Akhir tahun yang panjang tahun 2025 ini sangat dirasakan warga Sumatra saat ini. Khususnya untuk Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat pasca-bencana. Bagaimana tidak, momen yang seharusnya jadi waktu liburan keluarga ke tempat indah justru berpindah ke pengungsian.
Media sosial menjadi tontonan pilu sejak akhir November 2025 karena penuh pemberitaan di wilayah utara dan tengah Pulau Sumatra. Bencana ini dipicu oleh Siklon Tropis Senyar dan curah hujan yang ekstrem sehingga memicu banjir bandang, luapan sungai, dan tanah longsor.
Peristiwa ini adalah bencana berskala besar karena bukan hanya material yang lenyap tapi juga ribuan nyawa. Per tanggal 28 Desember 2025, telah tercatat 1.138 korban yang tewas dan 163 jiwa yang dinyatakan hilang. Data tersebut dihimpun oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Berdasarkan data BNBP diketahui ada 399,2 ribu jiwa yang tercatat di pengungsian, dimana 377,9 ribu jiwa di antaranya berada di daerah Aceh, 9,9 ribu jiwa di Sumatra Barat dan 11,4 ribu jiwa di Sumatra Utara. Sebanyak 3.188 fasilitas pendidikan rusak, 99 jalan dan 97 jembatan terputus.
Akses kesehatan pun sulit karena sebanyak 215 fasilitasnya juga terdampak. Tentu saja semua aspek kehidupan menjadi lumpuh di daerah yang mengalami bencana sebesar ini. Akomodasi, mata pencaharian, fasilitas umum yang dibutuhkan sangat sulit diperoleh. Mau tak mau mereka hanya mengandalkan bantuan.
Satu bulan pasca bencana sudah adakah perubahan di Sumatra?
Tumpukan lumpur dan serpihan sisa bencana mulai diurai dan dibersihkan. Sedikit demi sedikit perbaikan mulai terlihat. Akses yang terputus mulai disambung kembali, mungkin butuh waktu lebih lama tapi ini adalah langkah terbaik yang sudah dilakukan. Ratusan alat berat dan material pendukung segera dikerahkan menuju akses utama di daerah yang paling terdampak.
Aksi tanggap darurat dari pemerintah pun dimulai khususnya Direktorat Jenderal Bina Marga, Kementerian Pekerjaan Umum.
Bisa dilihat dengan adanya pemulihan infrastruktur di sejumlah daerah. Salah satunya Oprit jembatan Krueng Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya merupakan prasarana vital yang putus diterjang banjir kini sudah bisa berfungsi kembali. Bahkan jalan di sekitar jembatan yang tertimbun lumpur tebal pun juga sudah dibersihkan.
Ruas Jalan Nasional Batas Kabupaten Pidie Jaya-Kota Bireuen tepatnya di Kecamatan Meurah Dua, Pidie Jaya sudah dilakukan pembersihan sepanjang 14,21 km. Mulai dari KM 157+025 hingga KM 171+235 telah dilakukan penanganan pembersihan jalan dari sisa-sisa bencana. Alat berat dikerahkan agar pembenahan bisa dilakukan lebih efektif sehingga bisa segera dilanjutkan ke titik yang terdampak lainnya.
Daerah Sumatra Barat pun tak luput dari perhatian, penanganan putusnya jalan provinsi ruas Sicincin-Simpang Balingka di Kecamatan Malalak, Kabupaten Agam menjadi fokus utama. Titik darurat percepatan pembangunan saat ini adalah jembatan Malalak yang terputus di KM 74+800 akibat diterjang banjir Sungai Batang Aia Malalak.
Rencananya akan dibangun jembatan darurat tipe Armco (Bailey) agar akses dasar masyarakat segera kembali sembari pemulihan secara permanen dilakukan.
Proses pemulihan tersebut masih terus berjalan sampai keadaan kembali stabil. Pemulihan daerah pasca-bencana saat ini sudah pasti membutuhkan perhatian penuh dan menyeluruh.
Karena semua kebutuhan perlu diakses kembali sehingga perbaikan harus segera dilakukan. Terlebih akses jalan dan jembatan yang merupakan urat nadi pergerakan masyarakat untuk menuju pusat kesehatan, pendidikan dan juga memperoleh kebutuhan pokok.
Fokus perbaikan konektivitas ini bisa segera tercapai jika adanya sinergi semua pihak. Baik pemerintah pusat maupun daerah, TNI/Polri, masyarakat dan lain sebagainya. Apalagi prasarana ini sangat dibutuhkan untuk memudahkan pendistribusian logistik sampai ke tujuan, terlebih bagi korban yang berada di daerah sulit dijangkau.
Satu bulan berlalu, harapan mulai tumbuh. Proses pemulihan mulai terlihat dan dapat dirasakan. Saat ini terlihat mobilitas masyarakat sedikit demi sedikit mulai bisa bergerak. Semoga proses perbaikan yang terus dilakukan tidak mengalami hambatan sehingga keadaan Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Selatan menjadi normal kembali.
Mari dukung Sumatra dengan doa dan aksi nyata. Donasi, sebar informasi, dan mendoakan juga tidak luput dilakukan. Semua bisa jadi pelipur bagi korban terdampak. Bersama, kita bantu wujudkan harapan bagi Sumatra.
Baca Juga
Artikel Terkait
News
-
Menuju Pulihnya Jalur Lembah Anai: Upaya Kelancaran Logistik Ranah Minang
-
Netflix Akuisisi Warner Bros., Industri Bioskop Khawatir Jendela Tayang Dipangkas
-
Aceh dan Bencana: Ketangguhan di Tanah Serambi Mekkah
-
7 Rekomendasi Smartwatch di Bawah 500 Ribu yang Masih Layak Beli 2026
-
Melihat dari Jauh, Jalan yang Kembali Terbuka dan Pemulihan Hidup Sumatera
Terkini
-
4 Sabun Mandi Mengandung Niacinamide, Kulit Cerah Terawat Setiap Hari
-
CERPEN: Masjid yang Tak Pernah Bertanya Kamu Siapa
-
5 Rekomendasi Wajan Antilengket, Masak Auto Lancar!
-
4 Drama Korea Perkantoran ala Choi Jin Hyuk tentang Karier dan Cinta
-
Nyaman dan Modis, Intip 4 Gaya OOTD Smart Casual ala Kim Se Jeong!