Banjir yang kembali melanda sejumlah wilayah di Aceh bukan sekadar peristiwa alam yang membawa kerugian material.
Ia merupakan ujian kemanusiaan, sekaligus cermin tentang bagaimana sebuah masyarakat merespons krisis.
Di tengah rumah-rumah yang terendam, akses yang terputus, dan denyut ekonomi yang melambat, Aceh kembali menunjukkan bahwa musibah kerap membuka ruang luas bagi lahirnya kebaikan.
Dalam situasi darurat, solidaritas sosial masyarakat Aceh tampil nyata.
Warga bergotong royong mengevakuasi lansia dan anak-anak, dapur umum berdiri dari swadaya, sementara masjid dan meunasah bertransformasi menjadi pusat pengungsian sekaligus distribusi bantuan.
Kebaikan tidak berhenti pada simpati, tetapi menjelma menjadi tindakan konkret. Di titik ini, banjir bukan hanya bencana, melainkan momentum kebersamaan.
Peran relawan dan komunitas menjadi penopang penting. Anak-anak muda turun langsung membersihkan lumpur, menyalurkan logistik, hingga menggalang donasi melalui platform digital.
Media sosial yang sering dipenuhi konten hiburan berubah menjadi ruang koordinasi bantuan dan penyebaran informasi darurat.
Banjir Aceh, dalam konteks ini, memberi pelajaran berharga bagi generasi muda tentang empati, kepemimpinan, dan kerja kolektif.
Namun, peluang kebaikan tidak seharusnya berhenti pada fase tanggap darurat.
Musibah ini juga mesti dibaca sebagai peringatan keras tentang pentingnya mitigasi bencana dan kesadaran lingkungan.
Alih fungsi lahan, berkurangnya daerah resapan air, serta tata kelola lingkungan yang belum optimal kerap memperparah dampak banjir.
Kebaikan perlu “naik kelas”—dari bantuan sesaat menuju komitmen jangka panjang untuk pencegahan.
Kolaborasi Pemerintah dan Masyarakat
Di sinilah peran negara dan kolaborasi lintas sektor menjadi krusial. Seperti yang dilakukan Kementerian Pekerjaan Umum (PU) yang mulai membersihkan sarana pendidikan di Kabupaten Aceh Tamiang pascabanjir bandang.
Upaya ini melibatkan BUMN Karya, puluhan alat berat, serta dukungan personel Tentara Nasional Indonesia (TNI) demi mempercepat pemulihan aktivitas belajar mengajar dan akses masyarakat.
Sejalan dengan apa yang disampaikan Menteri PU Dody Hanggodo mengenai pentingnya kerja bersama agar pemulihan berjalan efektif. Dan Fokus pada pemulihan aksesibilitas, pembersihan kawasan terdampak, dan percepatan normalisasi aktivitas warga menjadi bukti bahwa kebaikan juga dapat hadir dalam bentuk kebijakan dan aksi struktural. Bantuan bukan hanya soal logistik, tetapi juga keberlanjutan hidup warga terdampak.
Bina Merga menjadi salah satu lembaga pemerintah yang sangat aktif membantu masyarakat terutama pascabanjir yang melanda Aceh.
Salah satu fokus utama adalah pemulihan infrastruktur strategis, termasuk Jembatan Krueng Tingkeum yang berada di jalur nasional Banda Aceh–Medan dan menjadi akses utama mobilitas warga serta distribusi logistik.
Perbaikan konektivitas tersebut diwujudkan melalui pembangunan jembatan darurat tipe bailey sepanjang 66 meter.
Jembatan Krueng Tingkeum resmi difungsikan kembali pada Sabtu, 27 Desember 2025, menandai berakhirnya kelumpuhan arus lalu lintas di ruas jalan nasional yang selama ini menjadi tulang punggung pergerakan ekonomi wilayah Bireuen dan sekitarnya.
Keberadaan jembatan ini sangat krusial karena menjadi urat nadi utama aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat.
Banjir Aceh juga memperlihatkan bahwa kepedulian tak mengenal batas wilayah. Bantuan mengalir dari berbagai daerah, memperkuat rasa persaudaraan antarsesama anak bangsa. Sekat-sekat sosial mencair, digantikan oleh semangat gotong royong yang menjadi identitas kolektif.
Pada akhirnya, banjir memang membawa luka, tetapi juga pelajaran berharga. Bahwa di tengah keterbatasan, manusia masih mampu memilih untuk peduli. Selama peluang kebaikan terus dirawat—oleh masyarakat, relawan, dan negara—Aceh tidak hanya akan pulih dari banjir, tetapi bangkit dengan kekuatan sosial yang lebih kokoh dan bermakna.
Penulis: Ilman Nafian
Baca Juga
-
Misteri di Balik Lampu Jalan yang Selalu Menyala Sendiri
-
Diceritakannya Angan itu Kepada Angin
-
Novel 'Makhluk Bumi': Sebuah Luka yang Dinormalisasi
-
4 Drama dan Film Korea yang Dibintangi Kang Hyung Suk, Layak Ditonton!
-
4 HP dengan Kualitas Kamera Terbaik Setara Flagship 2026, Harga Mulai Rp 3 Jutaan
Artikel Terkait
News
-
Misteri di Balik Lampu Jalan yang Selalu Menyala Sendiri
-
Educatopia Expo 2026 Hadir di Mojokerto, Jadi Ruang Eksplorasi Pendidikan dan Minat Generasi Muda
-
Ridwan Kamil dan Atalia Praratya Resmi Bercerai, Tak Ada Masalah Gono-Gini?
-
Pemulihan Infrastruktur Sukses, Senyum Aceh Balik Kembali
-
Asa Menuju Pulih Pasca Bencana Sumatra
Terkini
-
Diceritakannya Angan itu Kepada Angin
-
Novel 'Makhluk Bumi': Sebuah Luka yang Dinormalisasi
-
4 Drama dan Film Korea yang Dibintangi Kang Hyung Suk, Layak Ditonton!
-
4 HP dengan Kualitas Kamera Terbaik Setara Flagship 2026, Harga Mulai Rp 3 Jutaan
-
4 Inspirasi Daily OOTD ala Hwasa untuk Penampilan Mature dan Stylish!