M. Reza Sulaiman | Irhaz Braga
Pengemudi ojek daring menunggu penumpang di Stasiun Sudirman. [Suara.com/Alfian Winanto]
Irhaz Braga

Lebaran kerap dipahami sebagai momen pulang, berkumpul, dan beristirahat dari rutinitas kerja. Jalanan biasanya lengang, kantor tutup, dan keluarga saling berkunjung. Namun, di balik suasana itu, ada kelompok pekerja yang justru tetap berada di jalan. Mereka adalah para pengemudi ojek daring.

Di banyak kota, saat takbir berkumandang hingga hari pertama Idulfitri, aplikasi transportasi daring tetap beroperasi. Pesanan makanan, pengantaran barang, hingga permintaan perjalanan tetap muncul. Dan di layar ponsel para pelanggan, selalu ada pengemudi yang siap menerima pesanan.

Bagi sebagian pengemudi, bekerja saat Lebaran bukan sekadar pilihan, melainkan kebutuhan ekonomi. Pendapatan harian menjadi alasan utama mengapa mereka tetap mengaspal ketika banyak orang lain sedang merayakan hari raya bersama keluarga. Fenomena ini menunjukkan sisi lain dari ekonomi platform yang sering luput dari perhatian publik.

Lebaran yang Berbeda

Bagi banyak pengemudi ojek daring, Lebaran tidak selalu identik dengan pulang kampung. Biaya perjalanan yang mahal, kebutuhan keluarga, atau tuntutan ekonomi membuat sebagian dari mereka memilih tetap berada di kota.

Sebagian pengemudi bahkan memanfaatkan momen Lebaran sebagai kesempatan untuk memperoleh pendapatan lebih besar. Pada hari-hari tersebut, jumlah pengemudi yang aktif biasanya berkurang, sementara permintaan layanan masih tetap ada. Kondisi ini membuat tarif atau insentif tertentu menjadi lebih menarik. Tidak sedikit pengemudi yang sengaja tetap bekerja karena berharap mendapatkan penghasilan tambahan.

Namun, di balik keputusan tersebut, ada pengonbanan yang tidak kecil. Mereka harus melewatkan momen berkumpul dengan keluarga atau merayakan hari raya secara sederhana di sela-sela waktu bekerja.

Ekonomi Platform dan Ketidakpastian

Cerita para pengemudi yang tetap bekerja saat Lebaran juga mencerminkan karakter ekonomi gig yang fleksibel, tetapi tidak selalu stabil. Sebagai mitra platform, para pengemudi tidak memiliki jam kerja tetap. Mereka bebas menentukan kapan ingin bekerja dan kapan ingin beristirahat. Fleksibilitas ini sering disebut sebagai keunggulan utama model kerja berbasis aplikasi.

Namun, fleksibilitas itu datang bersama ketidakpastian. Pendapatan pengemudi sangat bergantung pada jumlah pesanan, kebijakan insentif perusahaan, dan dinamika algoritma aplikasi. Ketika permintaan tinggi, pendapatan bisa meningkat. Tetapi ketika pesanan sepi atau kebijakan berubah, penghasilan dapat menurun secara drastis.

Dalam situasi seperti Lebaran, keputusan untuk tetap bekerja menjadi bentuk strategi ekonomi. Para pengemudi berusaha memanfaatkan setiap peluang agar penghasilan mereka tetap terjaga.

Wajah Lain Perayaan

Keberadaan pengemudi ojek daring yang tetap bekerja saat Lebaran sebenarnya memperlihatkan wajah lain dari perayaan hari raya di kota-kota besar. Di satu sisi, masyarakat menikmati kemudahan layanan digital yang tetap tersedia bahkan di hari libur besar. Pesanan makanan dapat diantar, barang dapat dikirim, dan mobilitas tetap terjaga.

Namun, di sisi lain, kemudahan tersebut bergantung pada kerja orang-orang yang tidak sepenuhnya merasakan libur yang sama. Mereka tetap berada di jalan agar sistem layanan digital terus berjalan. Realitas ini mengingatkan kita bahwa di balik kenyamanan teknologi, selalu ada tenaga manusia yang menopangnya.

Lebaran memang tentang kebersamaan dan saling berbagi. Dalam konteks ekonomi digital hari ini, makna itu seharusnya juga mencakup perhatian terhadap para pekerja yang menjaga roda layanan tetap berputar, bahkan ketika sebagian besar masyarakat sedang menikmati hari raya.