Underground adalah buku nonfiksi pertama karya Haruki Murakami yang berisi kumpulan wawancara dengan para korban dan saksi Tokyo subway sarin attack.
Melalui suara-suara personal, Murakami menghadirkan pengalaman nyata para penyintas dari kepanikan di dalam kereta, kebingungan petugas, hingga trauma yang terus membekas setelah kejadian.
Dalam buku ini, Murakami tidak berfokus pada pelaku, melainkan pada para korban. Ia mewawancarai sekitar 62 orang yang terlibat langsung dalam kejadian tersebut, meskipun hanya sekitar 60 yang akhirnya bersedia dipublikasikan.
Ulasan Buku
Pagi itu, 20 Maret 1995, dimulai seperti Senin biasa di Tokyo. Udara masih dingin, dan ribuan orang bergerak dalam rutinitas yang sama: bangun, bersiap, lalu berdesakan masuk ke kereta bawah tanah. Tidak ada yang benar-benar memperhatikan satu sama lain—semuanya berjalan otomatis.
Namun, dalam kesaksian para korban yang dihimpun Haruki Murakami dalam Underground, horor itu justru muncul dari sesuatu yang nyaris tak terlihat.
Gas yang digunakan dalam serangan ini adalah sarin, yaitu senyawa kimia beracun yang termasuk dalam kelompok nerve agent. Zat ini pertama kali dikembangkan oleh ilmuwan Jerman pada era Perang Dunia II, dan dikenal sangat mematikan bahkan dalam dosis yang sangat kecil.
Yang membuatnya semakin berbahaya adalah sifatnya yang sulit dikenali. Tidak semua orang langsung sadar bahwa mereka telah terpapar racun.
Dalam berbagai kesaksian di buku ini, para korban menggambarkan gejala awal yang membingungkan. Ada yang tiba-tiba sesak napas, ada yang merasa seperti “napasnya terhenti”, ada juga yang mulai batuk tanpa tahu penyebabnya. Tidak ada teriakan panik di awal. Justru kebingungan yang lebih dulu menyebar.
Di dalam gerbong, batuk mulai terdengar di sana-sini. Perlahan, semakin banyak orang mengalami hal yang sama. Namun, karena tidak ada tanda bahaya yang jelas, banyak yang tetap diam mengira itu hanya gangguan biasa.
Sementara itu, di stasiun, tragedi berkembang jauh lebih cepat.
Petugas menemukan cairan mencurigakan yang dibungkus koran. Tanpa mengetahui bahwa itu adalah sarin, mereka mencoba membersihkannya. Mereka menyentuhnya, mengangkatnya, bahkan membawanya keluar dari kereta.
Yang miris, petugas seperti Takahashi dan Hishinuma justru menjadi korban karena tindakan mereka untuk menolong. Dalam kesaksian rekan mereka, Toshiaki Toyoda, terlihat bagaimana kondisi mereka memburuk dalam hitungan menit dari masih sadar hingga akhirnya tidak bisa bergerak sama sekali.
Beberapa korban harus dibawa ke rumah sakit menggunakan kendaraan biasa, termasuk mobil kru televisi. Ada juga korban yang sudah tergeletak lama sebelum akhirnya mendapat pertolongan.
Di atas permukaan, dunia tetap berjalan seperti biasa.
Salah satu kesaksian paling kuat menggambarkan bagaimana di satu sisi jalan orang-orang tergeletak dalam kondisi kritis, sementara di sisi lain, para pekerja tetap berjalan menuju kantor. Mereka melihat, tetapi tidak berhenti. Seolah-olah tragedi itu terjadi di dunia yang berbeda.
Setelah kejadian ini, pemerintah Jepang melakukan investigasi besar-besaran. Serangan ini kemudian dikaitkan dengan kelompok sekte keagamaan Aum Shinrikyo, yang dipimpin oleh Shoko Asahara.
Investigasi mengungkap bahwa kelompok ini tidak hanya merencanakan serangan, tetapi juga memproduksi sarin secara mandiri dalam skala besar—sesuatu yang mengejutkan dunia, karena menunjukkan bahwa senjata kimia bisa dibuat oleh kelompok non-negara.
Pemerintah Jepang kemudian menangkap para pelaku utama dan mengadili mereka. Kasus ini juga memicu perubahan besar dalam kebijakan keamanan dan penanganan darurat di Jepang, termasuk kesiapan menghadapi serangan kimia serta koordinasi antarinstansi.
Namun, seperti yang ditunjukkan Murakami, luka dari tragedi ini tidak berhenti pada penangkapan pelaku.
Banyak korban harus hidup dengan dampak jangka panjang seperti gangguan pernapasan, trauma psikologis, hingga rasa terasing dari masyarakat. Beberapa bahkan mengalami apa yang disebut sebagai “secondary victimization”, yaitu tekanan sosial setelah kejadian.
Melalui kumpulan kesaksian ini, Underground tidak hanya merekam tragedi Tokyo subway sarin attack, tetapi juga memperlihatkan sisi paling rapuh dari manusia: bagaimana kita bereaksi terhadap sesuatu yang tidak kita pahami, dan bagaimana sebuah masyarakat menghadapi luka yang tidak terlihat.
Identitas Buku
- Judul: Underground: The Tokyo Gas Attack and the Japanese Psyche
- Penulis: Haruki Murakami
- Tahun terbit: 1997 (Jepang), 2000 (terjemahan Inggris)
- Genre: Nonfiksi / Jurnalisme naratif
- Isi: Wawancara korban & analisis sosial
Baca Juga
-
Jadi "Patrick Otak Besar": Strategi Survival Saat Gaji Habis Ditelan Harga Beras
-
4 Rekomendasi Double Sleeve Tee 100 Ribuan, Cocok untuk Hangout dan Konser!
-
Niatnya Go Green Pakai Wadah Sendiri, Eh Malah Kena 'Pajak' Tak Terduga
-
Benarkah Internet Kita Menyumbang Jejak Karbon Tertinggi di Luar Angkasa?
-
Antara Topeng Kasih dan Kewaspadaan: Refleksi dari Kasus Little Aresha
Artikel Terkait
Ulasan
-
Of Love and Other Demons: Kritik Tajam terhadap Takhayul dan Prasangka
-
Eighty Six: Ketika Manusia Dijadikan Mesin Perang oleh Negaranya Sendiri
-
Di Bawah Hujan 1991: Melankolia dalam Novel Goodbye Fairy
-
Full Daging, Menikmati Sensasi Bakso Autentik ala Cak Wawan di Kota Jambi
-
Masjid Baiturrahman, Tempat Melepas Penat di Tengah Kesibukan Kota Semarang
Terkini
-
4 Spray Serum Bi-Phase Kunci Kulit Glowing Setiap Hari, Under Rp100 Ribuan!
-
Privasi Semakin Tipis di Era Digital: Ketika Hidup Jadi Konsumsi Publik
-
4 Clay Mask Peppermint dengan Sensasi Cooling untuk Hempas Minyak Membandel
-
Earphone Kabel Kembali Digemari Anak Muda, Nostalgia atau Kesadaran?
-
5 Clay Mask Mugwort Lokal untuk Wajah Lebih Bersih, Tenang, dan Bebas Kilap