M. Reza Sulaiman | Shi Mizorogi
orang yang membaca buku (freepik)
Shi Mizorogi

Secara ilmiah, kebiasaan terbentuk melalui proses berulang yang melibatkan otak. Mengutip dari buku The Power of Habit karya Charles Duhigg, kebiasaan terbentuk melalui tiga komponen utama, yaitu isyarat (cue), rutinitas (routine), dan hadiah (reward).

Isyarat adalah pemicu yang membuat seseorang melakukan suatu tindakan, rutinitas adalah tindakan itu sendiri, dan hadiah adalah manfaat atau rasa puas yang diperoleh setelah melakukan tindakan tersebut. Ketiga elemen ini membentuk apa yang disebut sebagai habit loop atau "lingkaran kebiasaan".

Sebagai contoh, seseorang yang terbiasa minum kopi setiap pagi mungkin dipicu oleh rasa kantuk (isyarat), kemudian ia membuat dan meminum kopi (rutinitas), dan akhirnya merasa segar (hadiah). Ketika proses ini diulang secara konsisten, otak akan merekam pola tersebut sebagai kebiasaan otomatis.

Butuh Berapa Lama Membentuk Kebiasaan?

Lebih lanjut, menyadur dari jurnal penelitian yang dipublikasikan dalam European Journal of Social Psychology oleh Phillippa Lally dan timnya, dibutuhkan rata-rata 66 hari bagi seseorang untuk membentuk kebiasaan baru. Namun, angka ini bukanlah patokan mutlak. Lama waktu pembentukan kebiasaan dapat bervariasi tergantung pada kompleksitas perilaku dan konsistensi individu dalam melakukannya.

Selain faktor pengulangan, lingkungan juga memainkan peran penting dalam pembentukan kebiasaan. Mengutip dari artikel yang dipublikasikan oleh Harvard Health Publishing, lingkungan yang mendukung dapat mempercepat terbentuknya kebiasaan positif. Sebagai contoh, seseorang yang ingin membiasakan diri berolahraga akan lebih mudah melakukannya jika ia berada di lingkungan yang menyediakan fasilitas olahraga atau memiliki teman dengan kebiasaan serupa.

Tidak hanya itu, faktor emosional juga turut memengaruhi. Kebiasaan yang memberikan rasa nyaman atau kepuasan cenderung lebih mudah terbentuk dan bertahan lama. Sebaliknya, kebiasaan yang tidak memberikan dampak emosional positif cenderung sulit untuk dipertahankan.

Dampak Media Sosial terhadap Kebiasaan

Di era digital saat ini, media sosial juga memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan kebiasaan. Mengutip dari laporan Digital 2024 Global Overview Report oleh We Are Social dan Meltwater, penggunaan media sosial yang tinggi dapat membentuk kebiasaan baru, seperti kebiasaan mengecek ponsel secara berkala.

Kebiasaan ini terbentuk karena adanya sistem notifikasi yang berfungsi sebagai isyarat, interaksi di media sosial sebagai rutinitas, dan rasa puas atau terhibur sebagai hadiah.

Namun demikian, tidak semua kebiasaan bersifat positif. Kebiasaan buruk juga terbentuk melalui mekanisme yang sama. Oleh karena itu, penting bagi individu untuk menyadari pola kebiasaan yang dimilikinya. Dengan memahami bagaimana kebiasaan terbentuk, seseorang dapat lebih mudah mengubah kebiasaan buruk menjadi kebiasaan yang lebih baik.

Strategi Mengubah Kebiasaan Buruk

Mengubah kebiasaan bukanlah hal yang mudah, tetapi bukan pula sesuatu yang mustahil. Salah satu strategi yang dapat dilakukan adalah dengan mengganti rutinitas tanpa mengubah isyarat dan hadiah. Misalnya, jika seseorang terbiasa mengonsumsi camilan tidak sehat saat stres, ia dapat menggantinya dengan aktivitas lain seperti berjalan kaki atau minum air putih, tanpa mengubah pemicu stres dan kebutuhan akan rasa lega.

Selain itu, konsistensi dan kesabaran menjadi kunci utama dalam membentuk kebiasaan baru. Tidak jarang seseorang gagal di tengah jalan karena merasa tidak melihat hasil yang instan. Padahal, kebiasaan adalah proses jangka panjang yang membutuhkan komitmen.

Sebagai penutup, kebiasaan bukan hanya sekadar tindakan yang diulang, melainkan fondasi yang membentuk karakter dan kualitas hidup seseorang. Dengan memahami proses terbentuknya kebiasaan, setiap individu memiliki kesempatan untuk membangun kehidupan yang lebih baik melalui perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten.

Baca Juga