M. Reza Sulaiman | Rahel Ulina Br Sembiring
ilustrasi makan tabungan pada gen Z (Pexels/www.kaboompics.com)
Rahel Ulina Br Sembiring

Belakangan ini, fenomena "Makan Tabungan" (dissaving) sedang ramai diperbincangkan. Istilah ini terdengar ngeri, tapi bagi banyak orang, inilah realitas pahit di tahun 2026.

Data dari para pengamat ekonomi menunjukkan bahwa kenaikan harga bahan pokok (bapok) sudah tidak lagi sebanding dengan kenaikan gaji tahunan. Akibatnya, banyak pekerja, terutama Gen Z, terpaksa mengambil dana dari tabungan hanya untuk menambal biaya hidup sehari-hari.

Ketika Tabungan Menjadi "Tumbal" Inflasi

Menurut para pakar, fenomena makan tabungan ini terjadi karena daya beli masyarakat yang kian tergerus. Bagi Gen Z yang baru meniti karier, kondisi ini adalah ujian berat. Kita sering dituduh boros karena gaya hidup, padahal faktanya, harga kebutuhan dasar memang sedang tidak ramah pada saldo rekening. Gaji habis di tengah bulan bukan karena kopi susu, tapi karena harga beras dan minyak goreng yang enggan turun.

Filosofi 'Patrick Otak Besar': Kreativitas dan Adaptasi

meme gaji pas-pasan (x.com/Santi_nya)

Di tengah situasi terjepit ini, muncul meme Patrick Star dengan otak raksasa yang sedang berpikir keras dengan teks: "Nyari tambahan kemana lagi ya?". Jika kita ulik, Patrick sebenarnya adalah Raja Side Hustle di Bikini Bottom.

Mulai dari jadi karyawan Krusty Krab, sales cokelat, penemu, hingga pengarah iklan, Patrick tidak pernah gengsi mengambil pekerjaan apa pun.

Bagi saya, menjadi "Patrick" berarti menjadi adaptif. Patrick membuktikan bahwa di balik sifat konyolnya, ia selalu punya cara dan tenaga untuk mencari tambahan demi bisa tetap bertahan hidup di bawah batunya. Itulah mengapa meme "Otak Besar" ini sangat cocok: impitan ekonomi memang memaksa kita mengeluarkan kapasitas otak maksimal untuk menemukan celah pendapatan baru.

Kontras Generasi: Antara "Kedamaian" dan "Bertahan Hidup"

Saya jadi teringat Bapak saya yang selain berjualan juga aktif berladang sebagai side hustle. Bapak pernah bilang dengan dia berladang secara tidak langsung, ia mencari olahraga sekaligus mendapat keuntungan. Dengan adanya side hustle, Bapak merasa lebih tenang karena punya bantalan ekstra agar tidak perlu cemas saat harga barang naik.

Namun, bagi kita Gen Z yang hidup di era 2026, situasinya jauh berbeda. Jika bagi generasi Bapak side hustle adalah tentang kedamaian, bagi kita ini adalah tentang survival (bertahan hidup).

Kita tidak lagi mencari tambahan untuk "tidur lebih nyenyak", tapi agar bisa "tetap makan". Kita tidak mencari kerja sampingan untuk menambah kenyamanan, tapi untuk memastikan tabungan tidak menyentuh angka nol sebelum bulan berganti. Ini adalah kontras yang menyedihkan sekaligus memicu semangat: bahwa kreativitas kita saat ini lahir dari desakan kebutuhan yang paling dasar.

Penutup: Jangan Biarkan Tabunganmu Habis

Jika dulu side hustle dianggap sebagai gaya hidup, sekarang fungsinya bergeser menjadi mekanisme pertahanan diri. Kita "menaikkan gaji" sendiri lewat kreativitas karena tidak bisa hanya menunggu keajaiban.

Fenomena makan tabungan ini adalah alarm bagi kita untuk tetap tangguh. Mari kita memutar otak seperti Patrick bukan karena serakah, tapi untuk menjemput kedamaian finansial di tengah ketidakpastian. Jadi, sudahkah kamu "memutar otak" hari ini?