Bimo Aria Fundrika | Yayang Nanda Budiman
Ilustrasi anak sedang berdoa (Pixabay)
Yayang Nanda Budiman

Setiap awal Ramadhan, masjid-masjid mendadak hidup dengan cara yang berbeda. Lantunan ayat suci terdengar lebih panjang, saf salat tarawih merapat hingga ke teras, bahkan meluber ke halaman.

Anak-anak berlarian kecil, orang tua tersenyum menyaksikan semangat yang menggebu. Di pekan pertama, suasana ibadah terasa begitu penuh, bukan hanya oleh jamaah, tetapi juga oleh antusiasme.

Namun, seiring waktu berjalan, pemandangan itu perlahan berubah. Memasuki pertengahan hingga menjelang akhir Ramadhan, di sejumlah masjid jumlah jamaah mulai menyusut.

Saf yang sebelumnya rapat kini menyisakan ruang kosong. Teras yang dulu penuh kini lengang. Fenomena ini bukan hal baru, tetapi selalu mengundang perenungan.

Mengapa semangat yang menyala di awal bulan sering kali meredup sebelum garis akhir? Dan apa yang bisa kita pelajari dari dinamika ini tentang konsistensi dalam beribadah?

Euforia Awal dan Realitas Rutinitas

Pekan pertama Ramadhan sering kali diwarnai euforia. Ada rasa baru, suasana berbeda, dan motivasi spiritual yang memuncak. Banyak orang menyusun target ibadah, berniat mengkhatamkan Al-Quran, memperbanyak sedekah, dan tentu saja rutin melaksanakan tarawih berjamaah.

Euforia ini wajar. Manusia cenderung bersemangat ketika memasuki fase baru. Seperti resolusi awal tahun atau hari pertama bekerja, ada energi yang terasa segar.

Tarawih di awal Ramadhan menjadi simbol komitmen tersebut. Kehadiran di masjid bukan hanya soal ibadah, tetapi juga pernyataan bahwa kita ingin memulai dengan baik.

Namun setelah beberapa hari, realitas rutinitas mengambil alih. Tubuh mulai menyesuaikan diri dengan pola tidur yang berubah. Aktivitas kerja tetap berjalan. Kelelahan menumpuk. Rasa kantuk setelah berbuka dan isya menjadi tantangan tersendiri. Di sinilah ujian sesungguhnya dimulai.

Semangat yang semula berbasis suasana perlahan diuji oleh konsistensi pribadi. Tidak semua orang mampu mempertahankan ritme yang sama. Ada yang mulai memilih salat di rumah, ada yang sesekali absen karena alasan praktis, dan ada pula yang tanpa sadar mengurangi intensitas ibadah.

Antara Motivasi Sosial dan Ketahanan Pribadi

Tarawih berjamaah memiliki dimensi sosial yang kuat. Kehadiran orang lain memantik semangat. Saf yang penuh menciptakan rasa kebersamaan. Ada dorongan kolektif yang membuat seseorang enggan absen. Dalam situasi ini, motivasi sosial berperan besar.

Namun motivasi sosial memiliki batas. Ketika jumlah jamaah mulai berkurang, efek dorongan kolektif pun melemah. Orang yang sebelumnya datang karena suasana ramai bisa merasa tidak lagi terdorong ketika masjid tidak sepadat awal Ramadhan. Di sinilah perbedaan antara motivasi eksternal dan internal menjadi jelas.

Konsistensi ibadah pada akhirnya bergantung pada ketahanan pribadi. Ia tidak bisa hanya ditopang oleh atmosfer. Ketika suasana meriah mereda, yang tersisa adalah niat dan kesadaran individu. Tarawih bukan lagi tentang ramainya saf, melainkan tentang komitmen pribadi kepada Tuhan.

Menariknya, justru sepuluh malam terakhir Ramadhan memiliki keutamaan yang sangat besar. Di dalamnya terdapat malam Lailatul Qadar yang diyakini lebih baik dari seribu bulan. Ironis jika pada fase inilah sebagian orang justru mulai melemah. Padahal secara spiritual, garis akhir sering kali lebih menentukan daripada start yang gemilang.

Fenomena berkurangnya jamaah tarawih seakan menjadi cermin bahwa manusia mudah bersemangat di awal, tetapi tidak selalu tangguh di tengah dan akhir perjalanan.

Belajar Setia pada Proses

Konsistensi bukan perkara mudah. Ia menuntut disiplin, pengelolaan energi, dan niat yang terus diperbarui. Dalam konteks tarawih, konsistensi berarti tetap melangkah ke masjid meski rasa kantuk datang, tetap berdiri dalam saf meski tidak lagi seramai awal bulan.

Ramadhan sejatinya adalah madrasah kesabaran. Ia melatih daya tahan, bukan hanya secara fisik melalui puasa, tetapi juga secara spiritual melalui ibadah malam. Ketika jumlah jamaah menyusut, mungkin itu bukan sekadar soal kelelahan, melainkan ujian tentang siapa yang bertahan bukan karena suasana, tetapi karena kesadaran.

Belajar konsistensi berarti memahami bahwa nilai sebuah amal tidak selalu terlihat dari keramaian. Saf yang lebih renggang bukan berarti kualitas ibadah menurun. Bisa jadi justru mereka yang tetap hadir telah melewati fase seleksi alamiah komitmen.

Lebih jauh, fenomena ini juga mengajak kita untuk tidak mudah menghakimi. Setiap orang memiliki dinamika masing-masing. Ada yang berjuang dengan pekerjaan berat, ada yang harus mengurus keluarga, ada yang mungkin menjaga stamina agar tetap optimal hingga akhir bulan. Yang terpenting adalah menjaga kesinambungan sesuai kemampuan.

Pada akhirnya, Ramadhan bukan lomba siapa paling semangat di awal, melainkan siapa yang mampu menjaga nyala hingga akhir. Tarawih yang penuh di pekan pertama adalah pemandangan indah. Namun tarawih yang tetap ditegakkan meski jamaah berkurang adalah pelajaran tentang kesetiaan pada proses.

Konsistensi adalah bentuk kedewasaan iman. Ia tidak bergantung pada euforia, melainkan pada kesadaran yang terus diperbarui. Dan mungkin, di situlah makna terdalam Ramadhan menemukan tempatnya, bukan pada ramainya saf, tetapi pada keteguhan hati yang tetap melangkah hingga penghujung bulan.