M. Reza Sulaiman | Atalie June Artanti
Ilustrasi Prediksi Cuaca (Pexels/Raychel Sanner)
Atalie June Artanti

Hujan deras yang turun berhari-hari, kemudian banjir besar yang datang tiba-tiba, bukan lagi sekadar rutinitas musim hujan. Di banyak wilayah Indonesia, peringatan seperti ini sudah berubah menjadi alarm risiko nyata bahkan sebelum kita membaca prediksi cuaca di ponsel.

Tetapi, meski badan cuaca nasional terus mengingatkan masyarakat tentang potensi cuaca ekstrem, respons sosial dan kesiapsiagaan kita sering kali masih di bawah standar yang seharusnya.

Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sejumlah wilayah di Indonesia harus waspada menghadapi potensi cuaca ekstrem sepekan ke depan, termasuk Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Jawa Barat, Jambi, dan Kalimantan. Peringatan ini mencakup potensi hujan lebat disertai kilat, angin kencang, serta potensi banjir dan tanah longsor.

Lebih dari Sekadar Cuaca: Risiko Hidrometeorologi Nyata

BMKG terus menegaskan pentingnya kewaspadaan terhadap fenomena hidrometeorologi, yakni bencana yang dipicu oleh kondisi atmosfer dan hidrologi seperti hujan ekstrem, banjir, longsor, dan angin kencang. Peringatan semacam ini bukan hal yang baru. BMKG juga pernah mengeluarkan siaran pers yang mengingatkan masyarakat bahwa puncak musim hujan berlangsung dari akhir 2025 hingga awal 2026, yang mengharuskan kewaspadaan tinggi di berbagai daerah di Indonesia.

Data BNPB menunjukkan bahwa sepanjang 2025 terjadi lebih dari 3.000 kejadian bencana alam, dan mayoritas (sekitar 99%) di antaranya merupakan bencana hidrometeorologi yang terdiri atas banjir, cuaca ekstrem, tanah longsor, hingga kebakaran hutan dan lahan. Banjir menjadi kontributor terbesar dalam jumlah kejadian tersebut.

Peristiwa ini menegaskan bahwa risiko yang diperingatkan bukan sekadar teori. Data lain juga mencatat ribuan peringatan cuaca berakurasi tinggi yang dikeluarkan BMKG pada periode tertentu, menunjukkan bahwa fenomena ekstrem bukan insiden sesekali, melainkan tren yang konsisten.

Ketika Peringatan Meleset Menjadi Tragedi

Tingginya intensitas hujan bukan sekadar tanda awan gelap. Di Sumatra, misalnya, hujan ekstrem yang dipicu sistem atmosfer dan fenomena seperti bibit siklon tropis dapat menghasilkan curah hujan yang jauh di atas normal, bahkan mencapai ratusan milimeter dalam sehari. Hal ini secara langsung meningkatkan potensi banjir bandang dan tanah longsor.

Di lapangan, bencana hidrometeorologi yang terjadi bukan hanya soal kerusakan infrastruktur. Dampaknya terasa nyata melalui korban jiwa, kerugian ekonomi, akses yang terputus, dan penderitaan masyarakat yang kehilangan rumah serta mata pencaharian. Faktanya, proses tanggap darurat sering kali masih menghadapi tantangan, mulai dari kesiapan alat hingga koordinasi antarinstansi.

Mengapa Kita Selalu “Terkejut”?

Jika data dan peringatan sudah ada di tangan, pertanyaannya adalah mengapa kita masih sering terkejut oleh bencana? Ada beberapa faktor yang perlu direnungkan:

  1. Kesiapsiagaan masyarakat masih rendah. Banyak warga yang menyikapi peringatan cuaca ekstrem sebagai isu biasa atau rutinitas. Padahal, kesiapsiagaan bukan hanya soal alat deteksi, melainkan juga kesiapan mental dan sikap proaktif.
  2. Infrastruktur mitigasi belum optimal. Sistem drainase yang buruk, kurangnya waduk atau kolam retensi air, dan permukiman yang tumbuh di area rawan banjir memperparah dampak hujan ekstrem.
  3. Pemahaman risiko belum tersebar merata. Edukasi tentang cara membaca zona rawan, pola peringatan BMKG, serta tindakan mitigasi masih belum sampai ke seluruh lapisan masyarakat.
  4. Perubahan iklim memperpanjang musim ekstrem. Tren curah hujan yang intens dan tidak lagi terikat pada musim kering/hujan secara klasik menunjukkan bahwa variabilitas iklim makin tinggi; sebuah realitas yang harus kita hadapi bersama.

Mengubah Sikap terhadap Peringatan Cuaca

Peringatan BMKG bukan sekadar pemberitahuan rutinitas. Ini adalah panggilan untuk mengubah cara kita menyikapi risiko cuaca ekstrem. Lembaga pemerintah daerah perlu meningkatkan koordinasi respons darurat dan memperkuat mitigasi berbasis data cuaca.

Masyarakat harus melihat peringatan cuaca sebagai alat informatif yang perlu ditindaklanjuti, bukan informasi yang bisa diabaikan. Sekolah dan komunitas lokal bisa menjadi garda terdepan dalam menyebarkan pemahaman tentang mitigasi bencana.

Bukan Hujan Biasa

Cuaca ekstrem bukanlah hujan biasa yang bisa dilewatkan dengan payung dan harapan. Peringatan BMKG adalah peringatan nyata, disertai bukti data dan pengalaman bencana sepanjang tahun lalu. Mengabaikannya berarti mengulang siklus yang sama: berduka kemudian bertanya, “Kenapa ini bisa terjadi?”.

Untuk itu, kita perlu mulai memaknai setiap peringatan cuaca sebagai alarm kesiapsiagaan, bukan sekadar tajuk berita yang cepat hilang di layar ponsel.