Di balik tren work from cafe yang terlihat menyenangkan di media sosial, ternyata ada banyak tantangan yang harus dihadapi komunitas work from cafe seperti WFC Journal. Mulai dari stigma negatif soal budaya kerja di kafe hingga menjaga kenyamanan antaranggota menjadi tantangan yang sering dihadapi oleh para pekerja WFC atau komunitas seperti WFC Journal.
Terlebih lagi, fenomena WFC semakin populer dalam beberapa tahun terakhir, terutama di kalangan pekerja remote dan hybrid. Banyak pekerja memilih bekerja di kafe untuk mencari suasana baru, mengurangi distraksi di rumah, hingga membuka peluang membangun koneksi sosial baru. Sebuah survei dari GoodStats pada 2024 terhadap 203 responden menunjukkan bahwa sebanyak 50,2 persen responden mengunjungi coffee shop untuk belajar atau bekerja.
Stigma Negatif Pekerja WFC
Namun di balik itu, para pekerja WFC juga terkadang mendapat pandangan negatif dari masyarakat. Founder WFC Journal, Amelia, mengatakan bahwa salah satu stigma yang paling sering muncul adalah anggapan bahwa pekerja yang melakukan WFC hanya nebeng tempat di coffee shop berjam-jam dengan membeli satu minuman saja.
“Kita tuh sering dikaitin sama hal-hal skeptis, yang kayak misalnya beli kopi satu, duduk dari pagi sampai malam,” ungkapnya.
Menurutnya, stigma tersebut sebenarnya tidak sepenuhnya benar. Banyak anggota komunitas justru memahami bahwa coffee shop juga merupakan tempat usaha yang membutuhkan pemasukan. Oleh karena itu, mereka tetap membeli makanan atau minuman tambahan selama bekerja.
“Kita juga paham bahwa coffee shop butuh revenue. Jadi biasanya kita tetap beli beberapa menu,” lanjutnya.
Scanning Sebagai Cara Untuk Membuat Peserta Nyaman dan Aman
Selain stigma negatif dari luar, tantangan lain yang cukup besar adalah menjaga komunitas tetap menjadi ruang yang aman dan nyaman bagi semua anggota. Apalagi konsep WFC Journal mempertemukan banyak orang asing dari berbagai latar belakang pekerjaan dan kehidupan.
Untuk menjaga kenyamanan tersebut, WFC Journal menerapkan sistem kurasi peserta sebelum kegiatan berlangsung. Tidak semua orang yang mendaftar otomatis bisa ikut dalam agenda mereka.
“WFC hari ini yang register sampai 50-60 orang, tapi slotnya 15,” ujar Amel.
Kurasi dilakukan dengan melihat jawaban peserta di formulir registrasi hingga akun media sosial mereka. Menurut Amel, proses ini bukan untuk membatasi siapa yang boleh bergabung, melainkan memastikan seluruh peserta datang dengan tujuan yang sesuai dan tidak membuat anggota lain merasa tidak nyaman.
“Minimal biasanya kita scanning dari media sosial sama jawaban-jawaban yang dikasih ketika isi form registrasi,” jelas Amelia.
Ia juga menjelaskan bahwa komunitas mereka berusaha menghindari peserta yang datang dengan intensi lain, seperti mencari klien secara agresif, melakukan promosi berlebihan, atau membawa kepentingan tertentu yang dapat mengganggu suasana komunitas.
“Sampai dapet yang benar-benar di sosmed pun dia udah open up dan juga nggak terlihat ada intensi-intensi lain,” katanya.
Sistem kurasi tersebut menjadi penting karena banyak anggota datang sendirian dan berharap bisa menemukan ruang sosial yang aman di tengah budaya kerja remote yang sering membuat orang merasa terisolasi.
Selektif dalam Memilih Tempat
Tantangan lainnya datang dari pemilihan tempat. Menurut Amelia, tidak semua kafe cocok dijadikan tempat WFC bersama. Mereka harus mempertimbangkan banyak hal, mulai dari colokan listrik, kualitas wifi, kenyamanan meja dan kursi, hingga ketersediaan makanan berat dan musholla bagi yang membutuhkan.
“First thing first biasanya kita ngeliat dari essential kebutuhan kerja dulu, karena kita tuh punya tagline productive yet fun. Jadi kita pengen teman-teman tuh tetap produktif dulu tapi tetap seru juga,” ujar Amelia.
Dengan begitu, jumlah peserta dalam satu agenda juga sering dibatasi agar suasana tetap nyaman dan tidak mengganggu pengunjung lain di coffee shop.
Meski menghadapi berbagai tantangan dan stigma, komunitas WFC seperti WFC Journal justru terus berkembang. Banyak orang mulai menyadari bahwa WFC bukan sekadar tren estetik di media sosial, tetapi juga ruang untuk membangun koneksi sosial dan mengurangi rasa sepi di tengah budaya kerja remote yang semakin berkembang.
Baca Juga
-
Penelitian Ungkap Mikroplastik Kini Ditemukan di Awan, Berpotensi Pengaruhi Iklim
-
Kamar Gerah Bikin Susah Tidur? Lakukan 7 Trik Sederhana Ini Agar Tetap Sejuk Tanpa AC
-
Menjaga Nostalgia, Merangkul Semua: Upaya Orutaku Club Agar Tetap Inklusif
-
Lebih dari Sekadar Panutan: Cara Anak Sulung Mengembangkan Diri Bersama di Persulungan
-
Eco Parenting, Cara Sederhana Menumbuhkan Kepedulian Lingkungan pada Anak
Artikel Terkait
-
Di Tengah Tren Kerja Remote, Komunitas WFC Journal Jadi Ruang Baru untuk Merasa Tidak Sendirian
-
Lewat Lensa Kamera, APC Angkat Cerita Kaum Marginal dalam Pameran Fotografi
-
25 Tahun Berdiri, Apa Rahasia Komunitas Indo Harry Potter Tetap Eksis di Era Gen Z?
-
Bukan Sekadar Olahraga, Footgolf Jadi Cara Baru Cari Sehat Sekaligus Bangun Relasi
-
Tak Sekadar Riding, Begundal War Wer Tunjukkan Sisi Positif Komunitas Motor
News
-
Ritel Adalah Cermin Sosial: Membaca Karakter Pelanggan dari Gaya Belanja Mereka
-
Urban Eco Journey: Cara Seru Trash Ranger Rayakan Ulang Tahun Sambil Menyelamatkan Bumi
-
FH UNY Berdayakan UMKM Desa Galuhtimur Lewat Legalitas Hukum & Inovasi Produk
-
Tim FIP UNY Bekali Guru PCM Tonjong Modul Ajar Berbasis Deep Learning
-
FH UNY Gelar PkM di MIM Tonjong, Kenalkan Pendekatan 'Deep Learning' untuk Guru Muhammadiyah
Terkini
-
Makin Chaos! Agent Kim Reactivated Episode 3-6 Penuh Aksi dan Plot Twist
-
Menelisik Sisi Gelap Kejiwaan Manusia dalam Film Obsession
-
Jelajahi Jakarta Lewat Stamp Hunting MRT, Seru dan Ramah di Kantong
-
Mengejar Koruptor Tak Perlu ke Antartika! Cukup Penegakan Hukum Konsisten
-
Argentina ke Semifinal! Rating Pemain Jadi Sorotan Usai Tumbangkan Swiss