Di balik keseruan membuka segel blind box yang menggemaskan, terdapat alasan yang lebih dalam dari sekadar hobi koleksi.
Fenomena doom spending kini menjadi cara instan bagi mahasiswa untuk mencari kebahagiaan di tengah rasa cemas akan masa depan. Alih-alih menabung untuk aset jangka panjang, membeli barang 'lucu' kini dianggap sebagai pilihan paling realistis untuk menghibur diri.
Tekanan Psikologis dan Pelarian Instan
Dilansir dari penelitian Universitas Panca Bhakti Pontianak, perilaku doom spending kini terus meluas di kalangan Gen Z. Hal ini terjadi dapat terjadi karena tekanan emosional dan paparan media sosial yang intens.
Mahasiswa cenderung mencari cara tercepat untuk meredakan kecemasan. Dari sini, belanja dianggap sebagai obat penenang sementara untuk mendapatkan rasa lega di tengah tekanan akademis maupun personal.
Fenomena ini kembali dipertegas oleh kajian McKinsey International yang menemukan bahwa Gen Z jauh lebih rentan terjebak dalam doom spending dibandingkan generasi yang lebih tua.
Setiap hari mereka terpapar oleh hal-hal viral di media sosial, saling terkoneksi secara digital dan sering kali tergoda akan “kebutuhan emosional”. Inilah yang membuat Gen Z jadi terlena dan seketika lupa dengan kondisi dompet serta ATM yang jumlahnya kini tak seberapa.
Bahaya di Balik Kemudahan "Paylater"
Fenomena ini semakin diperparah dengan kemudahan akses pembayaran. Tech in Asia pada Maret 2025, mencatat terjadinya lonjakan signifikan pada penggunaan paylater. Yang lebih mengejutkan, kenaikan ini mencapai 39,3% (yoy) hingga menyentuh angka Rp8,22 triliun.
Tingginya angka ini menjadi sinyal kuat bahwa kecenderungan untuk menunda pembayaran justru memfasilitasi mahasiswa untuk terus melakukan doom spending. Fasilitas "beli sekarang, bayar nanti" yang sedang tren ini membuat seseorang mengalami ilusi kemampuan finansial, sehingga barang-barang lucu seperti Labubu dan Cry Baby tetap terbeli meski saldo ATM sebenarnya sudah menipis.
Mengapa Sulit Berhenti?
Secara ekonomi, ini disebut sebagai Lipstick Effect. Maksudnya adalah ketika terjadi krisis atau ketidakpastian ekonomi, konsumen malah ingin tetap membeli barang mewah kecil yang terjangkau untuk menjaga moral mereka.
Bagi mahasiswa, menabung untuk rumah mungkin terasa mustahil, sehingga "investasi" pada boneka lucu menjadi pilihan yang lebih masuk akal untuk kepuasan emosional.
Gen Z merasa bahwa masa depan sangat sulit diprediksi. Dari sini mereka merasa bahwa sesuatu yang bisa dipegang dan ada wujudnya akan terasa lebih nyata daripada angka di tabungan yang dituntut untuk bisa mencukupi masa depan.
Kesimpulan
Mencari kebahagiaan lewat barang lucu memang manusiawi, tetapi jika terus-menerus mengandalkan paylater, kesenangan tersebut bisa berubah menjadi beban di kemudian hari.
Yuk lebih bijak dalam mengatur pengeluaran. Jangan sampai boneka lucu yang kalian beli hari ini, justru jadi sumber stres baru!
Baca Juga
-
Metode Baca Bareng di Taman: Cara Ibu-Ibu Jagakarsa Mengajarkan Anak Mencintai Buku Tanpa Paksaan
-
Satu Tante yang Teredukasi Bisa Berdayakan Satu Keluarga, Gimana Caranya?
-
Lari dari Adiksi Gawai dan Stres Domestik: Para Ibu di Klabu Temukan Kewarasan Lewat Literasi
-
Dear Tante: Saat Sosok "Aunty" Hadir Menjadi Support System Hangat bagi Ibu Baru
-
Fenomena 'Digital to Reality': Mengapa Interaksi Online Jadi Kunci Konser Artis Mancanegara?
Artikel Terkait
News
-
Bangun Kedaulatan Warga, Lingkar Keadilan Ruang Gagas Riset Konsumsi
-
Kisah Laboratorium Sedusun: Saat Anak Muda Pilih Pulang dan Bangun Desa
-
Workshop Lingkar Keadilan Ruang: Pasar Sebagai Kedaulatan Ekonomi Warga
-
Comeback Epik F1 Sepang 2026: Dikepung Kabut Asap Karhutla hingga Ancaman Cuaca Ekstrem
-
Tak Perlu Jadi Manusia Super, Tanyakan 3 Hal Ini ke Dirimu Sendiri untuk Menjaga Kewarasan
Terkini
-
Ketika Lapangan Kerja Formal Menyempit, Sektor Informal jadi Tumpuan Hidup
-
Nam Yoon Su dan Ryu Hye Young Hadapi Entitas Misterius di Film Killing Time
-
5 Rekomendasi Film Baru Sambut Akhir Pekan, Ada Film Komedi Warga Rusun 609
-
Dekonstruksi Road Trip Kriminal yang Segar dan Nyeleneh dalam Film Idiots
-
Sinopsis King of Comedy, Dracin Yang Chao Yue dan Jiang Long di iQiyi