Nama R.A. Kartini lekat dengan buku Habis Gelap Terbitlah Terang, karya yang selama ini dikenal luas sebagai simbol perjuangan perempuan Indonesia. Judul tersebut juga kerap dimaknai sebagai harapan menuju perubahan, dari keterbatasan menuju kesempatan yang lebih baik.
Bagi banyak orang, Habis Gelap Terbitlah Terang identik dengan semangat pendidikan, kebebasan berpikir, dan keberanian melawan ketidakadilan. Pemikiran Kartini yang tertuang dalam tulisan-tulisannya pun terus dikenang hingga kini setiap peringatan Hari Kartini pada 21 April.
Namun tak banyak yang tahu, gagasan Kartini justru lebih dulu dikenal publik melalui publikasi berbahasa Belanda. Fakta ini menunjukkan bahwa warisan pemikiran Kartini sempat beredar lebih dahulu di kalangan pembaca tertentu sebelum dikenal luas masyarakat Indonesia.
Melansir Leiden University pada Selasa (21/4/2026), koleksi besar surat tulisan tangan dan arsip Raden Ajeng Kartini telah diakui UNESCO sebagai warisan dokumenter dunia melalui Memory of the World Register. Koleksi tersebut tersimpan di Leiden University Libraries, National Archives di Den Haag, serta Arsip Nasional Republik Indonesia.
Leiden University menyebut koleksi Kartini di kampus itu memuat 101 surat tulisan tangan pribadi dari periode 1900 hingga 1904. Mayoritas surat tersebut ditulis dalam bahasa Belanda dan ditujukan kepada Rosa Manuela Abendanon-Mandri, istri Jacques Henri Abendanon.
Jacques Henri Abendanon saat itu diketahui menjabat Direktur Departemen Pendidikan, Agama, dan Industri di Batavia. Selain surat Kartini, koleksi tersebut juga memuat surat dari saudara-saudaranya serta dokumen lain yang berkaitan dengan kehidupan Kartini.
Dalam surat-surat itu, Kartini menuliskan pandangannya mengenai budaya Jawa, pendidikan, agama, posisi perempuan, dan kehidupan masyarakat pada masa kolonial. Ia juga menyuarakan dukungan terhadap pendidikan perempuan serta menentang kawin paksa, poligami, dan tradisi pingitan.
Leiden University juga mencatat, sebagian surat Kartini diterbitkan pada 1911 oleh Jacques Henri Abendanon karena gagasan modern Kartini mengenai pendidikan, emansipasi, dan ketimpangan gender dinilai penting. Publikasi tersebut menjadi salah satu jalan awal pemikiran Kartini dikenal lebih luas.
Karena terbit dalam bahasa Belanda, tulisan Kartini saat itu lebih dulu beredar di kalangan pembaca berbahasa Belanda. Pada masa tersebut, akses pendidikan formal dan penguasaan bahasa Belanda di kalangan masyarakat bumiputra masih belum merata.
Setelah itu, tulisan Kartini diterjemahkan ke berbagai bahasa seperti Melayu, Sunda, Jawa, Indonesia, Inggris, Rusia, Arab, Jepang, hingga Prancis. Dari sinilah gagasan Kartini makin luas dikenal lintas generasi.
Kartini wafat pada 17 September 1904, tak lama setelah melahirkan anak pertamanya. Meski hidup singkat, pemikirannya terus memberi pengaruh besar bagi perkembangan pendidikan dan kesetaraan perempuan di Indonesia.
Melalui Keputusan Presiden Nomor 108 Tahun 1964 pada era Presiden Soekarno, Kartini ditetapkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional dan 21 April diperingati sebagai Hari Kartini. Hingga kini, warisan Kartini bukan hanya seremoni tahunan, tetapi juga gagasan yang tetap relevan sepanjang zaman.
Baca Juga
-
Fakta Menarik Trofi Emas Piala Dunia: Pernah Dicuri, Bukan Milik Sang Juara
-
Timberland Boots: Berawal Dari Sepatu Tukang Jadi Ikon Rapper Dunia Hip Hop
-
JisuLife Ultra 2: Kipas Portable Premium dengan Berbagai Fungsi Menarik!
-
ROG Zephyrus Duo, Laptop Dua Layar dengan RTX 5090 Seharga Mobil Bekas!
-
Bawa Argentina Menang 3-0, Messi Cetak Hattrick Pertama di Piala Dunia 2026
Artikel Terkait
-
Refleksi Hari Kartini: Susy Susanti dan Greysia Polii Bicara Keberanian untuk Bermimpi
-
Lawan Stigma di Jalanan, Kisah Hebat Mantan Perawat Jadi Sopir Bus Transjakarta
-
Kartini Reborn: Perempuan Gen Z dan Hak untuk Menentukan Hidup
-
Kartini di Era 5G: Melawan 'Pingitan Digital' dan Kekerasan Siber
-
Kartini dan Buruh Perempuan di Era Industri Modern
News
-
Tinggalkan Gawai Sejenak, Nikmati Akhir Pekan yang Tenang Bersama The Write and Wonder Club
-
Menangkis Label Generasi Sial, Gen Z Impact Fest Bedah Ketahanan Finansial
-
Menjaga Daya Kritis Gen Z, Suara.com dan Bulaksumur UGM Gelar Gen Z Impact
-
Gebrakan Baru! Sinema Desa Resmi Disulap Jadi Motor Ekonomi Baru di 2026
-
Vredeburg Game On, Arena Edukasi Anak Panti oleh Loka Bestari
Terkini
-
Paranoia Kolonial di Tanah Suci: Membedah Politik Haji Pada Masa Penjajahan
-
Kesegaran Komedi Pengusutan Misteri dalam Film 'The Sheep Detective'
-
Sinopsis Mame to Mugi, Drama Jepang Dibintangi Saito Asuka dan Tomita Miu
-
Hempas Kusam dan Noda Gelap! Ini 4 Sabun Muka Korea Kandungan Brightening
-
Jalan Teknokratis Suahasil Nazara Menuju Kursi Menteri Keuangan