M. Reza Sulaiman | Atalie June Artanti
Ilustrasi suasana di dalam pesawat (Pexels/Kelly)
Atalie June Artanti

Maskapai penerbangan JetBlue Airways tengah menghadapi gugatan hukum dari keluarga seorang penumpang bernama John Allen Fletcher yang meninggal dunia setelah diduga mengalami stroke saat berada dalam pesawat. Keluarga korban menilai kru pesawat dan pihak layanan darat lalai memberikan pertolongan medis yang cepat dan layak.

Peristiwa tersebut terjadi dalam penerbangan JetBlue Flight 321 rute Boston–Palm Beach pada 22 April 2025. Saat naik pesawat, Fletcher disebut dalam kondisi sehat. Namun, setelah pesawat mendarat, ia tiba-tiba terjatuh di kursinya dan menunjukkan gejala serius yang mengarah pada serangan stroke.

Alih-alih mendapatkan penanganan darurat, sejumlah saksi menyebutkan bahwa kru pesawat tidak segera memanggil bantuan medis. Pihak maskapai bahkan hanya memesan kursi roda nondarurat dan membawa Fletcher ke area pengambilan bagasi, bukan langsung ke fasilitas medis bandara.

Situasi semakin memprihatinkan ketika anak Fletcher yang ikut dalam perjalanan telah meminta bantuan medis kepada petugas layanan darat. Permintaan tersebut disebut tidak ditanggapi secara serius. Baru sekitar satu jam kemudian, paramedis akhirnya dipanggil dan Fletcher dilarikan ke rumah sakit. Sayangnya, kondisinya sudah memburuk dan ia meninggal dunia 13 hari kemudian setelah menjalani perawatan intensif.

Keluarga korban menilai keterlambatan penanganan menjadi faktor krusial yang memperparah kondisi Fletcher. Mereka menuding adanya kelalaian berat dalam prosedur tanggap darurat dan menggugat JetBlue serta perusahaan layanan darat ABM Aviation. Nilai tuntutan yang diajukan mencapai USD50.000 atau sekitar Rp785 juta.

JetBlue telah mengonfirmasi bahwa mereka menerima gugatan tersebut, namun belum memberikan komentar lebih jauh karena proses hukum masih berjalan. Hingga kini, pihak ABM Aviation juga belum menyampaikan pernyataan resmi.

Pentingnya Golden Period pada Stroke

Dalam konteks medis, penanganan stroke sangat bergantung pada golden period atau waktu emas penanganan. Semakin cepat seseorang mendapatkan bantuan medis, semakin besar peluang untuk meminimalkan kerusakan otak dan risiko kecacatan permanen. Keterlambatan beberapa menit saja bisa membawa dampak serius.

Karena itu, banyak ahli menekankan bahwa siapa pun yang pertama kali berada di sekitar pasien, termasuk kru transportasi publik seperti pesawat, memiliki peran penting dalam mengenali gejala awal dan merespons dengan cepat.

Darurat Medis di Pesawat Bukan Hal Langka

Kejadian medis di dalam pesawat sebenarnya bukan peristiwa yang jarang. Mulai dari sesak napas, pingsan, gangguan jantung, hingga stroke dapat terjadi di tengah penerbangan. Kondisi ini membuat kesiapan kru dan prosedur darurat menjadi aspek penting dalam standar keselamatan penerbangan.

Idealnya, awak kabin tidak hanya dilatih soal keselamatan teknis, tetapi juga memiliki pemahaman dasar tentang respons kegawatdaruratan medis dan jalur koordinasi cepat dengan layanan kesehatan bandara.

Tanggung Jawab Etis Perusahaan

Kasus ini juga menyoroti tanggung jawab etis perusahaan terhadap keselamatan penumpang. Publik tidak hanya menilai dari aspek hukum, tetapi juga dari sisi empati, kepedulian, dan kualitas sistem perlindungan yang diberikan kepada konsumen. Ketika seseorang membeli tiket pesawat, ada ekspektasi bahwa keselamatan mereka, termasuk dalam kondisi darurat medis, menjadi prioritas utama.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa situasi darurat medis bisa terjadi kapan saja dan di mana saja, termasuk di pesawat. Respons cepat, prosedur yang jelas, dan empati dari seluruh pihak menjadi kunci yang dapat menentukan keselamatan seseorang.