"Sesungguhnya, ingatan adalah entitas yang brutal. Kadang menyaru sebagai fakta solid, kemudian menyeru sebagai satu-satunya kebenaran." Kutipan dari novel ini menjadi pengantar yang sempurna untuk memahami semesta yang dibangun oleh Sasti Gotama. Melalui novel pertamanya ini, Sasti mengajak kita merenung: apakah ingatan kita benar-benar asli, atau hanya sekadar "barang artifisial" yang menyerupai spons, rakus menyesap opini dan fakta baru hingga mengaburkan kebenaran aslinya?
Cerita dibuka dengan narasi yang terasa acak dan dialog yang cukup membingungkan, sebuah teknik penceritaan yang secara cerdas mencerminkan kekacauan memori para tokohnya. Kita diperkenalkan pada Lian Wen, seorang dokter hewan yang memilih hidup dalam isolasi bersama seekor ikan koki buta. Lian memiliki kondisi unik: ia akan pingsan setiap kali mendengar suara tawa, dan ia sendiri tidak mampu tertawa. Baginya, menjauh dari keramaian adalah satu-satunya cara untuk bertahan hidup. Namun, hidupnya terusik saat sebuah surat misterius datang ke kliniknya pada tahun 2005 dengan pertanyaan retoris: "Apakah Anda percaya pada keajaiban?"
Dua Jiwa yang Terbelenggu Masa Lalu
Di sisi lain, ada Ombak, seorang pria yang jiwanya terkoyak oleh insomnia kronis dan mimpi buruk yang persisten. Segala cara telah ia coba, namun kenangan pahit selalu berhasil menyusup ke dalam tidurnya. Sama seperti Lian, Ombak menerima surat serupa—sebuah undangan untuk bebas dari beban ingatan dan mimpi buruk melalui bantuan pihak misterius.
Benang merah antara Lian dan Ombak terbentang jauh ke tahun 1998. Kala itu, Ombak adalah seorang pengantar koran yang bekerja di toko milik ayah Lian, Koh Wen. Di tengah perjuangannya merawat adiknya, Awan, Ombak menemukan pelipur lara dalam diri Lian. Mereka tumbuh bersama, berbagi sepasang ikan koki, dan saling meyakinkan bahwa menjadi "normal" tidak harus selalu mengikuti standar orang lain. Sayangnya, sebuah peristiwa kelam pada satu hari Kamis menghancurkan segalanya, meninggalkan luka permanen yang memaksa mereka menjalani hidup masing-masing dalam depresi yang tersembunyi.
Harapan sebagai Pegangan di Tengah Arus
Bertahun-tahun kemudian, meski Lian telah menjadi dokter hewan dan Ombak telah berkeluarga, lubang di hati mereka tidak pernah benar-benar tertutup. Surat dari sebuah tempat bernama Penatu Binata menjadi harapan terakhir mereka untuk "mencuci" bersih memori yang menyakitkan. Bagi mereka, harapan ibarat rumput di tepi sungai; meski akarnya mungkin rapuh, ia adalah satu-satunya hal yang bisa dipegang agar tidak tenggelam oleh arus masa lalu yang menyeret.
Sasti Gotama menunjukkan kepiawaiannya dalam meramu riset yang teliti ke dalam fiksi. Meskipun terdapat beberapa bagian narasi trauma yang terasa kurang terperinci—yang mungkin memang sengaja disisakan penulis agar pembaca dapat berimajinasi—kekuatan simbolisme dalam buku ini sangat memikat. Pembaca akan diajak bertanya-tanya: benarkah luka bisa sembuh total dengan menghapus ingatan? Apa sebenarnya keterkaitan ikan koki dengan takdir mereka? Dan siapakah sosok S serta Z yang membayangi penceritaan ini?
Keberanian Debut yang Memikat
Ingatan Ikan-Ikan adalah pencapaian yang mengesankan bagi seorang penulis debutan. Sasti Gotama berhasil menciptakan atmosfer yang menggantung dan penuh teka-teki, memaksa pembaca untuk terus membalik halaman hingga akhir. Buku ini adalah sebuah eksplorasi tentang identitas dan penerimaan diri yang sangat relevan.
Melalui kisah Lian dan Ombak, kita diingatkan bahwa luka masa lalu bukanlah sesuatu yang harus dihapus secara paksa, melainkan bagian dari diri yang membentuk siapa kita hari ini. Sebuah bacaan yang sangat layak untuk Anda yang menyukai fiksi psikologis dengan sentuhan puitis yang tajam.
Identitas Buku:
- Judul: Ingatan Ikan-Ikan
- Penulis: Sasti Gotama
- Penerbit: Bentang Pustaka
- Tahun Terbit: 2024
- ISBN: 9786231863997
- Tebal Buku: 184-196 halaman (tergantung edisi)
Baca Juga
-
The Notebook: Makna Kesetiaan dan Cinta yang Terus Dipilih Setiap Hari
-
Sajak Rindu: Belajar Memaafkan Masa Lalu dari Perspektif Remaja Bugis
-
Kisah Salinem: Pengabdian Sunyi Abdi Dalem di Tengah Gejolak Sejarah Jawa
-
Komsi Komsa: Mengintip Konspirasi Sejarah Global Lewat Petualangan Sam
-
Novel Tinandrose: Mencari Cahaya di Balik Depresi dan Doa yang Tak Terjawab
Artikel Terkait
-
Kisah Salinem: Pengabdian Sunyi Abdi Dalem di Tengah Gejolak Sejarah Jawa
-
Komsi Komsa: Mengintip Konspirasi Sejarah Global Lewat Petualangan Sam
-
Novel Tinandrose: Mencari Cahaya di Balik Depresi dan Doa yang Tak Terjawab
-
Pemburuan Terbesar Sejak 98: 700 Anak Muda Diproses Usai Demo Agustus 2025
-
Memutus Rantai Toxic di Novel Hi Berlin 1998 Karya Wahyuni Albiy
Ulasan
-
Anak Shakespeare Namanya Hamnet? Kisah di Balik Lahirnya Hamlet yang Bikin Nyesek
-
Ketika Makanan Menjadi Kenangan dalam Novel Crying in H Mart
-
Lagu Location Unknown Masih Jadi Juara: Tutorial Galau Tanpa Harus Kehilangan Arah
-
Film A Separation: Hadirkan Drama Perceraian dan Dilema Etis yang Tajam!
-
Bosen Sama Rendang? Sini Cobain Nasi Dagang Anambas Biar Lebaranmu Makin Melayu Paripurna
Terkini
-
Wajah di Balik Tangis Bayi
-
Terhindar dari Macet dan Polusi: Alasan Mal Jadi Tempat Ngabuburit Paling Nyaman
-
Review Karier 12 Shio: Kamu Tikus yang Boros atau Naga yang Ambisius tapi Keras Kepala?
-
5 Deodoran Wanita yang Bikin Tetap Harum Sepanjang Silaturahmi Lebaran
-
Jika Kritik Tak Lagi Aman, Ke Mana Arah Demokrasi Indonesia?