Popularitas anime dan budaya pop Jepang di Indonesia selama ini identik dengan hobi dan hiburan. Namun di balik besarnya jumlah penggemar, tersimpan potensi ekonomi kreatif yang mulai dilirik sebagai peluang kolaborasi industri antara Indonesia dan Jepang.
Hal itu ditandai dengan hadirnya platform resmi Japanese Intellectual Property (IP) pertama di Indonesia yang bertujuan mempertemukan pemilik lisensi dari Jepang dengan pelaku industri kreatif, kreator, hingga komunitas lokal.
Berbeda dengan festival pop culture pada umumnya yang berfokus pada penggemar, platform ini juga dirancang untuk membuka peluang kerja sama bisnis (Business-to-Business/B2B) melalui pemanfaatan hak kekayaan intelektual, karakter, musik, dan berbagai produk kreatif asal Jepang.
CEO Basnesia, Tomoki Hasegawa, menilai antusiasme masyarakat Indonesia terhadap IP Jepang sangat besar dan berpotensi dikembangkan menjadi kolaborasi yang lebih luas.
"Indonesia itu jauh lebih besar antusiasnya, tinggi antusiasnya terhadap IP-IP Jepang," kata Tomoki.
Menurutnya, selama ini pemanfaatan IP dalam berbagai sektor industri di Indonesia masih belum seoptimal Jepang. Di negara tersebut, karakter, anime, hingga berbagai karya kreatif telah terintegrasi dengan produk dan layanan di berbagai sektor ekonomi.
Potensi itu dinilai semakin besar karena Indonesia memiliki populasi muda yang besar serta komunitas kreatif yang terus berkembang. Karena itu, penyelenggara mulai menggeser pendekatan dari sekadar hiburan menjadi ruang kolaborasi antara pemilik lisensi, pelaku usaha, dan kreator lokal.
Ketua MMAJ 2026, Takayuki Yamanaka, mengatakan komunitas menjadi salah satu fokus utama dalam pengembangan ekosistem kreatif tersebut.
"Sejak pandemi memang antusias Indonesia terhadap Jepang semakin tinggi dan kami juga merasakan hal itu. Khususnya untuk MMAJ 2026, kami mengajak lebih dari 300 komunitas untuk kolaborasi dengan karakter, anime, lagu, dan IP lainnya," ujarnya.
Keterlibatan komunitas dinilai penting karena memiliki basis penggemar yang kuat dan dapat menjadi penghubung antara industri dengan konsumen. Selain itu, komunitas juga berpotensi melahirkan berbagai karya turunan kreatif yang memiliki nilai ekonomi.
Inisiatif ini turut mendapat dukungan dari sejumlah lembaga, termasuk Japan External Trade Organization (JETRO) dan sektor perbankan melalui SMBC Indonesia. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat membuka peluang pertukaran pengetahuan, pengembangan karya bersama (co-creation), hingga akses pasar yang lebih luas bagi kreator Indonesia.
Penyelenggara berharap platform ini tidak hanya menjadi ajang hiburan tahunan, tetapi juga menjadi pintu masuk bagi lahirnya kolaborasi baru antara Indonesia dan Jepang di sektor ekonomi kreatif.
Dengan jumlah penggemar budaya pop Jepang yang terus bertumbuh, Indonesia dinilai memiliki peluang untuk berkembang bukan hanya sebagai pasar konsumen, tetapi juga sebagai salah satu pusat industri kreatif dan pop culture di Asia Tenggara.
Baca Juga
-
Metode Baca Bareng di Taman: Cara Ibu-Ibu Jagakarsa Mengajarkan Anak Mencintai Buku Tanpa Paksaan
-
Satu Tante yang Teredukasi Bisa Berdayakan Satu Keluarga, Gimana Caranya?
-
Lari dari Adiksi Gawai dan Stres Domestik: Para Ibu di Klabu Temukan Kewarasan Lewat Literasi
-
Dear Tante: Saat Sosok "Aunty" Hadir Menjadi Support System Hangat bagi Ibu Baru
-
Fenomena 'Digital to Reality': Mengapa Interaksi Online Jadi Kunci Konser Artis Mancanegara?
Artikel Terkait
News
-
Kemenhub Percepat Dekarbonisasi, LINTAS Jadi Ruang Diskusi Transportasi Berkelanjutan
-
Beban Ganda Perempuan Kepala Keluarga: Bangun Jam Lima pagi, Malam Masih Menghitung Setoran
-
Sudah Saatnya Night Eating Syndrome Menjadi Perhatian Nasional
-
Realita Generasi Bertahan: Gaji Jalan di Tempat, Kebutuhan Lari Kencang
-
Teringat Rekan Kerja Cantik yang Selalu Menunduk: Pahitnya Menjadi Target Catcalling
Terkini
-
Jika Argentina Juara, Benarkah Dinasti Baru Sepak Bola Dunia Resmi Dimulai?
-
Misteri Pembunuhan di Ruangan Tertutup dalam Novel Everything Becomes F
-
Dari Propaganda hingga Pengawasan: Mengapa 1984 Tetap Relevan di Zaman Digital
-
Membaca, Menunda, Lupa: Ketika Balasan Chat Hanya Berakhir di Kepala
-
Kesenjangan Harga dan Gaji: Mengapa Makanan di Mal Makin Tak Terjangkau?