Menjadi anak sulung sering kali berarti menjadi sosok yang paling diandalkan dalam keluarga. Mereka kerap dipercaya untuk membantu orang tua, hingga memikul berbagai tanggung jawab sejak usia muda. Namun, di balik stereotip sebagai sosok yang kuat dan mampu mengatasi segala persoalan, banyak anak sulung yang sebenarnya juga membutuhkan ruang untuk didengar dan bertumbuh.
Kebutuhan itulah yang melatarbelakangi lahirnya komunitas Persulungan, sebuah wadah yang dibangun khusus untuk anak pertama. Komunitas ini berawal dari pengalaman tiga anak sulung yang sering berbagi cerita mengenai tantangan yang mereka hadapi di dalam keluarga.
Tidak Hanya Menjadi Ruang Cerita, tetapi Juga Ruang Bertumbuh
Co-founder Persulungan, Hendika Bagas, menjelaskan bahwa komunitas ini dibangun bukan sekadar sebagai wadah untuk saling berbagi pengalaman, melainkan juga sebagai tempat bagi para anak sulung untuk berkembang bersama.
“Visi utama kami itu untuk menjadi ruang tumbuh utama para anak sulung. Jadi, nggak cuma tentang safe space. Kita bisa jadi ruang cerita tentang hal yang sama antar-anak sulung, tapi kita juga mau menjadi ruang tumbuh mereka,” ujarnya.
Posisi anak sulung dalam keluarga sering kali berada dalam situasi yang unik. Mereka diwajibkan memikul peran sebagai pemberi contoh bagi adik-adiknya. Namun, di balik tanggung jawab tersebut, mereka tidak selalu memiliki sosok yang dapat membimbing mereka. Oleh karena itu, Persulungan berupaya menghadirkan lingkungan yang dapat membantu para anggota mengembangkan potensi diri sekaligus memperoleh dukungan moril dari sesama anak sulung.
“Harapannya, anak-anak sulung ini yang mungkin mereka belum well-developed, atau mungkin butuh skill-skill tambahan—baik itu hard skill maupun soft skill—bisa masuk ke komunitas kami,” tambah Hendika.
Pandangan tersebut menjadi dasar bagi Persulungan untuk menghadirkan berbagai program yang tidak melulu berfokus pada sesi curhat atau berbagi pengalaman. Komunitas ini juga menyediakan ragam kegiatan yang mendukung pengembangan diri anggotanya, baik dari sisi mental maupun keterampilan praktis.
Berikut adalah beberapa program unggulan yang dijalankan oleh Persulungan:
- Superta (Sulung Juga Punya Cerita): Sebuah sesi daring yang menghadirkan psikolog untuk membahas berbagai persoalan yang rentan dialami anak sulung.
- Bingsu (Bincang Bareng Sulung): Program diskusi yang berfokus pada isu-isu kesehatan mental.
- BingBus (Bincang Sulung Booster): Kegiatan yang dirancang khusus untuk mengembangkan kemampuan hard skill dan soft skill para anggota.
- Pentas (Pengabdian Nyata Sulung): Program yang berfokus pada aksi sosial dan pengabdian langsung kepada masyarakat.
Menyeimbangkan Ruang Berbagi dan Pengembangan Diri
Menurut Hendika, keseimbangan antara ruang berbagi emosi dan ruang pengembangan diri menjadi hal yang esensial agar komunitas tidak sekadar menjadi tong sampah untuk meluapkan keluh kesah.
“Kalau, misalnya, kita cuma ngomongin curhat doang, orang-orang lama-lama bosan. Makanya perlu di-balance juga. Jadi, orang-orang yang masuk ke Persulungan juga di-training untuk bisa well-develop, career-ready, dan lain-lain,” jelasnya.
Saat ini, komunitas Persulungan telah memiliki kurang lebih 1.800 anggota yang aktif berinteraksi melalui grup WhatsApp. Anggotanya datang dari berbagai latar belakang yang berbeda, bahkan ada yang berdomisili di luar negeri. Di dalam grup tersebut, mereka saling membagikan cerita mengenai keluarga, pendidikan, karier, hingga tantangan hidup yang dihadapi sebagai anak sulung. Semuanya melebur demi mendukung satu sama lain agar tetap tangguh.
Bagi banyak anggota, Persulungan berhasil menjadi rumah untuk menemukan orang-orang yang memiliki rute hidup serupa. Tidak sedikit pula yang mengaku merasa lebih didengar dan dipahami setelah bergabung dengan komunitas ini.
“Ada yang DM (pesan langsung) aku, ‘Makasih ya, Kak, udah bikin Persulungan, karena di sini aku merasa kayak pulang lagi,’” tutur Hendika.
Melalui berbagai program dan ruang interaksi yang dibangun, Persulungan ingin menegaskan bahwa anak sulung tidak harus selalu berjalan sendirian. Sebab, seperti yang diingatkan oleh Hendika, seorang anak sulung tetaplah seorang anak yang butuh ruang untuk bertumbuh, didengar, dan diperhatikan.
Baca Juga
-
WFC Gak Se-Estetik di Medsos! Tantangan Pekerja Remote Menepis Stigma Negatif
-
25 Tahun Berdiri, Apa Rahasia Komunitas Indo Harry Potter Tetap Eksis di Era Gen Z?
-
Generasi Peduli Iklim, Komunitas yang Ubah Keresahan Jadi Aksi Nyata
-
Pohon Tidak Lagi Cukup Jadi Solusi Atasi Panas Ekstrem di Perkotaan
-
4,5 Miliar Puntung Rokok Berakhir di Laut Setiap Tahun: Siapa yang Harus Bertanggung Jawab?
Artikel Terkait
-
Semangat Kebersamaan dan Interaksi Bermakna Warnai Nadaloka 2026
-
Fandom Mark Lee Salurkan 5 Hewan Qurban untuk 300 Warga Pelosok Jawa Barat
-
Persulungan, Ruang Aman dan Tumbuh bagi Mereka yang Terlahir sebagai Anak Sulung
-
IPONE Tantang Jalur Ekstrem Bogor Hujan Trail 2026 Dukung Komunitas Motor Offroad
-
Tak Sekadar Game Anak, Roblox Jadi Wadah Kompetisi Musik dan Ruang Berkarya
News
-
Bencana dan Ketimpangan Struktural: Menggugat Realitas di Balik Gempa Filipina Selatan
-
Creator Merchant Makin Ramai, Event Jejepangan Ikut Dorong Industri Kreatif
-
Tak Perlu Bingung, Ini Cara Nonton Piala Dunia 2026 secara Resmi dan Legal!
-
Orang Utan Jennifer dan Hayato Dipertemukan, Simbol Persahabatan Indonesia-Jepang dalam Konservasi
-
Polusi Udara Level 'Aman' Tetap Berisiko Bagi Kesehatan, Apa Dampaknya?
Terkini
-
5 Jelly Mask Mawar untuk Redakan Kemerahan dan Bikin Kulit Glowing!
-
Sinopsis Bhooth Bangla, Film Akshay Kumar dan Wamiqa Gabbi di Netflix
-
Mengapa Mengurangi Sampah Lebih Penting daripada Mendaur Ulangnya?
-
Erick Thohir Ultimatum Timnas Indonesia Jelang Hadapi Mozambik, Ada Apa?
-
Butuh atau Cuma Incar Promo? Realita Belanja Tanggal Kembar di Era Digital