M. Reza Sulaiman | Tika Maya Sari
ilustrasi hantu perempuan (Pixabay/AdinaVoicu)
Tika Maya Sari

“Tumben pulang sore, Fris?”

Tidak ada jawaban, tiada sahutan. Hanya suara deheman tiga kali yang membuat Ibuk menoleh ke belakang. Alih-alih mendapati Friska, anak perempuannya, Ibuk justru melihat sesosok perempuan berbaju kusam yang menunduk dalam senyap. Rambutnya tergerai berantakan, menutupi seluruh wajah. Ia berdiri mematung di bawah pohon nangka melengkung….

Menyapu halaman itu idealnya dilakukan pada pagi atau sore hari. Namun, bagaimana jadinya kalau rutinitas bersih-bersih itu justru jadi ajang adu nyali karena dilakukan menjelang surup alias magrib? Yah, paling apes tentu saja bertemu makhluk jejadian. Setidaknya, begitulah kronologi pengalaman Ibuku tempo hari.

Sore itu, selepas beres memasak untuk berbuka puasa, Ibuk bersiap dengan sapu lidi dan pengki guna menyapu halaman. Ia dibantu oleh Ricky, adikku. Sementara itu, dua anaknya yang lain dan sang suami masih belum pulang bekerja.

Karena sudah beberapa hari halaman tidak disapu, sampah dedaunan menumpuk lumayan banyak. Ditambah lagi, saat ini sedang musim penghujan, membuat sampah daun basah terasa makin berat saat disapu. Mereka menggunakan strategi klasik: mengumpulkan sampah dedaunan di beberapa titik terlebih dahulu, sebelum kemudian diserok dan dibuang ke joglangan (lubang pembuangan).

“Lho, Mbak Fir bersih-bersih, ya?” sapa Mbah Ni dari seberang.

Ibuk menoleh dan mendapati Mbah Ni tengah memberi makan sapi. “Iya, Mbah Ni.”

Mereka berbincang sejenak sebelum kembali melanjutkan aktivitas masing-masing. Ibuk kembali mengayunkan sapu lidi, dan Mbah Ni segera masuk untuk bersiap berbuka puasa.

Halaman rumah kami memang berbatasan langsung dengan kandang sapi Mbah Ni, hanya disekat oleh pagar carang (bambu). Namanya juga hidup di kampung, tata letak seperti itu sudah lumrah. Di sebelah kandang sapi, terdapat kandang domba milik Lek Par, keponakan Mbah Ni. Nah, barulah di sebelahnya lagi membentang pekarangan kosong yang ditumbuhi pepohonan dan rumput liar.

“Le, ini sepertinya sudah mau magrib. Kamu masuk duluan saja, terus nata makanan di meja, ya,” suruh Ibuk pada Ricky.

“Lho, ini belum selesai, Buk.”

“Halah, ini tinggal membuang ke joglangan saja. Kamu dari tadi sudah nyapuin halaman. Sudah, buruan masuk.”

Ricky pun menurut. Dilihatnya memang tinggal tiga gundukan sampah yang belum dibuang. Namun jujur saja, hawa di luar sudah terasa tidak enak. Petang mulai turun, dan bayang-bayang pepohonan memanjang mengerikan. Hijau daun perlahan tersaput warna hitam legam.

Tentu saja, titik yang auranya paling terasa wingit (angker) adalah sebuah pohon nangka melengkung. Pohon itu menjadi tapal batas antara halaman rumah kami dengan pekarangan kosong di sebelahnya. Ricky bergegas masuk ke dalam rumah, meninggalkan Ibuk yang masih santai sendirian—seolah sedang sengaja uji nyali.

“Ehem… ehem… ehem….”

Ibuk terdiam sejenak, menghentikan ayunan sapunya. “Lho, sudah pulang, Fris? Tumben nggak ambil lembur?”

“Ehem… ehem… ehem….”

Udara tiba-tiba terasa dingin mencekam. Angin sore berhenti berembus. Ibuk celingak-celinguk mencari sumber suara, lalu terkekeh sendiri.

