorientasi, dan penuh energi. Ia menggunakan bahasa sinematik ala film 1970-an—kamera yang jittery serta needle drops dari era 1980-an seperti Public Image Ltd. dan Peter Gabriel—untuk menciptakan rasa ketidakpastian yang mencerminkan pikiran Marty. Sinematografi oleh Darius Khondji menangkap detail era 1950-an dengan indah, dari ruang bawah tanah New York yang kumuh hingga hotel mewah di London. Tema ambisi beracun dan "Mimpi Amerika" dieksplorasi dengan cerdas, meski kadang terasa lebih seperti potret psikologis daripada narasi linier.
Kekurangan dan Kesimpulan
Akan tetapi, film ini bukan tanpa kekurangan. Menurut saya, film ini terkadang terasa plotless atau meandering, di mana narasi terlalu bergantung pada momentum daripada struktur yang ketat. Durasi 2,5 jam terasa agak panjang di bagian tengah dengan subplot romantis yang kadang klise. Transisi dari komedi slapstick ke drama serius pun terkadang terasa janggal.
Meski begitu, Marty Supreme berhasil menjadi pengalaman imersif yang mengkritik ego dan ekses, sambil tetap merayakan semangat underdog. Akting Chalamet sangat infectiously charismatic dan menjadikan film ini sebagai propulsive epic.
Di Indonesia, Marty Supreme tayang di bioskop mulai 25 Februari 2026, dengan rating 17+. Film ini mendapatkan 9 nominasi Oscar 2026, membuatnya wajib tonton bagi penggemar drama olahraga. Secara keseluruhan, ini adalah pencapaian sinematik yang energik dari Safdie dan pembuktian Chalamet sebagai bintang yang tak tergantikan. Jika Anda menyukai film seperti The Wolf of Wall Street atau Uncut Gems, film ini akan memuaskan hasrat Anda akan cerita ambisi yang gila.
Rating Pribadi: 8/10
Baca Juga
-
Review Lift: Film Thriller Lokal dengan Akting yang Menarik dan Emosional
-
Review Film Iron Lung: Markiplier Sukses Hadirkan Ketegangan Tanpa Jumpscare Berlebih
-
Ulasan Film Rajah: Teror Mistis Jawa yang Intens dan Mencekam!
-
Review Film The Last Supper: Drama Rohani yang Sederhana dan Menyentuh Iman
-
Film Wildcat: Trope Klasik dalam Kemasan Modern yang Menegangkan!
Artikel Terkait
-
Review Lift: Film Thriller Lokal dengan Akting yang Menarik dan Emosional
-
Review Film Iron Lung: Markiplier Sukses Hadirkan Ketegangan Tanpa Jumpscare Berlebih
-
Review Film Lift Menang Award Internasional, Tapi Eksekusinya Kurang Menggigit?
-
Review Film The Last Supper: Drama Rohani yang Sederhana dan Menyentuh Iman
-
Review Film The Secret Agent: Kisah Thriller Rezim Orde Baru Brasil
Ulasan
-
Tuhan Nggak Butuh Pengacara: Belajar Beragama "Santuy" tapi Berisi Bareng Mbah Nun
-
Mau Glowing Luar Dalam? Cobain 200 Resep Sehat JSR dari dr. Zaidul Akbar
-
Ulasan Buku Anya's Ghost,Persahabatan Beracun dari Alam Baka
-
Belajar Mengelola Emosi dari Dalam Diri Lewat Film Inside Out 2
-
Buku Pesan Cinta untuk Diriku: Sumber Cinta Terbesar Ada di Dalam Diri
Terkini
-
Tips PDKT Lewat Gelas: Anime Botan Kamiina Siap Bikin Kamu "Mabuk" Cinta di April 2026!
-
Dilema Midnight Sale Jelang Lebaran: Pilih Tidur Nyenyak atau Checkout Seragam Keluarga Estetik?
-
Tinggalkan Agensi, Voice Actor Yuki Kaji Luncurkan Proyek AI Soyogi Fractal
-
3 Pilihan Parfum Mykonos dengan Aroma Powdery yang Lembut dan Elegan
-
Seni Curhat ke Orang Tua: Baru Ngomong "A", Eh Nasihatnya Sudah Sampai "Z"