Selama bertahun-tahun, sistem pendidikan di banyak sekolah masih menempatkan ranking sebagai simbol keberhasilan belajar. Siswa dengan nilai tertinggi mendapat peringkat pertama, disusul peringkat kedua dan ketiga, sementara siswa lain sering kali berada di luar sorotan.
Sistem ini tampak sederhana dan mudah dipahami, tetapi dalam praktiknya tidak selalu mencerminkan perkembangan belajar setiap anak. Inilah yang menjadi salah satu gagasan utama dalam buku Pendidikan Tanpa Rangking karya Abdul Halim Fathani.
Buku tersebut mengajak pembaca melihat pendidikan dari sudut pandang yang berbeda. Alih-alih menekankan kompetisi akademik, pendidikan seharusnya lebih fokus pada pengembangan potensi unik, kreativitas, serta karakter setiap peserta didik.
Gagasan ini juga sejalan dengan arah kebijakan pendidikan terbaru di Indonesia melalui Kurikulum Merdeka, yang menekankan pembelajaran berbasis proses, kemajuan individu, serta kolaborasi antar siswa.
Isi Buku
Dalam buku ini digambarkan sebuah situasi yang cukup umum terjadi di banyak sekolah. Sebuah sekolah favorit di pusat kota selalu melakukan seleksi akademik ketat saat penerimaan siswa baru. Para siswa dipilih berdasarkan nilai ujian dan tes akademik.
Setiap akhir semester, sekolah mengadakan pertemuan wali murid untuk pembagian rapor, dan pada kesempatan itu diumumkan siswa berprestasi yang hanya terbatas pada ranking satu, dua, dan tiga di setiap kelas. Para siswa tersebut mendapat penghargaan dan bahkan beasiswa dari sekolah.
Sekilas sistem ini tampak ideal. Sekolah memiliki standar akademik tinggi, siswa berprestasi mendapat apresiasi, dan orang tua merasa bangga. Namun dalam perspektif pendidikan yang lebih luas, sistem ranking seperti ini sering kali menimbulkan masalah tersembunyi.
Banyak siswa yang sebenarnya telah berusaha keras tetapi tetap merasa gagal karena tidak masuk dalam tiga besar. Persaingan akademik juga dapat memunculkan tekanan psikologis serta menurunkan rasa percaya diri sebagian siswa.
Dalam cerita di buku tersebut, pimpinan sekolah kemudian melakukan studi banding ke sebuah lembaga pendidikan di pinggiran kota yang dikenal sebagai Sekolah Humanis. Sekolah ini berada dalam lingkungan pesantren dan dipimpin oleh seorang profesor yang juga seorang kyai. Meskipun lokasinya sederhana, banyak lulusannya berhasil berkiprah di masyarakat.
Ketika ditanya tentang sistem penilaian di sekolahnya, sang profesor menjelaskan bahwa konsep penilaian yang mereka gunakan terinspirasi dari sebuah hadits Nabi.
Inti dari hadits tersebut adalah bahwa seseorang dianggap beruntung jika hari ini lebih baik daripada hari kemarin. Sebaliknya, jika hari ini sama saja atau bahkan lebih buruk dari kemarin, maka itu merupakan kerugian.
Dari prinsip sederhana itu, sekolah tersebut mengembangkan pendekatan penilaian yang berfokus pada perkembangan individu siswa. Guru tidak membandingkan satu siswa dengan siswa lainnya, melainkan melihat kemajuan yang dicapai oleh setiap anak dari waktu ke waktu.
Sebagai contoh, seorang siswa yang awalnya hanya mengenal angka satu sampai lima, setelah satu semester mampu memahami angka satu sampai sepuluh. Siswa lain mungkin memulai dari kemampuan yang lebih dasar, tetapi tetap mengalami kemajuan. Dalam sistem penilaian seperti ini, semua siswa dianggap berhasil karena mereka menunjukkan perkembangan.
Kelebihan dan Kekurangan
Pendekatan ini dalam dunia pendidikan dikenal sebagai penilaian ipsatif, yaitu sistem yang menilai perkembangan seseorang dibandingkan dengan dirinya sendiri di masa lalu, bukan dibandingkan dengan orang lain.
Konsep ini juga pernah dibahas dalam buku Sekolahnya Manusia karya Munif Chatib yang menekankan bahwa setiap anak memiliki kecerdasan yang unik.
Pendekatan tanpa ranking tidak berarti menurunkan standar pendidikan. Justru sebaliknya, sistem ini mendorong guru untuk lebih memahami potensi setiap siswa. Guru diharapkan mampu menggali bakat, memberikan stimulus yang tepat, serta menciptakan lingkungan belajar yang menghargai perbedaan.
Dengan sistem seperti ini, siswa tidak lagi belajar hanya untuk mengejar nilai. Mereka belajar untuk memahami proses, mengembangkan kreativitas, serta membangun karakter. Kolaborasi dan empati juga menjadi bagian penting dalam pembelajaran, menggantikan persaingan yang sering kali tidak sehat.
Pendidikan yang baik bukanlah tentang siapa yang paling cepat mencapai garis akhir. Pendidikan lebih menyerupai perjalanan panjang di mana setiap anak memiliki ritme dan jalannya sendiri. Tugas sekolah adalah memastikan setiap siswa terus bergerak maju.
Identitas Buku
- Judul Buku: Pendidikan Tanpa Ranking
- Penulis: Abdul Halim Fathani
- Editor: Akhmad Nurul Kawakib
- Desain Sampul & Layout: Moch. Imam Bisri
- Penerbit: UIN-Maliki Press
- Cetakan: 2019
- Tebal: 286 halaman
- Genre: Pendidikan / Edukasi
Baca Juga
-
Meneladani Sri Ningsih, Tokoh Inspiratif di Novel Tentang Kamu Tere Liye
-
Tak Semua Orang Siap Jadi Orang Tua: Sisi Pilu Novel Di Tanah Lada
-
Menggenggam Bara Semangat di Novel Ranah 3 Warna Karya Ahmad Fuadi
-
Perburuan Kriminal Paling Berbahaya: Membaca Novel Bintang Karya Tere Liye
-
Memeluk Rasa Sepi di Novel Jakarta Sebelum Pagi
Artikel Terkait
Ulasan
-
Meneladani Sri Ningsih, Tokoh Inspiratif di Novel Tentang Kamu Tere Liye
-
Tak Semua Orang Siap Jadi Orang Tua: Sisi Pilu Novel Di Tanah Lada
-
Menggenggam Bara Semangat di Novel Ranah 3 Warna Karya Ahmad Fuadi
-
Refleksi dari Buku Yuk, Husnuzhan!: Mengubah Hidup dengan Pikiran Positif
-
Sebuah Kritik Tajam Pakem Horor Indonesia: Ulasan Film Setan Alas!
Terkini
-
Mudik sebagai Ritual Tahunan dan Politik Infrastruktur Negara
-
4 Ide OOTD Street Style ala Yunho ATEEZ yang Buat Look Kamu Makin Cool
-
Xiaomi 17 Bawa Kamera Leica dan Sensor Light Fusion, Foto Makin Tajam!
-
4 Physical Sunscreen Lindungi Kulit Sensitif agar Cegah Breakout saat Puasa
-
Jennie BLACKPINK Picu Kritik Netizen saat Dikerumuni di Paris