Kembalinya hak siar Piala Dunia 2026 ke TVRI menjadi salah satu kejutan dalam industri penyiaran nasional. Di tengah dominasi grup media swasta dalam beberapa edisi terakhir, lembaga penyiaran publik justru berhasil mengamankan hak siar untuk turnamen terbesar sepak bola dunia tersebut.
Secara umum, hak siar Piala Dunia berada di bawah kendali FIFA yang kemudian didistribusikan melalui agen pemegang lisensi resmi di tiap kawasan. TVRI dinilai memenuhi aspek jangkauan siaran nasional, status sebagai lembaga penyiaran publik, serta komitmen menghadirkan tayangan olahraga gratis untuk masyarakat luas.
Kembalinya TVRI juga dinilai sebagai momentum pemerataan akses siaran, terutama bagi masyarakat di daerah yang mengandalkan siaran terestrial gratis.
Apa Saja Syarat TVRI untuk Menyiarkan Piala Dunia?
Untuk menayangkan Piala Dunia, sebuah stasiun televisi harus memenuhi sejumlah persyaratan utama, di antaranya:
- Kapasitas teknis siaran nasional (jaringan pemancar luas).
- Standar kualitas produksi dan transmisi.
- Kepastian hak distribusi yang sah.
- Komitmen terhadap regulasi penyiaran dan perlindungan hak cipta.
Sebagai lembaga penyiaran publik, TVRI memiliki infrastruktur jaringan hampir di seluruh Indonesia. Hal ini menjadi salah satu kekuatan utama dalam proses akuisisi hak siar. Selain itu, faktor keberlanjutan finansial dan kerja sama komersial juga menjadi bagian penting dalam negosiasi hak siar ajang sebesar Piala Dunia.
Kilas Balik TV Indonesia yang Pernah Menyiarkan Piala Dunia
Perjalanan siaran Piala Dunia di Indonesia terbilang dinamis. Pada masa awal, masyarakat hanya mengenal TVRI sebagai satu-satunya layar untuk menyaksikan pesta sepak bola empat tahunan tersebut. Namun, memasuki era televisi swasta, hak siar mulai berpindah tangan mengikuti dinamika industri media nasional.
Grup MNC melalui RCTI dan Global TV sempat menjadi rumah bagi Piala Dunia edisi 2002 dan 2010. Atmosfer kompetisi kala itu begitu terasa dengan tayangan yang menjangkau jutaan pemirsa di seluruh Indonesia.
Memasuki 2014, giliran ANTV dan tvOne yang memegang hak siar. Empat tahun berselang, estafet berpindah ke Trans TV dan Trans7 pada edisi 2018. Sementara itu, pada Piala Dunia 2022, publik menyaksikannya melalui jaringan SCTV dan Indosiar di bawah naungan grup Emtek.
Perpindahan hak siar tersebut mencerminkan betapa strategisnya Piala Dunia dalam peta bisnis penyiaran. Ajang ini bukan hanya soal sepak bola, melainkan juga tentang persaingan rating, iklan, dan eksposur nasional.
Sejarah TVRI di Era Orde Baru: Penyiar Utama Ajang Dunia
Di masa Orde Baru, TVRI menjadi satu-satunya televisi nasional. Seluruh siaran ajang internasional, termasuk Piala Dunia, hanya bisa diakses melalui layar TVRI.
Pada masa itu, momen menonton Piala Dunia menjadi pengalaman kolektif. Warga berkumpul di rumah tetangga yang memiliki televisi, menyaksikan pertandingan secara bersama-sama. Dominasi TVRI kala itu bukan hanya karena hak siar, tetapi karena belum adanya televisi swasta nasional.
Cara Menonton Piala Dunia 2026 di TVRI
Dengan hak siar resmi di tangan TVRI, masyarakat dapat kembali menikmati Piala Dunia 2026 melalui siaran televisi nasional gratis. Saat ini, sistem penyiaran di Indonesia telah sepenuhnya beralih ke digital, sehingga pemirsa cukup memastikan televisi yang digunakan sudah mendukung siaran DVB-T2 atau menggunakan set top box bagi perangkat lama.
Sebagai lembaga penyiaran publik dengan jaringan hampir di seluruh wilayah Indonesia, TVRI memiliki jangkauan yang luas hingga ke daerah-daerah. Selain siaran terestrial, tidak menutup kemungkinan pertandingan juga dapat diakses melalui platform digital resmi TVRI apabila skema distribusi daring (online) diberlakukan.
Dengan infrastruktur tersebut, akses menonton diharapkan lebih merata dan berkualitas, menghadirkan kembali pengalaman menyaksikan Piala Dunia secara gratis dan nasional seperti era sebelumnya.
Penutup
Kembalinya Piala Dunia ke layar TVRI bukan sekadar soal hak siar. Ini juga menjadi simbol perputaran industri penyiaran nasional dari era tunggal Orde Baru, ke dominasi grup swasta, hingga kini kembali ke lembaga publik.
Bagi generasi lama, ini adalah nostalgia. Bagi generasi baru, ini bisa jadi pengalaman pertama menyaksikan Piala Dunia gratis di televisi nasional. Dan untuk sepak bola, satu hal yang tetap sama: euforianya selalu menyatukan.
Baca Juga
-
Tutorial Habisin THR Berfaedah: Borong Buku di Gramedia Mumpung Masih Diskon!
-
Review Abang Adik: Siap-siap Banjir Air Mata dari Kisah Pilu Dua Saudara
-
XO, Kitty Season 3 Tayang 2 April, Jadi Penutup Kisah Cinta Kitty di KISS
-
Ironi Hari Air Sedunia: Ketika Air yang Melimpah Justru Menjadi Kemewahan
-
Dari Rumah Penuh Konflik ke Puncak Kesuksesan: Transformasi Jennifer Lawrence di Film Joy
Artikel Terkait
-
Beri Motivasi, Rivaldo Kunjungi Sesi Latihan Timnas Brasil di Orlando
-
Riccardo Calafiori Siap Hancurkan Irlandia Utara, Singgung Kedekatan Tak Biasa dengan Gattuso
-
Komentar Mengejutkan Patrick Kluivert, Tak Merasa Bersalah Gagal Bawa Timnas Indonesia ke Pildun
-
Kylian Mbappe Bocorkan Tips Rahasia demi Prancis Juara Piala Dunia 2026
-
Keputusan Carlo Ancelotti Coret Neymar Bikin Marah Legenda Brasil
News
-
Waspada! 5 Kebiasaan Online Sepele yang Diam-Diam Mengancam Keamanan Data Anda
-
Di Balik Tren Turunnya Pemudik: Dilema Ekonomi yang Mengalahkan Tradisi Pulang Kampung
-
Gajah Indonesia Butuh Perhatian: Selamatkan Mereka dari Kesalahan Alih Fungsi Hutan
-
Strategi Sukses Lewati Macet Arus Balik 2026: Jangan Cuma Modal Google Maps!
-
Mengenal Mere-Exposure Effect: Saat Algoritma Diam-Diam Membentuk Selera Musikmu
Terkini
-
Surat untuk Masa Mudaku: Film tentang Penerimaan atas Luka Masa Kecil
-
Konten 'Back to Reality' di Media Sosial dan Narasi Kolektif Pasca Lebaran
-
Nonton Tunggu Aku Sukses Nanti: Relatable Sih, tapi Kok Kayak Takut Terlalu Jujur
-
Hijab Takut Berantakan Saat Naik Motor? Ini 3 Helm yang Cocok Dipakai
-
HONOR Magic8 Pro: Kamera 200MP dan Baterai Tangguh Kumpul dalam Satu Perangkat