M. Reza Sulaiman | Syamsul Alam
Ilustrasi skill yang dicari HRD (freepik.com)
Syamsul Alam

Sekolah mengajarkan banyak hal penting, tetapi dunia kerja sering menilai sesuatu yang berbeda. Penilaian bukan hanya seberapa paham kamu terhadap teori, melainkan seberapa mampu kamu bekerja bersama orang lain, menyelesaikan masalah, dan tetap rapi saat tekanan datang. Banyak HRD juga melihat adanya celah (gap) antara ekspektasi perusahaan dan kemampuan yang dibawa oleh lulusan baru.

Kabar baiknya, keterampilan-keterampilan (skills) ini bisa dilatih. kamu tidak perlu menunggu menjadi senior terlebih dahulu untuk mulai membentuknya. Berikut adalah tujuh keterampilan yang sering dicari HRD, tetapi biasanya baru dipelajari setelah kamu terjun langsung ke lapangan.

1. Komunikasi yang Jelas dan Rapi

Bukan soal kamu cerewet atau jago berbicara, melainkan soal kemampuan menyampaikan maksud dengan terang. HRD biasanya menyukai orang yang bisa menjelaskan konteks, tujuan, dan langkah berikutnya tanpa membuat orang lain menebak-nebak. Keterampilan ini terpakai dalam obrolan (chat) kerja, surel (email), laporan, hingga rapat singkat.

Latihan paling sederhana: biasakan menutup komunikasi dengan langkah selanjutnya (next step) yang konkret. Misalnya, bukan hanya bilang sudah dikerjakan, tetapi jelaskan progresnya, kapan selesai, dan apa yang kamu butuhkan dari orang lain. Pola komunikasi seperti ini membuat kamu terlihat bisa diandalkan.

2. Kerja Tim dan Kolaborasi

Banyak orang merasa sudah bisa bekerja dalam tim (teamwork), tetapi hal itu baru terlihat saat proyek sudah mendesak dan anggota tim memiliki perbedaan gaya kerja. Kerja tim bukan sekadar akur, melainkan kemampuan berbagi peran, menahan ego, dan menjaga ritme bersama-sama. Ini termasuk kemampuan koordinasi kecil: memberikan pembaruan (update) singkat, membantu saat terjadi kendala, dan tidak menghilang saat dibutuhkan.

Penelitian tentang keterampilan kerja (employability skills) menempatkan teamwork sebagai keterampilan yang paling sering muncul sebagai kebutuhan lintas waktu, termasuk dalam daftar keterampilan yang paling sering dilaporkan oleh pemberi kerja. Jadi, jika kamu merasa belum kuat di sini, itu bukan aib, justru merupakan area latihan yang paling cepat terasa manfaatnya.

3. Problem Solving dan Critical Thinking

Di sekolah, kamu sering diberi soal yang jawabannya sudah tersedia. Di dunia kerja, masalah sering kali kabur: datanya kurang, konteks berubah, dan jawabannya bukan sekadar pilihan A, B, atau C. HRD biasanya mencari orang yang ketika menghadapi masalah tidak panik dan tidak hanya komplain, tetapi bisa memetakan penyebab, opsi, serta risiko, lalu memilih langkah paling masuk akal.

kamu bisa melatihnya dengan kebiasaan kecil: setiap kali ada masalah, tuliskan tiga hal: apa masalah sebenarnya, apa penyebab yang paling mungkin, dan apa dua solusi yang bisa dicoba hari ini. Kebiasaan ini terlihat sederhana, tetapi membentuk cara pikir yang disukai perusahaan.

4. Adaptabilitas dan Kemauan Belajar Cepat

Banyak lulusan baru (fresh graduate) menunggu merasa siap terlebih dahulu, padahal lingkungan kerja sering berubah sebelum kamu selesai menyesuaikan diri. Adaptabilitas bukan berarti kamu harus setuju dengan semua hal, melainkan kamu bisa cepat belajar cara kerja tim, memahami standar, dan tidak terseret drama ketika sistem berubah.

Dalam kajian tentang keterampilan yang dicari pemberi kerja, adaptability dan willingness to learn termasuk yang paling sering disebut. Inilah alasan HRD sering lebih memilih kandidat yang terlihat belajar dengan cepat daripada kandidat yang merasa sudah menguasai segalanya.

5. Manajemen Diri: Disiplin, Tanggung Jawab, dan Manajemen Waktu

Keterampilan ini sering disepelekan karena terdengar seperti nasihat umum. Padahal di kantor, kemampuan mengelola diri adalah fondasi. Orang yang mahir secara teknis tetapi tidak bisa mengatur tenggat (deadline), sering terlambat merespons, atau sulit memegang komitmen, biasanya cepat kehilangan kepercayaan.

Manajemen diri juga berarti berani mengomunikasikan batas dan prioritas. Jika kamu kebanjiran tugas, yang dicari bukan kemampuan memaksakan diri sampai berantakan, melainkan kemampuan menyusun prioritas dan meminta arahan dengan sopan. Ini membuat kamu terlihat dewasa dalam bekerja.

6. Literasi Digital dan Kemampuan Menggunakan Perangkat Kerja

Sekolah terkadang masih fokus pada teori, sementara kerja modern menuntut kamu akrab dengan perangkat (tools): dokumen kolaboratif, lembar sebar (spreadsheet), presentasi, manajemen proyek, rapat daring (online), sampai dasar keamanan digital. Literasi digital bukan sekadar bisa menggunakan aplikasi, melainkan paham cara kerja yang efisien, yakni fail yang rapi, versi dokumen yang jelas, dan tahu etika komunikasi digital.

Studi tentang keterampilan digital menunjukkan beberapa kategori seperti komunikasi dan kolaborasi digital, pembuatan konten digital, dan aspek keamanan (safety) berkaitan positif dengan employability (daya serap kerja) pada data lintas negara. Intinya, keterampilan digital bukan lagi bonus, melainkan bagian dari daya saing.

7. Emotional Intelligence: Mengelola Emosi, Membaca Situasi, dan Profesionalitas

Ini adalah keterampilan yang sering membuat perbedaan besar tetapi jarang diajarkan secara formal. HRD memperhatikan cara kamu merespons kritik, menangani konflik, dan bersikap saat tidak setuju. Orang dengan kecerdasan emosional (emotional intelligence) yang baik biasanya tidak gampang meledak, tidak pasif-agresif, dan bisa menjaga hubungan kerja tetap sehat meski situasinya menekan.

kamu bisa mulai dari kebiasaan praktis: sebelum membalas pesan yang memancing emosi, berhenti sejenak, baca ulang tujuan komunikasi, lalu jawab dengan fokus pada masalah, bukan menyerang orangnya. Di dunia kerja, kemampuan menjaga profesionalitas seperti ini sering lebih dihargai daripada memenangi debat.

Banyak orang mengira hambatan terbesar setelah lulus adalah kurang pintar. Padahal, sering kali yang membuat tersendat adalah keterampilan yang tidak terlihat di rapor. Jika kamu mulai melatih tujuh keterampilan ini dari sekarang, kamu tidak sedang mengubah diri menjadi orang lain; kamu sedang memperkuat versi terbaik dari diri sendiri agar lebih siap masuk ke dunia kerja.