M. Reza Sulaiman | Natasha Suhendra
Potret Acara Kolaborasi Orutaku Club dengan Kiyoshi Asian Kung-Fu Generation (Dok.pribadi/Orutaku Club)
Natasha Suhendra

Di tengah menjamurnya komunitas anime yang lebih banyak mengangkat serial dan budaya pop Jepang terbaru, Orutaku Club memilih fokus yang berbeda. Sejak berdiri pada 2018, komunitas ini konsisten menghadirkan ruang nostalgia melalui lagu-lagu anime, J-pop, hingga budaya pop Jepang era 1980-an sampai awal 2000-an. Namun, mempertahankan komunitas dengan konsep tersebut tentu bukan perkara mudah.

Tetap Berjalan Di Tengah Tantangan 

Salah satu pendiri Orutaku Club, Triska Sarwono, mengungkapkan bahwa tantangan terbesar yang mereka hadapi berasal dari sisi pendanaan dan penyelenggaraan acara.

"Ya mungkin tantangan utamanya ya di dananya sih. Kesulitan cari sponsor gitu ya, karena bagaimanapun juga ini kan bukan acara yang skalanya besar banget," ujar Triska.

Tidak hanya persoalan sponsor, Orutaku Club juga harus menghadapi kesulitan mencari lokasi yang sesuai dengan kebutuhan acara. Mereka membutuhkan venue yang mampu menampung ratusan peserta sekaligus menyediakan fasilitas pendukung, seperti makanan dan minuman, yang tidak mudah ditemukan di Jakarta.

"Untuk nyari venue juga gitu. Venue di Jakarta yang bisa muat sekitar lima ratusan orang dan menyediakan makan minum itu susah nyarinya," ungkapnya.

Oleh karena itu, Orutaku Club memilih untuk tidak bergantung pada sponsor. Pendanaan acara lebih banyak berasal dari penjualan tiket, sementara seluruh pengeluaran disesuaikan dengan kemampuan yang dimiliki komunitas.

"Kalau nggak ada sponsor nggak apa-apa, kita gas aja, tetap jalan terus. Memang pemasukan kita cuma dari tiket, jadi mau nggak mau semuanya harus diatur," kata Triska.

Strategi Agar Tetap Inklusif untuk Semua Penggemar

Selain persoalan pendanaan, Orutaku Club juga menghadapi tantangan untuk menjaga komunitas tetap inklusif di tengah anggapan bahwa nostalgia anime lawas hanya milik kalangan tertentu. Bagi mereka, acara ini tidak hanya ditujukan bagi penggemar lama, tetapi juga terbuka bagi siapa saja yang ingin menikmati budaya pop Jepang klasik.

Upaya tersebut diwujudkan melalui konsep acara yang ramah bagi berbagai kalangan. Berbeda dengan pesta karaoke pada umumnya yang berlangsung hingga dini hari, Orutaku Club memilih memulai acara pada sore hari dan mengakhirinya sebelum tengah malam.

"Di Orutaku karena kita juga sadar banyak yang udah kerja, udah berkeluarga, jadi biasanya kita mulai jam lima atau jam enam sore. Puncaknya acara ramai di jam tujuh atau delapan, lalu jam sebelas atau dua belas malam sudah selesai," tutur Triska.

Menurutnya, jadwal tersebut mendapat banyak respons positif dari peserta karena dinilai lebih nyaman dan tidak mengganggu aktivitas keluarga maupun pekerjaan keesokan harinya. 

Selain itu, Orutaku Club hanya mengadakan acara besar satu hingga dua kali dalam setahun. Keputusan tersebut diambil karena sebagian besar peserta kini telah memasuki fase kehidupan yang berbeda, seperti bekerja atau berkeluarga. Dengan frekuensi acara yang terbatas, para peserta memiliki waktu untuk mempersiapkan diri dan tetap dapat mengikuti kegiatan tanpa merasa terbebani.

Mereka juga sengaja menghindari penggunaan label yang terlalu spesifik dalam promosi acara. Alih-alih menggunakan istilah yang dapat membuat sebagian orang merasa tidak termasuk, Orutaku Club memilih identitas “old school otaku” agar penggemar lama maupun penikmat kasual tetap merasa diterima.

"Justru kita pakai kata otaku supaya yang sekarang mungkin sudah nggak terlalu ngikutin atau cuma suka Jepang waktu SMP atau SD tetap merasa nyaman. Mereka merasa ini buat orang-orang yang suka Jepangan secara santai," jelasnya.

Harapan Menghadirkan Acara yang Lebih Beragam

Ke depannya, Orutaku Club berharap dapat menghadirkan kegiatan yang lebih beragam sekaligus merangkul komunitas lain yang memiliki minat serupa terhadap budaya pop Jepang lawas.

"Harapannya ke depan Orutaku bisa meng-cater acara lain juga yang serupa. Misalnya menyatukan komunitas cover band Jepang lawas dengan audiens Orutaku, atau membuat acara khusus Tokusatsu Night maupun Visual Kei Night," ujar Triska.

Melalui berbagai upaya tersebut, Orutaku Club ingin membuktikan bahwa nostalgia tidak harus menjadi ruang yang eksklusif. Dengan konsep yang lebih ramah dan terbuka, mereka berusaha menghadirkan tempat berkumpul bagi siapa saja yang ingin kembali mengenang masa kecil sekaligus membangun koneksi baru melalui kecintaan pada budaya pop Jepang lawas.