M. Reza Sulaiman | Davina Aulia
Ilustrasi childfree (Photo by Brett Sayles/Pexels)
Davina Aulia

Dalam beberapa tahun terakhir, pilihan untuk tidak memiliki anak atau childfree semakin sering diperbincangkan, terutama di kalangan generasi muda dan pasangan urban. Sejumlah survei global menunjukkan adanya penurunan angka kelahiran di berbagai negara, termasuk di kawasan Asia.

Di Indonesia, meskipun norma sosial masih kuat mendorong pernikahan dan memiliki anak, diskusi mengenai childfree semakin terbuka di media sosial dan ruang publik. Fenomena ini kerap memicu perdebatan. Sebagian melihatnya sebagai bentuk kebebasan individu, sementara yang lain menganggapnya bertentangan dengan nilai budaya dan agama.

Meningkatnya pilihan childfree tidak dapat dilepaskan dari berbagai faktor sosial, ekonomi, dan budaya. Biaya hidup yang tinggi, ketidakstabilan ekonomi, tuntutan karier, serta kekhawatiran terhadap masa depan menjadi alasan yang sering dikemukakan. Di sisi lain, tekanan sosial yang mengharuskan setiap pasangan memiliki anak justru dapat memunculkan konflik dan stres.

Dampaknya tidak hanya dirasakan secara sosial, melainkan juga psikologis. Individu yang memilih childfree sering menghadapi stigma, pelabelan negatif, bahkan dianggap egois. Kondisi ini menunjukkan bahwa keputusan memiliki atau tidak memiliki anak bukan sekadar persoalan biologis, melainkan juga menyangkut dinamika psikologis yang kompleks.

Otonomi Diri dan Hak atas Pilihan Hidup

Dalam perspektif psikologi, keputusan childfree dapat dipahami melalui konsep otonomi dalam Self-Determination Theory. Manusia memiliki kebutuhan dasar untuk merasa memiliki kendali atas hidupnya. Ketika seseorang memilih untuk tidak memiliki anak setelah mempertimbangkan berbagai aspek, keputusan tersebut bisa jadi merupakan bentuk aktualisasi diri dan perencanaan hidup yang matang.

Bagi sebagian individu, childfree adalah bagian dari desain hidup yang selaras dengan nilai personal, tujuan karier, atau preferensi gaya hidup. Mereka menyadari tanggung jawab besar dalam pengasuhan dan memilih tidak mengambil peran tersebut jika merasa belum atau tidak siap secara emosional maupun finansial. Dalam konteks ini, childfree bukanlah bentuk penolakan terhadap keluarga, melainkan ekspresi kesadaran diri dan tanggung jawab atas pilihan hidup.

Trauma Masa Lalu dan Mekanisme Proteksi Diri

Namun, tidak dapat dimungkiri bahwa bagi sebagian orang, keputusan childfree mungkin berkaitan dengan pengalaman masa lalu yang menyakitkan. Trauma pengasuhan, kekerasan dalam keluarga, atau pengalaman parentifikasi, yaitu ketika seorang anak dipaksa mengambil peran orang tua, dapat membentuk persepsi negatif terhadap peran sebagai orang tua.

Dari sudut pandang psikologi klinis, keputusan untuk tidak memiliki anak dalam konteks ini dapat berfungsi sebagai mekanisme proteksi diri. Individu mungkin merasa takut mengulang pola pengasuhan yang sama atau khawatir tidak mampu memberikan lingkungan yang sehat bagi anak. Meski demikian, penting untuk tidak menggeneralisasi bahwa semua pilihan childfree berakar pada trauma. Setiap individu memiliki latar belakang dan dinamika psikologis yang unik.

Tekanan Sosial dan Konflik Identitas

Masyarakat Indonesia masih cenderung memegang nilai pronatalis, yakni keyakinan bahwa memiliki anak adalah kewajiban moral setelah menikah. Tekanan dari keluarga besar, lingkungan, dan norma budaya dapat memicu konflik identitas bagi individu yang memilih childfree. Mereka dihadapkan pada pertentangan antara nilai pribadi dan ekspektasi sosial.

Secara psikologis, kondisi ini dapat menimbulkan cognitive dissonance, yaitu ketegangan mental akibat pertentangan antara keyakinan dan tekanan eksternal. Jika tidak dikelola dengan baik, konflik tersebut dapat memicu stres, kecemasan, bahkan gangguan relasi dalam pernikahan. Oleh karena itu, dukungan sosial yang sehat dan komunikasi yang terbuka menjadi faktor penting dalam menjaga kesejahteraan psikologis pasangan yang memilih childfree.

Dampak Psikologis: Antara Kebebasan dan Stigma

Keputusan childfree dapat membawa dampak psikologis yang beragam. Di satu sisi, individu mungkin merasakan kebebasan, fleksibilitas waktu, dan kesempatan mengembangkan diri secara optimal. Mereka dapat memfokuskan energi pada karier, relasi pasangan, atau kontribusi sosial lainnya. Perasaan puas terhadap pilihan hidup yang konsisten dengan nilai diri dapat meningkatkan kesejahteraan subjektif.

Di sisi lain, stigma sosial dapat menimbulkan tekanan emosional. Jika individu tidak memiliki ketahanan psikologis yang kuat, stigma tersebut dapat memengaruhi konsep diri dan hubungan interpersonal. Oleh karena itu, penting untuk membangun masyarakat yang lebih inklusif terhadap beragam pilihan hidup.

Childfree tidak dapat disederhanakan sebagai tren sesaat maupun semata-mata respons terhadap trauma. Dalam perspektif psikologi, keputusan ini berada di persimpangan antara otonomi pribadi, pengalaman masa lalu, nilai budaya, dan dinamika sosial. Yang terpenting bukanlah apakah seseorang memilih memiliki anak atau tidak, melainkan apakah keputusan tersebut diambil secara sadar, bebas dari tekanan, dan didasarkan pada kesiapan emosional. Menghargai keberagaman pilihan hidup berarti juga menghargai kompleksitas psikologis manusia itu sendiri.