Sore tadi, di tengah usaha saya merampungkan cucian piring yang menumpuk, sebuah drama domestik klasik terjadi di ruang tengah. Anak saya yang berusia empat tahun mendadak menangis histeris, bergulingan di lantai, hanya karena warna sedotan yang saya berikan tidak sesuai dengan imajinasinya saat itu.
Mengingat wejangan dari sebuah video gentle parenting yang berdurasi satu menit di TikTok yang saya tonton semalam, saya langsung menarik napas dalam-dalam. Sembari berlutut agar sejajar dengan matanya, saya mencoba mengatur nada suara selembut mungkin, "Ibu tahu kamu kecewa nak, emosimu valid..."
Namun, alih-alih mereda, tangisannya justru makin melengking tinggi, sementara dada saya sudah terasa sesak menahan amarah yang siap meledak. Di titik itulah saya tersadar, tren pola asuh modern ini sering kali terasa indah di layar gawai, namun berdarah-darah saat dieksekusi di dunia nyata.
Jika melihat fenomena ini dari sudut pandang sosiologi keluarga, gentle parenting kini bukan lagi sekadar metode alternatif, melainkan sudah menjelma menjadi sebuah standar moral baru yang sangat menghakimi.
Media sosial sukses mengemas metode ini dengan sangat estetik: ibu yang selalu tenang dengan pakaian rapi, rumah yang minimalis, dan anak yang langsung paham saat dinasihati dengan suara berbisik.
Format ideal yang artifisial ini secara tidak sadar melahirkan sebuah monster baru bernama mom guilt—rasa bersalah yang akut di dalam diri seorang ibu. Sekali saja seorang ibu refleks meninggikan nada suara karena kelelahan, ia akan langsung merasa telah gagal total dan merusak masa depan psikologis anaknya sendiri.
Jika dibedah secara logis, celah terbesar dari penerapan gentle parenting di Indonesia adalah pengabaian terhadap realitas support system yang dimiliki oleh setiap ibu.
Teori-teori barat yang diadopsi secara mentah-mentah tersebut sering kali mengasumsikan bahwa sang ibu berada dalam kondisi mental yang stabil, memiliki waktu luang yang cukup, dan dibantu oleh lingkungan yang suportif.
Padahal, kenyataannya, mayoritas ibu di kelas menengah ke bawah harus memikirkan urusan domestik sendirian dari subuh hingga malam, memutar otak mengatur uang belanja yang makin menipis, bahkan tidak sedikit yang harus sembari bekerja. Menuntut seorang ibu untuk selalu waras dan lembut 24 jam sehari tanpa memberikan mereka ruang untuk beristirahat adalah sebuah bentuk kekejaman berpikir.
Dari sudut pandang saya, posisi saya dalam isu ini sangat jelas, kita harus berani memisahkan antara idealisme pengasuhan yang sehat dan utopia media sosial yang manipulatif.
Anak-anak memang membutuhkan kasih sayang dan validasi emosi, tetapi mereka juga perlu melihat bahwa ibu mereka adalah manusia biasa yang memiliki batas lelah, bisa merasa sedih, dan boleh merasa kesal.
Memaksakan diri menjadi "ibu sempurna" yang tidak pernah marah justru akan melahirkan bom waktu emosional yang jauh lebih berbahaya bagi kesehatan mental keluarga. Kita menjadi generasi ibu yang paling berpendidikan dalam sejarah pola asuh, namun ironisnya, kita juga menjadi generasi ibu yang paling cemas dan paling mudah merasa gagal.
Gelombang tren gentle parenting ini menyisakan sebuah refleksi penting yang patut kita renungkan bersama tanpa perlu merasa tersinggung. Apakah kita benar-benar sedang menerapkan pola asuh yang bijaksana untuk anak, atau kita sebenarnya hanya sedang ketakutan setengah mati terhadap penilaian orang lain di ruang digital?
Menjadi ibu adalah sebuah perjalanan spiritual yang penuh dengan ruang belajar yang tidak sempurna, bukan sebuah panggung teater tempat kita harus selalu berakting tenang demi mendapatkan takjub dari netizen.
Mungkin, sebelum kita kembali menelan mentah-mentah tips pengasuhan dari video pendek malam ini, ada baiknya kita berdamai dengan diri sendiri: anak kita tidak membutuhkan ibu yang sempurna seperti di media sosial, mereka hanya membutuhkan ibu yang bahagia dan selesai dengan dirinya sendiri.
Baca Juga
-
Ibu Bekerja Pulang Malam Dicap Penjahat, tapi Ayah Lembur Disebut Pahlawan
-
Realistis atau Privilege? Mendalami Zero Waste di Lingkungan Masyarakat
-
Saya Ibu Biasa dan Konten Momfluencer Membuat Saya Merasa Gagal, Mengapa?
-
Berhenti Merasa Nyaman dalam Ketidaktahuan: Mengapa Istri Wajib Tahu Keuangan Keluarga
-
Seni Bertahan Hidup dengan Gaji UMR yang Habis Sebelum Bulan Berganti
Artikel Terkait
-
5 Hari Hilang di Hutan IKN, Pemburu Ini Ditemukan Hidup secara Ajaib
-
Ibu Bekerja Pulang Malam Dicap Penjahat, tapi Ayah Lembur Disebut Pahlawan
-
5 Moisturizer untuk Ibu Hamil Saat Berjerawat, Harga Mulai Rp40 Ribuan
-
Self-Love dan Depresi dalam Novel 'Matahari Pun Terluka'
-
Moisturizer untuk Ibu Hamil Seperti Apa? Ini 5 Pilihan Produknya untuk Cerahkan Wajah
Kolom
-
Retail Therapy dan Sampah yang Tak Terlihat di Balik Kebiasaan Checkout
-
TikTok Made Me Buy It: Saat Budaya Konsumtif dan FOMO Berkolaborasi
-
Bakar Sampah Bukan Solusi Praktis: Mengapa Cara Tradisional Ini Justru Mengancam Nyawa?
-
War Flash Sale: Benar Hemat atau Justru Jebakan yang Menguras Dompet dan Kesehatan?
-
Rupiah Nyaris Rp18.000: Pasar Butuh Kebijakan, Bukan Teatrikal Senyuman
Terkini
-
Dorohedoro Season 3 Resmi Digarap, MV untuk Lagu Zettai MUST Danmen Dirilis
-
Mengubah Satir Brutal Menjadi Dongeng Manis: Kesalahan Fatal Animal Farm 2025
-
Biar Gak Insecure, Ini 5 Cara Mudah Cegah Bau Ketiak Sejak Dini
-
Kejar Pembunuh di Dua Masa, Tunnel Jadi Drama Misteri yang Sulit Dilupakan
-
Lagi Cari HP Performa Monster? Ini 5 Pilihan HP Snapdragon 8 Gen 5 Terbaru 2026