Di tengah dunia yang bergerak cepat dan algoritma yang semakin kuat, terdapat sebuah pertanyaan besar yang kemudian membayangi generasi muda: Apa yang tersisa dari kita ketika teknologi mengambil alih segalanya?
Laporan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) tahun 2025 mengungkapkan fakta yang cukup menggetarkan. Sebanyak 60,6% siswa merasa cemas menghadapi masa depan setelah menyelesaikan pendidikan formal. Ketakutan ini bukanlah tanpa alasan. Kehadiran Artificial Intelligence (AI) yang mendisrupsi lapangan kerja, ditambah tekanan media sosial yang memaksa perbandingan diri, membuat Gen Z menjadi tidak percaya diri.
Mengapa Kecemasan Ini Begitu Nyata?
Menurut studi dari National Institutes of Mental Health (NIH) kecemasan pada anak muda sering kali bersumber dari interaksi kompleks antara faktor biologis, seperti perkembangan otak dan genetika, serta tekanan eksternal. Pemicu utamanya meliputi tekanan akademik, penggunaan media sosial, serta ketidakpastian masa depan.
Ketika teknologi saat ini mengambil alih tugas-tugas teknis, mereka kemudian merasa takut akan hilangnya relevansi manusia di masa depan. Ditambah lagi dengan fenomena social comparison di media sosial, yakni cenderung membandingkan kekurangan dirinya dengan pencapaian-pencapaian orang lain yang tampak sempurna.
Lalu, apa yang harus dilakukan ketika rasa percaya diri itu mulai hilang?
Menavigasi Kehilangan Arah
Para ahli menyarankan agar kita mulai mengalihkan fokus dari apa yang tidak bisa kita kontrol, seperti kecepatan teknologi atau pencapaian orang lain, ke apa yang bisa kita kontrol, yakni nilai-nilai inti kita. Saat percaya diri memudar, solusi terbaik bukanlah mengejar validasi dari luar, melainkan melakukan refleksi mendalam ke dalam diri.
Hal ini sejalan dengan apa yang akan dibahas oleh Co-Founder Bumiterra, Tara Susanto, dalam gelaran TEDxSampoerna University 2026 pada 7 Maret mendatang. Ia percaya bahwa di tengah ketidakpastian, jawaban yang paling kuat ada pada pilihan-pilihan yang kita ambil untuk melayani sesama.
“Di balik semua prestasi, sebenarnya kita selalu dihadapkan oleh pilihan: apakah menguntungkan diri sendiri, atau menguntungkan semua orang. Kalau kalian memilih jalan yang bisa menguntungkan orang lain, itu baru namanya value,” ungkap Tara.
Menemukan Kembali Fondasi Diri
Ketika rasa percaya diri goyah, cara untuk bangkit adalah dengan membingkai ulang kecemasan tersebut menjadi strategi pengembangan diri yang konkret. Alih-alih melihat AI sebagai musuh, kita harus melihatnya sebagai alat yang membantu kita fokus pada sisi kemanusiaan layaknya empati, kreativitas, dan kepemimpinan.
Melalui tema “AfterAll: What Remains Beneath”, TEDxSampoerna University 2026 hadir untuk membantu para peserta meninjau kembali nilai inti dan relasi kemanusiaan yang mereka bangun. Karena pada akhirnya, ketika tren dan teknologi datang silih berganti, fondasi yang benar-benar menopang hidup kita adalah apa yang tersisa di dalam diri kita sendiri.
Tara berpesan, “Pilihlah untuk menjadi orang baik!” Ini menjadi sebuah pengingat sederhana bahwa di tengah dunia yang makin mekanis, kebaikan dan kemanusiaan adalah bentuk perlawanan terbaik terhadap rasa cemas.
Baca Juga
-
Metode Baca Bareng di Taman: Cara Ibu-Ibu Jagakarsa Mengajarkan Anak Mencintai Buku Tanpa Paksaan
-
Satu Tante yang Teredukasi Bisa Berdayakan Satu Keluarga, Gimana Caranya?
-
Lari dari Adiksi Gawai dan Stres Domestik: Para Ibu di Klabu Temukan Kewarasan Lewat Literasi
-
Dear Tante: Saat Sosok "Aunty" Hadir Menjadi Support System Hangat bagi Ibu Baru
-
Fenomena 'Digital to Reality': Mengapa Interaksi Online Jadi Kunci Konser Artis Mancanegara?
Artikel Terkait
-
Bukan Sekadar Jabatan, Ini Tantangan Karier Gen Z di Era Otomatisasi
-
Solidaritas Mokel Berjamaah, Mengapa Jadi Tren?
-
Tanpa Tim HR, UKM Kini Bisa Rekrut Karyawan Pakai AI
-
LPDP Ungkap Beasiswa Kini Fokus ke Program STEM, AI-Semikonduktor, hingga Hilirisasi
-
Harga Laptop AI Murah 2026 Turun Drastis! Axioo Hype AI 5 Resmi Rilis, Pakai Intel Core Ultra
News
-
Gebrakan Baru! Sinema Desa Resmi Disulap Jadi Motor Ekonomi Baru di 2026
-
Vredeburg Game On, Arena Edukasi Anak Panti oleh Loka Bestari
-
Jalan Sore Pukul Panci, Suara Ibu Indonesia Protes MBG di Jogja
-
Belum Wisuda, Puluhan Lulusan MMTC Yogyakarta Sudah Terserap Dunia Kerja
-
Bakar Semangat Juang, Plt Ketum PPAD Turun Langsung Kawal Atlet Golf di Surabaya
Terkini
-
Bebas Kemerahan, 5 Sunscreen Korea Cica yang Bikin Kulit Calm dan Lembap
-
Manga You Are a Four Leaf Clover Diadaptasi ke Anime
-
Skincare Routine ke Beauty Consumerism: Self-Care Dijadikan Alasan Belanja?
-
Bertabur Bintang! Kim Yeon Koung, Lee Junho, dan Kazuha Resmi Jadi Staf Baru di Kian's Bizarre B&B 2
-
Bukan Hanya Romance: Bagaimana Trilogi 'Before' Memotret Realisme Hubungan