Belum lama ini, media sosial X kembali diguncang dengan isu panas ulah dari sebuah komentar yang diunggah oleh akun @SelebtwitMobil. Dalam unggahannya, ia melontarkan penyataan ofensif mengenai pelecehan di transportasi umum. Menurutnya, tindakan "digrepe" adalah sebuah fetish.
“Fetish saya bukan digrepe orang,” katanya.
Meski akun tersebut kini telah hilang, jejak digitalnya meninggalkan luka mendalam bagi para penyintas sekaligus menjadi alarm keras bagi etika ruang publik kita.
Distorsi Makna Antara Hasrat dan Kriminalitas
Persoalan utama dari narasi tersebut bukan sekadar bercandaan yang tidak lucu, melainkan distorsi makna yang berbahaya terhadap istilah psikologis.
Mengutip dari Halodoc, fetish dalam sudut pandang psikologi adalah obsesi seksual yang muncul saat seseorang mendapatkan rangsangan mendalam pada berbagai objek selain manusia, atau anggota tubuh yang bukan termasuk dalam organ genital. Hal ini bisa berupa aksesori, jenis pakaian tertentu, hingga benda mati. Para ahli memahami bahwa fetishistic disorder masuk dalam kondisi fantasi atau perilaku yang bisa mengakibatkan distress bagi pengidapnya.
Poin krusial yang sengaja dikaburkan oleh pelaku adalah konsensusnya. Fetish itu harus didasarkan pada kesepakatan. Artinya, aktivitas tersebut dilakukan jika semua pihak memang setuju dan merasa nyaman. Jadi, kalau dilakukan kepada orang asing di angkutan umum tanpa izin mereka, berarti ini bukan soal selera seksual, tetapi murni sebagai tindak kejahatan.
Sebaliknya, "digrepe" adalah tindakan kriminal sepihak yang melanggar integritas tubuh orang lain. Menggunakan istilah fetish untuk melabeli pelecehan adalah bentuk manipulasi bahasa yang menjijikkan. Ini kesannya menjadi sebuah upaya untuk menciptakan perlindungan semu agar kejahatan seksual terlihat seperti "preferensi seksual" yang diwajarkan.
Muncul Istilah Rage Bait demi Angka Statistik
Tapi pertanyaannya adalah mengapa narasi seperti ini bisa terus berulang? Jawabannya sering kali menunjuk pada fenomena rage bait.
Dilansir dari Oxford University Press, rage bait diartikan sebagai konten daring yang sengaja dirancang untuk memicu kemarahan atau kegusaran dengan cara yang frustasi, provokatif, atau ofensif.
Tujuannya adalah untuk mendorong trafik atau engagement pada konten tertentu. Dalam kasus ini, pelaku sepertinya rela menggadaikan empati dan martabat manusia hanya demi mendapatkan banyak interaksi dari netizen yang marah terhadap postingan atau argumennya. Ini adalah bentuk degradasi moral di mana rasa sakit orang lain malah dikomodifikasi menjadi angka statistik.
Ruang Digital Seakan Menjadi Racun bagi Para Penyintas
Humor yang menindas ini memiliki dampak yang sangat nyata. Bagi penyintas yang memiliki trauma di transportasi umum, membaca candaan tersebut bisa menjadi sebuah trigger atau pemicu traumanya lagi menjadi lebih hebat. Media sosial yang seharusnya menjadi ruang inklusif justru berubah menjadi lingkungan digital yang beracun karena normalisasi kekerasan seksual yang sering kali dibungkus dengan label candaan.
Hilangnya akun @SelebtwitMobil memang menjadi sebuah sanksi sosial yang instan. Namun masalahnya bisa lebih meluas jika setiap orang memiliki mindset “yang penting viral” tanpa memikirkan pengguna media sosial lain yang mungkin memiliki trauma terhadap isu tertentu.
Perlu ditegaskan kembali bahwa jika sebuah candaan harus menyinggung perasaan orang lain atau men-trigger orang lain untuk teringat kembali pada traumanya, maka itu bukan lagi sebagai humor, melainkan berubah menjadi penindasan. Kita boleh bebas berekspresi, tapi jangan sampai menormalisasi kejahatan yang terjadi di ruang publik.
Baca Juga
-
Polusi Udara Level 'Aman' Tetap Berisiko Bagi Kesehatan, Apa Dampaknya?
-
Bukan Cuma Hobi, Fanatisme Anime Kini Jadi Sektor Bisnis Kreatif Indonesia!
-
Syukuran Novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati Cetakan ke-100: Ada Extra Chapter dan Bocoran Film!
-
Di Balik Viral Novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati, Ada Psikiater yang Ikut Mengawal Cerita
-
Dari Novel ke Layar Lebar, Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati Bawa Pesan Penting soal Kesehatan Mental
Artikel Terkait
-
Kelemahan Teori Fetish dalam Kasus Kematian Arya Daru Menurut Pakar
-
Seksolog Mematahkan Asumsi Liar tentang Fetish di Balik Kematian Diplomat Arya
-
Ingat Kasus Gilang Bungkus? Kini Diduga Beraksi Lagi Usai Keluar Penjara
-
Apa Itu Porta Potty Dubai? Sisi Gelap Negara Tajir dengan Fetish Aneh, Kini Kena Bencana Banjir
-
5 Cara Cari Tahu Fetish Pasangan di Ranjang, Cocok Gak Ya?
News
-
Polusi Udara Level 'Aman' Tetap Berisiko Bagi Kesehatan, Apa Dampaknya?
-
Bahlil Lahadalia Ingin Bertemu Sosok di Balik Lagu MBG yang viral, Ada Apa?
-
Mikroplastik Ada pada Plasenta Manusia, Gaya Hidup Less Waste Kian Penting?
-
Dolar AS Tembus Rp 18.000, Rupiah Cetak Rekor Terendah Sepanjang Sejarah
-
Prambanan Tak Hanya soal Candi, Sun Flower Angel Tawarkan Nuansa Fantasi!
Terkini
-
Harga Rp12 Jutaan, Xiaomi 17T Pro Masih Layak Disebut Flagship Killer?
-
Unik dan Modis! 4 Rekomendasi Tabi Shoes Brand Lokal yang Wajib Dilirik
-
Anti-Boring! 4 OOTD Modern Edgy Classic ala Sooin MEOVV yang Mudah Disontek
-
Manifesto Lingkungan Hidup Emang Keren tapi Kalah Sakti dari Ketegasan Emak
-
Hemat dan Ramah Lingkungan, Biasakan 'Repair First' sebelum Membeli Baru