Di tengah banyaknya komunitas yang berfokus pada hobi, profesi, maupun isu tertentu, Persulungan hadir dengan konsep yang cukup berbeda. Komunitas ini dibangun sebagai ruang tumbuh bagi anak sulung, berangkat dari pengalaman para pendirinya yang sama-sama merasakan tekanan dan tanggung jawab sebagai anak pertama dalam keluarga.
Melalui Persulungan, para anak sulung diajak untuk saling berbagi pengalaman, memperoleh dukungan, sekaligus mengembangkan diri bersama. Meski kini telah memiliki anggota dari berbagai daerah, perjalanan membangun komunitas tersebut tidak selalu berjalan mulus.
Tantangan Membangun Awareness dan Menjaga Komunitas Tetap Bertumbuh
Co-Founder Persulungan, Hendika Bagas, mengungkapkan bahwa tantangan terbesar yang mereka hadapi sejak awal adalah membangun kesadaran masyarakat mengenai keberadaan komunitas yang secara khusus ditujukan bagi anak sulung.
“Tantangan terberatnya adalah di awareness, karena kita baru satu tahun bergerak. Untuk kita ningkatin bahwa eh guys ada loh komunitas buat anak sulung, itu jujur effort-nya sangat besar,” ujarnya.
Menurut Bagas, memperkenalkan komunitas dengan fokus yang cukup spesifik membutuhkan upaya yang tidak sedikit . Selama ini, belum banyak ruang yang secara khusus membahas pengalaman anak sulung. Padahal, banyak anak sulung memiliki keresahan yang serupa, mulai dari tuntutan untuk menjadi panutan bagi adik-adiknya, memikirkan kondisi ekonomi keluarga, hingga merasa tidak memiliki teman yang benar-benar memahami posisi mereka.
Di tengah tantangan tersebut, media sosial menjadi salah satu sarana penting bagi Persulungan untuk menjangkau lebih banyak orang dan memperkenalkan komunitas kepada masyarakat luas.
“Sangat membantu sekali Kak, sangat membantu sekali, karena itu kan sebagai channel kita untuk menyebarkuaskan,” ungkapnya.
Selain meningkatkan kesadaran publik, tantangan lain yang dihadapi Persulungan adalah menjaga komunitas agar terus bertumbuh dan tetap memberikan manfaat bagi anggotanya. Bagas menegaskan bahwa Persulungan tidak ingin hanya menjadi tempat untuk mencurahkan keluh kesah, tetapi juga menjadi ruang pengembangan diri melalui berbagai kegiatan yang mendorong peningkatan soft skill maupun hard skill.
Oleh karena itu, Persulungan terus berupaya menghadirkan program-program yang relevan dengan kebutuhan anggotanya. Bagas menilai inovasi menjadi hal penting agar komunitas tetap berkembang dan mampu memberikan dampak yang lebih luas.
Harapan Untuk Dapat Menjangkau Lebih Banyak Anak Sulung
Ke depannya, Persulungan memiliki cita-cita untuk memperluas jangkauan komunitas hingga menjangkau anak-anak sulung di seluruh Indonesia.
“Kami mau menjangkau anak sulung-anak sulung di seluruh Indonesia. Kami pengen jadi lebih besar lagi. Kami pengen berdampak lebih besar lagi,” kata Bagas.
Tidak hanya itu, Persulungan juga ingin membangun budaya saling mendukung antaranggota. Melalui pengalaman dan pembelajaran yang dimiliki setiap individu, komunitas ini berharap dapat menghadirkan sistem dukungan yang membantu anak sulung lain untuk terus berkembang.
“Kami pengen ngajak anak sulung lainnya juga untuk membantu anak sulung lainnya. Biar mereka juga berkembang, biar mereka ada mentor, mereka ada yang mengarahkan juga,” tutupnya.
Baca Juga
-
Penelitian Ungkap Mikroplastik Kini Ditemukan di Awan, Berpotensi Pengaruhi Iklim
-
Kamar Gerah Bikin Susah Tidur? Lakukan 7 Trik Sederhana Ini Agar Tetap Sejuk Tanpa AC
-
Menjaga Nostalgia, Merangkul Semua: Upaya Orutaku Club Agar Tetap Inklusif
-
Eco Parenting, Cara Sederhana Menumbuhkan Kepedulian Lingkungan pada Anak
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
Artikel Terkait
-
Lebih Dari Sekadar Rasa, CommuniTaste 2026 Buktikan Makanan Adalah Media Komunikasi Budaya
-
Metode Baca Bareng di Taman: Cara Ibu-Ibu Jagakarsa Mengajarkan Anak Mencintai Buku Tanpa Paksaan
-
Satu Tante yang Teredukasi Bisa Berdayakan Satu Keluarga, Gimana Caranya?
-
Membaca, Menjelajah Kota, dan Bertemu Orang Baru Bersama LiteraTOUR
-
Lari dari Adiksi Gawai dan Stres Domestik: Para Ibu di Klabu Temukan Kewarasan Lewat Literasi
News
-
Belajar dari Ubud, I Made Gunarta Dorong Ekosistem Wellness di JCWF 2026
-
Sebut Mirip Orba, Pakar UGM Kritik Pemasangan Kawat Berduri di Jogja
-
Krisis Sampah Perkotaan, Mengapa Perempuan Jadi yang Paling Terdampak?
-
Dari Masjid Ke Masjid, Menyusuri Jejak Sejarah di Sudut Jakarta
-
Lewat Sanggar Belajar, UPNVJ Dampingi Anak Pekerja Migran Indonesia di Malaysia
Terkini
-
Uang Asuransi 2 Miliar Melayang Gara-Gara Mati Suri? Intip Serunya Film Gak Ada Matinya!
-
Ambisi Besar PSSI di Piala Asia 2027: 10 Pemain Naturalisasi Jadi Senjata Rahasia?
-
Sadap-Menyadap di Warkop: Dari Tiga Jenderal hingga Kasbon Berenkripsi
-
Darurat Spyware di Indonesia: Saat Penyadapan Ilegal Makin Mudah Mengintai
-
Ironi Wajib Organisasi: Hak Sukarela yang Dipaksa oleh Birokrasi Kampus