Hayuning Ratri Hapsari | Leonardus Aji Wibowo
Ribuan cahaya lampion yang perlahan terbang di atas kawasan Borobudur selama ini dikenal sebagai simbol harapan, doa, serta perdamaian. (injourneydestination.id/)
Leonardus Aji Wibowo

Perayaan Waisak 2026 di kawasan Candi Borobudur diperkirakan kembali menghadirkan salah satu momen paling dinanti masyarakat, yakni pelepasan lebih dari 1.000 lampion ke langit malam. Tradisi tersebut menjadi bagian dari rangkaian Tri Suci Waisak yang setiap tahunnya menarik perhatian wisatawan hingga umat Buddha dari berbagai daerah.

Ribuan cahaya lampion yang perlahan terbang di atas kawasan Borobudur selama ini dikenal sebagai simbol harapan, doa, serta perdamaian. Tidak heran jika festival lampion Waisak menjadi salah satu agenda spiritual sekaligus wisata budaya yang paling ikonik di Indonesia.

Perayaan Waisak 2026 sendiri jatuh pada Minggu (31/5/2026). Kawasan Candi Borobudur diperkirakan kembali menjadi pusat kegiatan keagamaan, mulai dari doa bersama, meditasi, hingga prosesi pelepasan lampion pada malam hari.

Tradisi pelepasan lampion bukan sekadar atraksi visual. Dalam tradisi Buddhis, cahaya lampion kerap dimaknai sebagai simbol penerangan batin, harapan, serta pelepasan hal-hal negatif dalam diri manusia.

Sebelum lampion diterbangkan, peserta biasanya diajak mengikuti sesi doa dan meditasi dalam suasana hening di kawasan Borobudur. Momen tersebut menjadi bagian penting dari rangkaian Waisak sebelum ribuan cahaya mulai memenuhi langit malam.

Melansir situs resmi Majelis Agama Buddha Mahanikaya Indonesia (MBMI) pada Jumat (29/5/2026), Festival Lampion Waisak Nasional Borobudur 2026 mengusung tema “Lentera Perdamaian”. Tema tersebut diangkat sebagai simbol doa, harapan, dan nilai kemanusiaan dalam perayaan Waisak tahun ini.

MBMI juga menyebut peserta akan mengikuti rangkaian doa dan pelepasan ribuan lentera di kawasan Candi Borobudur. Selain itu, peserta turut mendapatkan “wishing card” untuk menuliskan harapan sebelum lampion diterbangkan bersama ke langit malam.

Masih melansir laman resmi MBMI, peserta festival juga dianjurkan mengenakan pakaian putih selama acara berlangsung. Warna putih dipilih sebagai simbol ketenangan dan kesederhanaan dalam prosesi Waisak.

Festival lampion tahun ini dijadwalkan berlangsung di kawasan Lapangan Marga Utama dan Taman Lumbini, Candi Borobudur. Pelepasan lampion nantinya dibagi ke dalam dua sesi berbeda.

Banyak pengunjung menyebut pelepasan lampion di Borobudur menghadirkan pengalaman emosional tersendiri. Di tengah suasana malam yang tenang, ribuan orang bersama-sama melepaskan cahaya ke udara sambil membawa doa dan harapan masing-masing.

Meski hanya berlangsung beberapa menit, pelepasan lampion menjadi salah satu momen yang paling ditunggu dalam perayaan Waisak. Perpaduan suasana malam, siluet Candi Borobudur, dan cahaya lampion membuat momen tersebut kerap viral di media sosial.

Perayaan Waisak di Borobudur juga dikenal sebagai salah satu perayaan Buddha terbesar yang digelar di kompleks candi Buddha terbesar dunia. Tidak hanya umat Buddha, festival lampion tersebut juga menarik perhatian wisatawan lokal hingga mancanegara setiap tahunnya.

Selain pelepasan lampion, sejumlah laporan menyebut perayaan Waisak tahun ini juga akan menghadirkan pertunjukan drone yang dipadukan dengan suasana spiritual kawasan Borobudur. Meski begitu, nuansa sakral tetap menjadi bagian utama dari seluruh rangkaian acara.

Di tengah gelapnya malam, ribuan lampion yang perlahan terbang di langit Borobudur bukan hanya menghadirkan pemandangan indah, tetapi juga menjadi simbol harapan yang dilepaskan bersama.