Lari marathon merupakan cabang olahraga lari jarak jauh dengan total lintasan sejauh 42,195 kilometer. Ajang ini dikenal sebagai salah satu tantangan paling berat dalam dunia atletik karena menguji daya tahan fisik, mental, hingga strategi pelari dalam menjaga ritme.
Untuk memberi gambaran, pelari asal Kenya, Sabastian Sawe, mencatatkan waktu rata-rata sekitar 2 menit 50 detik per kilometer secara konsisten sepanjang lomba. Kecepatan ini tergolong ekstrem bahkan di level atlet elite dunia.
Secara umum, waktu tempuh pelari marathon sangat bervariasi. Untuk pelari profesional elite, waktu finis biasanya berada di kisaran dua hingga tiga jam, sementara pelari non-profesional rata-rata membutuhkan sekitar 4 hingga 6 jam untuk menyelesaikan jarak tersebut.
Dalam sejarahnya, marathon memiliki “batas tak kasat mata” di angka dua jam. Banyak ilmuwan dan pengamat olahraga menilai bahwa menuntaskan 42 km di bawah dua jam dalam lomba resmi merupakan sesuatu yang nyaris mustahil secara fisiologis.
Kini, batas tersebut akhirnya berhasil ditembus. Sabastian Sawe mencatatkan sejarah sebagai manusia pertama yang mampu menyelesaikan marathon di bawah dua jam dalam ajang resmi.
Prestasi itu ia raih dalam London Marathon 2026 dengan catatan waktu 1 jam 59 menit 30 detik. Capaian ini sekaligus menjadikannya pemegang rekor dunia baru di nomor marathon putra.
Sebelumnya, rekor dunia marathon dipegang oleh Kelvin Kiptum dengan waktu 2 jam 00 menit 35 detik yang dicetak pada 2023. Rekor tersebut saat itu dianggap sudah sangat mendekati batas kemampuan manusia.
Sebagai perbandingan, Eliud Kipchoge pernah mencatat waktu di bawah dua jam dalam proyek INEOS 1:59 Challenge. Namun, catatan tersebut tidak diakui sebagai rekor resmi karena dilakukan dalam kondisi yang tidak memenuhi regulasi kompetisi.
Menariknya, pencapaian Sawe ini juga melampaui sejumlah prediksi ilmuwan. Melansir riset dari website Monash University pada Kamis (30/04/2026), peneliti Simon Angus sebelumnya memperkirakan bahwa marathon di bawah dua jam baru akan terjadi sekitar tahun 2032.
Namun kenyataannya, rekor tersebut berhasil dipecahkan lebih cepat dari yang diperkirakan. Hal ini menunjukkan bahwa perkembangan teknologi olahraga, strategi latihan, hingga kualitas atlet terus mendorong batas kemampuan manusia melampaui ekspektasi.
Selain faktor fisik, perlengkapan juga memainkan peran penting. Dalam ajang tersebut, Sawe diketahui menggunakan sepatu dari Adidas lini Adizero yang dilengkapi teknologi pelat karbon (carbon plate) dan bantalan responsif untuk meningkatkan efisiensi langkah.
Sorotan terhadap pencapaian ini juga ramai di media sosial. Akun Instagram resmi Adidas (@adidas), @adidasrunning, dan @adidasindonesia dilaporkan mengunggah visual catatan waktu Sawe, disertai tulisan “Humanity just go faster” sebagai bentuk perayaan atas rekor tersebut.
Pencapaian ini pun disebut sebagai salah satu tonggak terbesar dalam sejarah atletik modern. Dengan runtuhnya batas dua jam, dunia marathon kini memasuki era baru yang membuka peluang lahirnya rekor-rekor ekstrem berikutnya.
Baca Juga
-
Harga iPhone Sudah Turun! Ini 3 Rekomendasi iPhone Paling Worth It Saat Ini
-
Venue Playoffs MPL ID S17 Diumumkan, Jakarta Velodrome Jadi Tuan Rumah
-
Bosan Helm Pasaran? Cargloss Chips Highway Patrol Usung Gaya Polisi 80-an
-
Maaf Jadi Rumit, Pamungkas Rilis "Berapa Kali Kita Akan Saling Memaafkan"
-
HP Paling Worth It 2026? iQOO 15R Bawa Snapdragon 8 Gen 5 dan Baterai Jumbo
Artikel Terkait
News
-
Kurangi Ketergantungan Diesel, IESR Desak Prioritaskan PLTS di Daerah Terpencil
-
Dari Gubuk Seng di Pinggir Rawa ke Universitas Glasgow: Perjalanan Hengki Melawan Keterbatasan
-
5 Moisturizer Paling Sering Direkomendasikan Dermatolog, Andalan untuk Skin Barrier Sehat
-
Jawab Wacana Gerbong Perempuan ke Tengah, Dirut KAI: Semua Berhak Selamat
-
Kesaksian Korban Kecelakaan KRL: Nyawa Selamat Berkat Cooler Bag ASI
Terkini
-
Tumpukan di Balik Senyum Desa Tambakromo
-
Sekolah Gratis Tapi Tak Setara: Hidden Cost yang Menyaring Status Siswa
-
Ilusi Sekolah Gratis: Biaya Tersembunyi yang Membungkam Mimpi Anak Bangsa
-
Sedekah yang Berubah Jadi Tagihan: Tradisi atau Tekanan Sosial?
-
Review The Price of Confession: Saat Ketenangan Terlihat Lebih Mencurigakan