Ada sebuah kutipan yang sangat populer dan menjadi "paspor" bagi siapa saja yang ingin tidur tanpa gangguan selama Ramadan: "Tidurnya orang berpuasa adalah ibadah."
Kalimat tersebut sakti sekali. Ia bisa mengubah perasaan berdosa menjadi perasaan takwa hanya dalam satu kali tarikan selimut. Namun, bagi saya pribadi, kalimat itu seringkali justru menjadi awal dari sebuah pergulatan batin yang cukup melelahkan.
Setiap kali saya terbangun pada pukul empat sore setelah terlelap sejak selesai salat Dhuhur, ada dua suara yang berebut ruang di kepala saya. Suara pertama—sebut saja si Malaikat Santai, ia berbisik, "Tenang, tubuhmu butuh istirahat. Kamu sedang menabung energi untuk Tarawih nanti malam."
Tapi tak lama, suara kedua—si Mandor Produktivitas, menyahut dengan sinis, "Ibadah apa? Kamu cuma malas! Lihat, setengah hari terbuang tanpa satu halaman pun pekerjaan yang selesai!"
Inilah yang saya sebut sebagai "Rasa Bersalah Tidur Seharian". Sebuah fenomena psikologis di mana kita merasa seperti kriminal hanya karena kita memberikan hak tubuh untuk beristirahat.
Ramadan memang mengubah ritme biologis kita secara ekstrem. Kita bangun di malam hari, beraktivitas dengan perut kosong, dan tetap dituntut profesional di kantor atau kampus. Maka, secara logika, tidur siang adalah kompensasi yang sangat adil. Namun, masalahnya muncul ketika tidur itu bukan lagi menjadi "tombol refresh", melainkan menjadi "tombol escape".
Saya sering berpikir, di bawah batas antara tidur yang bernilai ibadah dan tidur yang merupakan bentuk pengungsi dari tanggung jawab itu seperti apa?
Tidur menjadi ibadah ketika tujuan adalah agar kita kuat menjalankan perintah Tuhan yang lain. Kita tidur supaya tidak emosional saat bekerja, supaya tidak lemas saat mengaji, atau supaya tetap fokus saat menyetir pulang.
Tapi, jika kita tidur dari jam 9 pagi sampai adzan Maghrib hanya karena kita enggan berangkat dengan rasa lapar dan haus, bukankah itu berarti kita sedang "mencurangi" esensi puasa itu sendiri? Bukankah puasa justru melatih kita untuk tetap “hidup” dan berdaya di tengah keterbatasan?
Namun, di sisi lain, saya juga mencoba lebih lembut pada diri saya sendiri. Kita hidup di dunia yang sangat meningkatkan produktivitas. Kita sering merasa tidak berharga jika tidak menghasilkan sesuatu setiap jamnya. Ramadhan sebenarnya hadir untuk memutus rantai itu. Mungkin, rasa bersalah yang kita rasakan saat tidur itu muncul karena kita terlalu terbiasa memandang manusia sebagai “mesin”, bukan sebagai makhluk yang punya batas lelah.
Tidur di siang hari saat Ramadhan adalah momen yang sangat jujur. Di dalam tidur, semua orang setara. Tidak ada yang lebih kaya atau lebih rajin; semua hanya raga yang sedang diam. Ada keheningan yang luar biasa saat aku terbangun di sore hari, melihat cahaya matahari yang mulai miring masuk lewat jendela, dan menyadari bahwa aku masih diberi napas. Di situ, rasa maaf saya perlahan mencair menjadi rasa syukur.
Triknya agar tidak terjebak dalam rasa bersalah yang akut adalah dengan membuat "kontrak" dengan diri sendiri. Saya mengizinkan diri saya tidur siang, tapi dengan durasi yang masuk akal, katakanlah satu jam. Dengan begitu, saya mendapatkan kesegaran fisik tanpa kehilangan integritas sebagai manusia yang masih punya tugas untuk diselesaikan.
Kita tidak perlu menjadi "superhero" yang tidak perlu tidur demi terlihat alim. Tapi kita juga tidak boleh membiarkan bulan suci ini terlewat begitu saja hanya dalam alam mimpi.
Tidur memang bisa jadi ibadah, tapi bangun dan menghadapi rasa lapar dengan senyuman adalah tingkat ibadah yang jauh lebih tinggi. Jadi, silakan pasang alarm Anda sekarang. Tidurlah sebentar untuk memulihkan nyawa, lalu bangunlah untuk menjemput pahala yang tersebar di luar sana.
Sudahkah Anda memaafkan diri sendiri atas tidur siang yang agak kebablasan tadi, atau justru bersiap-siap untuk menarik selimut lagi?
Baca Juga
-
Putaran Tanpa Arah Menjelang Magrib: Pelajaran Kecil dari Jalanan yang Saya Dapat Saat Ngabuburit
-
Scroll, Klik, Ngiler! Cara Menyiksa Diri di Aplikasi Makanan saat Ramadan
-
Menggugat Adab Membangunkan Sahur: Atas Nama Tradisi, Bolehkah Teriak-teriak?
-
Logika vs Durhaka: Mengapa Berargumen Sering Kali Dianggap Tidak Tahu Adab?
-
Kulkas yang Mendadak Jadi Obesitas di Bulan Suci
Artikel Terkait
Kolom
-
Solidaritas Mokel Berjamaah, Mengapa Jadi Tren?
-
Atas Nama Sahur, Sampai Kapan Kebisingan yang Kehilangan Adab Dimaklumi?
-
Minta Maaf di Era Broadcast: Kegelisahan Pribadi Menjelang Idulfitri
-
Rangkap Jabatan dan Hukum: Mengapa Guru Honorer yang Dipidanakan?
-
Katanya Masa Depan Bangsa, tapi Kok Nyawa Anak Seolah Tak Berharga?