M. Reza Sulaiman | Rizky Pratama Riyanto
Ilustrasi sendok dan gula (Pexels/Towfiqu barbhuiya)
Rizky Pratama Riyanto

Sendok yang dipanaskan di atas kobaran api kompor gas lalu dimasukkan ke dalam toples berisi gula ternyata dapat menyulut api. Eksperimen yang diunggah oleh akun Instagram @faktaterus ini sempat membuat geger warganet. Bahkan, tak sedikit yang mengira bahwa gula di dapur sebenarnya adalah bahan bakar yang menyamar. Lantas, apakah gula memang bensin yang mampu menyemburkan api, ataukah ada reaksi kimia lain yang bekerja di baliknya?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, kita perlu memahami bahwa dapur sejatinya bukan sekadar tempat mengolah makanan. Di atas kompor yang kita gunakan sehari-hari, berbagai jenis reaksi kimia terus terjadi. Reaksi-reaksi ini kerap berlangsung tanpa kita sadari, padahal begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari, khususnya bagi para ibu rumah tangga.

Hal serupa berlaku pada reaksi antara sendok makan yang berpijar dan gula pasir ketika keduanya bertemu. Lantas, reaksi kimia apa yang sebenarnya terjadi? Sebelum menelan kesimpulan mentah-mentah dari kolom komentar warganet, mari kita bedah bersama melalui sudut pandang sains yang sederhana.

Sendok Mengalami Konduksi Akibat Suhu Ekstrem

Pada dasarnya, suhu nyala api biru pada kompor gas berkisar antara 1.500–1.980°C yang menandakan terjadinya pembakaran sempurna. Sementara itu, nyala api kuning atau merah mengindikasikan pembakaran tidak sempurna akibat minimnya pasokan oksigen. Dalam eksperimen yang diunggah @faktaterus, sendok dipanaskan hingga bagian cekungnya memerah membara. Ini menandakan bahwa sendok mengalami perpindahan panas (konduksi) secara ekstrem karena logam merupakan penghantar panas (konduktor) yang sangat baik.

Dalam video eksperimen tersebut, terlihat segelas air serta dua mangkuk yang masing-masing berisi garam dan gula pasir. Eksperimen itu membuktikan bahwa sendok yang sangat panas mampu menyulut api saat dimasukkan ke dalam mangkuk berisi gula. Narasi di media sosial pun berkembang seolah-olah gula adalah bahan bakar tersembunyi di dapur. Padahal, anggapan ini adalah kesalahpahaman fatal akibat menyimpulkan fenomena tanpa melibatkan ilmu pengetahuan.

Baterai Energi yang Tersimpan di Dapur

Secara kimiawi, gula pasir yang kita konsumsi sehari-hari dikenal sebagai sukrosa—jenis disakarida yang molekulnya terbentuk dari gabungan dua monosakarida, yaitu glukosa dan fruktosa. Struktur sukrosa didominasi oleh tiga elemen dasar: Karbon (C), Hidrogen (H), dan Oksigen (O). Senyawa organik ini secara fundamental memiliki sifat alami yang mudah bereaksi dengan oksigen pada suhu tinggi.

Dari sudut pandang biologis, gula pasir dapat diibaratkan sebagai baterai penyimpan energi alami. Energi tersebut berasal dari proses fotosintesis tumbuhan, seperti tebu atau bit gula. Ketika ikatan kimianya yang padat diputus secara paksa melalui pemanasan ekstrem, energi yang tersimpan akan dilepaskan ke lingkungan dalam bentuk panas dan cahaya. Sifat fisik gula yang padat dan stabil sering kali membuat kita lupa bahwa zat tersebut menyimpan energi potensial yang besar.

Hubungannya dengan Metabolisme Tubuh

Secara sederhana, tubuh manusia juga melakukan proses yang mirip dengan reaksi antara sendok panas dan gula tersebut. Saat kita mengonsumsi makanan berkarbohidrat atau mengandung gula, tubuh memecah sukrosa lalu "membakarnya" untuk menghasilkan energi yang kita gunakan untuk berjalan, berpikir, dan bekerja. Lantas, mengapa tubuh kita tidak mengeluarkan percikan atau kobaran api saat membakar gula?

Perbedaannya terletak pada mekanisme pembakaran di dalam sel tubuh manusia, tepatnya pada organel bernama mitokondria—si pabrik energi sel. Pembakaran dalam tubuh berlangsung pada suhu rendah (sekitar 36,5–37,5°C) dengan bantuan protein khusus yang disebut enzim. Enzim bertindak sebagai katalisator biologis yang memecah rantai pembakaran menjadi tahapan-tahapan kecil yang aman. Melalui proses glikolisis, siklus Krebs, hingga rantai transpor elektron, energi terkonversi secara bertahap tanpa membakar jaringan tubuh kita.

Gula Berbeda Total dengan Bensin

Reaksi kimia yang sebenarnya terjadi saat sendok membara menyentuh butiran gula disebut pirolisis. Ketika sendok logam bersuhu ekstrem menyentuh kristal sukrosa, gula tidak sempat meleleh menjadi karamel secara perlahan. Suhu tinggi secara instan memutuskan ikatan kimia molekul gula dan menguraikannya menjadi uap gas yang mudah terbakar. Pertemuan antara bahan bakar (uap hasil pirolisis gula), sumber panas ekstrem (sendok), dan oksigen di udara inilah yang memicu reaksi oksidasi kilat hingga menghasilkan kobaran api.

Narasi yang seolah menyebut gula sebagai "bensin tersembunyi" di dapur jelas merupakan miskonsepsi besar. Meskipun sama-sama bisa menghasilkan energi, sifat kimia gula dan bensin berbeda total. Bensin adalah cairan hidrokarbon murni yang sangat volatil (mudah menguap) dan memiliki titik nyala (flash point) sangat rendah. Sebaliknya, gula pasir adalah senyawa karbohidrat padat yang sangat stabil pada suhu ruangan.

Jadi, eksperimen menyulut gula dengan sendok panas bukan bukti bahwa gula di dapur kita adalah bensin yang menyamar. Fenomena ini murni merupakan reaksi kimia pirolisis, di mana panas ekstrem memaksa molekul gula terurai menjadi uap gas yang terbakar saat bereaksi dengan oksigen.