M. Reza Sulaiman
Ilustrasi gagal masuk perguruan tinggi negeri. (Dok. Gemini AI/Nano Banana)

Setiap tahun, bulan-bulan pengumuman universitas menjadi medan perang emosi. Di layar gawai, kita melihat luapan bahagia: foto mengenakan jaket almamater, tangkapan layar portal pengumuman yang berubah menjadi biru (tanda diterima), dan ucapan selamat yang mengalir deras. Namun, di sudut-sudut rumah yang jauh dari sorot lampu media sosial, ada pemuda seperti Krisna yang harus menatap layar berwarna merah dengan sesak yang sulit didefinisikan.

“Sebenarnya impianku hanya satu, bisa masuk di prodi DKV ISI Yogyakarta. Aku sudah bayangkan bakal belajar desain dan mengasah skill di sana," kenang Krisna dengan nada getir dikutip Selasa (21/4/2026).

"Tapi pas pengumuman muncul dan hasilnya gagal, rasanya seperti jalan buntu. Mau daftar ke kampus swasta, Bapak sama Ibu sudah pasti nggak ada biaya, apalagi adikku masih ada dua yang sekarang juga lagi sekolah. Akhirnya ya begini, aku pilih gap year dan kerja dulu. Rasanya lebih baik aku bantu orang tua daripada memaksakan sesuatu yang memang nggak ada biayanya," ungkap Krisna.

Bagi Krisna, warna merah itu bukan sekadar tanda "silakan coba lagi tahun depan". Warna merah itu adalah lonceng peringatan bahwa mimpinya harus diparkir di pinggir jalan.

Setiap tahun, Indonesia melahirkan sekitar 3,7 hingga 3,9 juta lulusan SMA/SMK/MA. Namun, daya serap perguruan tinggi masih menjadi tantangan besar. 

Hingga saat ini, Angka Partisipasi Kasar (APK) Perguruan Tinggi di Indonesia masih berkisar di angka 31%-33%. Artinya, dari 10 anak usia kuliah, hanya 3 orang yang benar-benar bisa mencicipi bangku universitas. Sisanya? Mereka berada di pasar tenaga kerja atau terjebak dalam ketidakpastian ekonomi.

Ilustrasi biaya pendidikan dan pungutan di sekolah. (Freepik/freepik)

Tembok Tinggi Bernama Biaya Swasta

Bagi banyak siswa dari keluarga ekonomi menengah ke bawah, seleksi masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) bukan sekadar ajang unjuk kecerdasan, melainkan pertaruhan nasib. Ketika layar pengumuman menunjukkan warna merah (tidak lolos), pintu masa depan seolah tertutup rapat.

Dalam narasi populer, kita sering mendengar kutipan motivasi: "Kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda". Tapi mari kita jujur, dalam realita ekonomi, kemampuan untuk gagal adalah sebuah privilese.

Bagi anak dari keluarga mapan, gagal di universitas negeri (PTN) hanyalah masalah "pindah jalur". Ada universitas swasta berkualitas yang siap menampung dengan fasilitas lengkap, meskipun biaya masuknya menyentuh angka puluhan atau ratusan juta. Namun bagi Krisna, PTN adalah satu-satunya jalur evakuasi untuk mengubah nasib keluarga. Ketika jalur itu tertutup, ia tidak punya jaring pengaman. 

Universitas swasta, yang seharusnya menjadi alternatif, memiliki tembok biaya yang terlalu tinggi untuk dipanjat. Bagi orang tua Krisna, uang pangkal jutaan rupiah adalah angka yang mustahil dijangkau tanpa harus mengorbankan stabilitas dapur.

Beban "Anak Sulung" dan Dilema Dua Adik

Kisah Krisna semakin kompleks karena ia bukan satu-satunya yang sedang menempuh masa depan. Ada dua adiknya yang juga masih duduk di bangku sekolah. Dalam struktur keluarga Indonesia, anak sulung sering kali memikul beban "Sandwich Generation" lebih awal.

