M. Reza Sulaiman | Zahrin Nur Azizah
Ilustrasi momen saling bermaafan saat Idul Fitri (Pexels/Alfatah Bilal Afdam)
Zahrin Nur Azizah

Sebentar lagi Hari Raya Idulfitri tiba. Momen ini identik dengan tradisi saling bermaaf-maafan bersama keluarga, tetangga, dan teman. Banyak orang akan mengucapkan “mohon maaf lahir dan batin” sebagai bentuk permintaan maaf atas kesalahan yang mungkin pernah terjadi di masa lalu. Bagi sebagian orang, memaafkan orang lain memang tidak selalu mudah, tetapi tetap bisa diupayakan demi menjaga hubungan baik.

Namun, pernahkah kita bertanya pada diri sendiri: sudahkah kita memaafkan diri sendiri? Kita mungkin bisa dengan lapang hati memaklumi kesalahan orang lain, tetapi ketika kesalahan itu berasal dari diri sendiri, rasanya jauh lebih berat untuk dilepaskan. Penyesalan, rasa bersalah, atau pikiran seperti “seharusnya dulu aku tidak melakukan itu” sering kali terus muncul dan membuat kita sulit benar-benar berdamai dengan diri sendiri.

Mengapa Kita Lebih Mudah Memaafkan Orang Lain?

Kita sering mendengar bahwa memaafkan orang lain merupakan wujud dari kebesaran hati. Kita mencoba memahami bahwa seseorang bisa saja melakukan kesalahan. Bisa jadi karena mereka sedang lelah, berada dalam tekanan, atau memang tidak sengaja melakukannya. Cara pandang seperti ini membuat kita tidak terlalu keras saat menilai orang lain.

Namun, sikap itu sering berubah ketika kesalahan datang dari diri sendiri. Ada perasaan menyesal, bahkan marah pada diri sendiri karena merasa telah membiarkan hal itu terjadi. Akibatnya, kita justru menjadi jauh lebih keras dalam menilai diri sendiri.

Dalam psikologi, ada istilah self-forgiveness atau kemampuan memaafkan diri sendiri. Intinya adalah keberanian untuk mengakui kesalahan di masa lalu, lalu perlahan berhenti menyalahkan diri tanpa henti. Hal ini penting karena hubungan kita tidak hanya dengan orang lain, tetapi juga dengan diri sendiri. Jika hubungan batin ini tidak berjalan dengan baik, kesehatan mental pun bisa ikut terpengaruh.

Ketika Kita Terlalu Keras pada Diri Sendiri

Sering kali kita memasang standar yang lebih tinggi untuk diri sendiri dibandingkan untuk orang lain. Kita ingin terlihat baik, berhasil dalam banyak hal, dan seolah tidak boleh melakukan kesalahan. Karena itulah, ketika kegagalan datang, perasaan bersalah bisa muncul sangat kuat, bahkan terasa menyesakkan dada.

Perasaan ini kadang terus berputar-putar seperti kaset rusak di dalam pikiran. Dalam kepala terus-menerus memutar kembali ingatan tentang kejadian pahit di masa lalu dan membayangkan seandainya dulu bisa mengambil keputusan yang berbeda. Akibatnya, seseorang bisa merasa rendah diri, sulit bangkit, bahkan mulai kehilangan kepercayaan pada dirinya sendiri.

Dalam beberapa kasus, ketidakmampuan memaafkan diri dapat memengaruhi kesehatan mental karena seseorang terus terjebak dalam penyesalan serta pikiran negatif yang menguras energi. Padahal, manusia pada dasarnya tidak pernah luput dari salah dan lupa. Ironisnya, kita justru sering lebih mudah memahami ketidaksempurnaan orang lain daripada menerima kekurangan yang ada pada diri sendiri.

Belajar Berdamai dengan Diri Sendiri

Memaafkan diri sendiri bukan berarti mengabaikan kesalahan atau berpura-pura semuanya baik-baik saja. Justru prosesnya dimulai dengan berani mengakui kesalahan tersebut. Dari sana kita bisa mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi dan mengambil pelajaran darinya.

Langkah berikutnya adalah memberi kesempatan bagi diri sendiri untuk berubah. Penyesalan di masa lalu tidak selalu harus menjadi beban yang terus dipikul. Ia juga bisa menjadi titik awal untuk tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Banyak pendekatan psikologi menyarankan tiga langkah sederhana dalam proses ini: mengakui kesalahan, mengambil pelajaran, lalu perlahan melepaskan rasa bersalah dengan belajar menyayangi diri sendiri.

Tentu saja, proses ini sering kali tidak berlangsung secara instan. Namun, seiring berjalannya waktu, kita bisa belajar untuk lebih menerima dan mencintai diri sendiri.

Momen seperti Idulfitri sering dimaknai sebagai waktu untuk saling memaafkan. Kita memperbaiki hubungan dengan orang lain dan mencoba membuka lembaran baru. Namun di balik itu, ada satu hubungan yang juga tidak kalah penting, yaitu hubungan dengan diri sendiri.

Belajar memaafkan diri sendiri adalah bagian dari merawat kesehatan mental. Dengan berdamai dengan masa lalu, kita tidak lagi terus dihantui rasa bersalah yang sering kali menyesakkan. Sebaliknya, kita memberi kesempatan pada diri untuk tumbuh, memperbaiki kesalahan, dan melangkah ke depan dengan hati yang lebih ringan.