“Owalah, bukan Friska, ya.” Ibuk pun segera menyelesaikan sisa pekerjaannya. “Sepi sekali, ya? Mbah Ni nggak kelihatan, Lek Par juga nggak ada. Apa karena sudah mau magrib?” gumamnya bermonolog.

Sebetulnya, bulu kuduk Ibuk sudah meremang. Apalagi saat suara deheman perempuan itu kembali terdengar. Semula Ibuk sangat yakin itu adalah Friska, sebab anak perempuannya itu memang punya kebiasaan berdehem saat pulang. Namun, nihil. Tidak ada siapa-siapa di sekitarnya.

“Apa cuma perasaanku saja, ya? Tadi suaranya mirip Friska.”

Jujur, aku sendiri kadang heran dengan tingkah Ibuku. Alih-alih ketakutan dan lari terbirit-birit, dia justru nyantai sambil celingak-celinguk. Entah urat takutnya sudah putus atau kadar adrenalinnya yang kelewat tinggi. Oke, kembali ke cerita.

Kegelapan mulai memekat di halaman belakang, bertepatan dengan sayup-sayup suara azan magrib yang mulai berkumandang dari musala. Saat Ibuk berniat mempercepat langkahnya untuk segera berbuka puasa, suara itu terdengar lagi. Lebih dekat.

“Ehem… ehem… ehem….”

Kali ini suaranya jelas berasal dari arah belakang. Saat Ibuk menoleh, hatinya terkesiap.

Ada sesosok perempuan berbaju putih panjang nan kusam tengah berdiri di bawah pohon nangka melengkung. Sosok itu menunduk dalam-dalam. Rambutnya yang hitam dan acak-acakan tergerai jatuh menutupi seluruh wajah tanpa celah. Ia diam mematung, tidak bergerak barang satu sentimeter pun.

“Ehem… ehem… ehem….”

Melihat penampakan sejelas itu, Ibuk justru terkekeh ringan. “Paling halusinasiku saja. Mungkin itu cuma karung bekas,” ucapnya denial. Sedetik kemudian, ia melangkah cepat masuk ke rumah dengan degup jantung yang telat berantakan.

“Itu kuntilanak, ya, Buk? Bukannya yang begitu biasanya mangkal di kandang ayam Lek No?” tanyaku penasaran setelah mendengar kisah Ibuk.

“Ya nggak tahu. Pokoknya perempuan rambut panjang, bajunya putih kusam.”

“Apa pun jenisnya, intinya dia jejadian,” pungkasku seraya menyendok kolak ubi yang masih hangat. “Tapi dari dulu, pohon nangka melengkung itu memang punya aura tersendiri sih, Buk. Macam ada penunggunya.”

“Mungkin itu memang penunggunya. Atau sekadar numpang main di sana.”

Aku mengangguk setuju. Aku sendiri memang sering merasakan hawa aneh setiap kali melihat pohon nangka itu. Ukurannya sudah cukup besar, dengan anomali batang melengkung yang kokoh—posisi yang sangat pas dan nyaman untuk diduduki makhluk kasatmata. Titik lengkungnya berjarak kurang lebih dua meter dari permukaan tanah.

Namun, poin paling aneh dari pohon itu adalah: buah nangkanya selalu yang paling manis dan legit. Meski ada pohon nangka lain di kampung ini, hasil dari pohon melengkung itulah yang paling mantap.

“Barangkali, dia hadir supaya Ibuk segera pulang untuk berbuka puasa. Disuruh udahan nyapunya,” ledekku.

“Iya, mungkin. Coba kalau dia nggak muncul di situ, mungkin aku masih di halaman belakang buat nungguin penampakan lainnya.”

Aku diam. Skakmat. Kalah telak.

Yah, soal nyali berhadapan dengan bangsa lelembut, Ibuk memang yang paling tatag dan berani. Kalau aku yang ada di posisi Ibuk waktu itu, melihat kuntilanak berdehem di bawah pohon nangka menjelang magrib? Sudah pasti mangkuk kolak ubi ini tidak akan pernah ada artinya dibanding langkah seribu yang kuambil.