Krisna harus berhadapan dengan realita logis, jika ia memaksakan kuliah di swasta, bagaimana nasib pendidikan kedua adiknya? Pada titik ini, meredam mimpi bukan lagi soal kurangnya semangat, melainkan bentuk pengorbanan dan tanggung jawab yang luar biasa besar.

Kesenjangan ekonomi menciptakan garis start yang berbeda. Sementara anak dari keluarga mampu bisa langsung mengambil les tambahan atau masuk swasta terbaik saat gagal PTN, Krisna harus melakukan sesuatu yang jauh lebih berat, yakni meredam mimpinya. 

Ia harus menunda buku-buku teori dan menggantinya dengan nota penjualan atau seragam kerja. Di sini, realita memaksa Krisna dewasa lebih cepat dari usianya. Ia tidak sedang memilih untuk gap year demi mencari jati diri ala anak-anak indie di media sosial; ia gap year untuk menyambung hidup.

Gap Year Bukan Berarti "Game Over"

Di Indonesia, istilah gap year memiliki dua sisi yang sangat kontras:

  • Voluntary Gap Year (Pilihan): Sekitar 2-3% (biasanya dari keluarga mampu) yang sengaja mengambil jeda untuk traveling, magang, atau kursus di luar negeri.
  • Involuntary Gap Year (Terpaksa): Sekitar 15-18% lulusan yang ingin kuliah tetapi gagal di PTN dan tidak memiliki biaya untuk ke swasta, persis seperti kondisi Krisna. Mereka biasanya menghabiskan waktu setahun untuk bekerja serabutan atau belajar mandiri demi mencoba lagi tahun depan.

Keputusan Krisna untuk bekerja di masa gap year adalah langkah berani yang sering kali disalahpahami sebagai kegagalan. Di tengah gempuran tren hustle culture dan kecepatan hidup di media sosial, memilih untuk berhenti sejenak demi bekerja adalah bentuk resiliensi.

Krisna tidak sedang "kalah" dari teman-temannya yang sudah memakai jas almamater. Ia hanya sedang menempuh jalur yang lebih memutar. Bekerja di masa muda akan memberinya bekal yang tidak dimiliki mahasiswa biasa, di antaranya pemahaman tentang nilai uang, manajemen waktu di dunia kerja, dan ketangguhan mental.

Haruskah mimpi seseorang mati hanya karena ia lahir di keluarga yang belum mapan secara ekonomi? Kasus Krisna mengingatkan kita bahwa sistem pendidikan kita masih menyisakan lubang besar bagi siswa berprestasi yang tidak punya biaya.

Pendidikan Tinggi: Social Elevator atau Barang Mewah?

Pendidikan seharusnya menjadi pengangkat derajat (social elevator), bukan justru memperlebar jurang kesenjangan. Secara sistemik, kita harus bertanya: Sejauh mana pendidikan tinggi benar-benar menjadi tangga mobilitas sosial jika ongkos masuknya masih setinggi langit?

Meskipun ada berbagai program bantuan seperti KIP-Kuliah, kuotanya sering kali belum mampu menjangkau semua "Krisna" di luar sana. Ketika pendidikan berkualitas hanya bisa diakses oleh mereka yang memiliki uang atau mereka yang "beruntung" mendapatkan bantuan, maka pendidikan tidak lagi berfungsi sebagai alat penyetara, melainkan sebagai alat penggenggam status sosial.

Bagi teman-teman yang mungkin berada di posisi Krisna, ingatlah bahwa prosesmu valid. Hidup bukan perlombaan lari 100 meter, melainkan maraton panjang. Jika hari ini kamu harus bekerja demi adik-adikmu atau demi menabung untuk kuliah tahun depan, kamu bukan sedang tertinggal. Kamu sedang membangun karakter yang jauh lebih kuat dari sekadar gelar akademik.