M. Reza Sulaiman | Ra Fahira
Transportasi umum di Jakarta. (Dok. Suara.com)
Ra Fahira

Sebagai perempuan single di awal 30-an yang sudah bertahun-tahun menghabiskan waktu bekerja di kawasan SCBD, rutinitas pagi saya terbilang cukup monoton dan bisa ditebak. Setiap hari saya berjalan menuju halte, menempelkan kartu uang elektronik, berbaur dengan ramainya penumpang bus TransJakarta, sebelum akhirnya beralih menikmati dinginnya pendingin ruangan di dalam MRT.

Jika ada yang bertanya mengapa saya sangat setia pada transportasi umum, jawaban jujur saya selama bertahun-tahun sangat pragmatis dan mungkin terdengar kurang keren: saya memang tidak bisa menyetir. Ya, sesederhana itu alasannya.

Selama ini, saya menganggap transportasi massal hanyalah satu-satunya pilihan untuk bertahan hidup di Jakarta bagi mereka yang enggan berurusan dengan stresnya belajar mengemudi atau berhadapan langsung dengan kejamnya lalu lintas ibu kota. Sesekali, ada rasa iri terselip saat melihat rekan kerja bisa pulang dengan nyaman di mobil pribadi, terutama saat hujan deras melanda di jam pulang kantor. Namun di sisi lain, saya juga sering bersyukur saat melihat lautan lampu rem merah menyala dari mobil-mobil yang terjebak macet berjam-jam.

Bagi saya, naik TransJakarta dan MRT hanyalah rutinitas fungsional. Tidak ada yang istimewa, apalagi heroik. Itu sekadar cara saya berpindah dari tempat kos menuju gedung kantor pencakar langit untuk mencari nafkah. Titik.

Namun, pandangan sempit saya itu berubah total akhir pekan lalu. Secara kebetulan, saya menghabiskan waktu luang dengan menghadiri sebuah acara bertajuk "Lintas", sebuah inisiatif kolaborasi luar biasa yang diselenggarakan oleh Yoursay bersama Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Niat awalnya sungguh sederhana, sekadar mencari insight baru dan bertemu dengan teman-teman komunitas agar akhir pekan tidak hanya dihabiskan dengan rebahan.

Siapa sangka, diskusi yang disajikan di panggung utama justru memberikan pencerahan yang membuat saya merenungi rutinitas pagi saya selama ini. Para pembicara di acara Lintas tersebut banyak membahas mengenai urgensi mobilitas berkelanjutan dan menyinggung satu kata kunci yang terus terngiang di kepala saya hingga hari ini: dekarbonisasi.

Jujur saja, istilah "dekarbonisasi" sebelumnya terdengar sangat berat, terlalu teknis, dan seolah hanya menjadi urusan para pembuat kebijakan atau aktivis lingkungan kelas atas. Bukan urusan pekerja kantoran biasa seperti saya.

Namun, penjelasannya ternyata sangat membumi. Dekarbonisasi pada dasarnya adalah upaya sistematis untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, terutama karbon dioksida, demi mengerem laju pemanasan global dan krisis iklim. Lalu, apa salah satu langkah paling efektif dan nyata yang bisa dilakukan oleh masyarakat urban? Tepat sekali: beralih menggunakan transportasi umum.

Data yang dipaparkan dalam acara dari Yoursay dan Kemenhub itu benar-benar membuka mata. Kendaraan bermotor pribadi rupanya merupakan salah satu penyumbang emisi karbon terbesar di kawasan perkotaan yang padat seperti Jakarta. Coba bayangkan sebuah skenario: jika setiap orang di dalam satu rangkaian gerbong MRT yang saya tumpangi—yang mampu memuat ratusan orang—memilih untuk mengemudikan mobil pribadi masing-masing, berapa banyak polusi tambahan yang dimuntahkan ke udara bebas setiap paginya?

Dengan menggunakan transportasi massal seperti MRT atau bus TransJakarta, emisi karbon yang dihasilkan per kapita menjadi jauh lebih rendah. Efisiensi ini adalah kunci dari dekarbonisasi transportasi.

Menyadari hal tersebut, tiba-tiba ada rasa bangga yang mekar di dada. Rutinitas commuting yang selama ini saya anggap remeh karena dilandasi alasan "sekadar tidak bisa menyetir", ternyata wujud dari sebuah kontribusi nyata untuk lingkungan yang lebih sehat.

Realisasi ini mengubah total cara saya menikmati perjalanan menuju SCBD. Kini, saat berdiri di dalam gerbong kereta yang melaju kencang membelah bawah tanah Jakarta, atau saat duduk menatap siluet gedung-gedung tinggi dari jendela bus TransJakarta, saya merasa memiliki tujuan yang lebih besar. Saya tidak lagi merasa menjadi "korban keadaan" atau terpaksa karena tidak punya kendaraan pribadi. Sebaliknya, saya merasa berdaya karena mengambil bagian dalam gerakan kolektif untuk memperbaiki kualitas udara kota tempat kita tinggal.

Mengetahui bahwa setiap tap kartu yang kita lakukan di gerbang stasiun ikut membantu menekan jejak karbon memberikan kepuasan tersendiri yang sulit dideskripsikan. Bagi para pekerja ibu kota yang mungkin masih ragu, merasa repot, atau gengsi naik transportasi publik, cobalah ubah perspektifnya mulai sekarang.

Kita tidak hanya sedang menyelamatkan dompet dari biaya operasional kendaraan yang mahal, tetapi kita sedang berinvestasi untuk napas kita sendiri di masa depan. Untuk para pejuang commuter yang setiap hari memadati stasiun dan halte, mari kita hargai diri kita sedikit lebih tinggi. Tanpa disadari, lewat langkah-langkah kecil di peron stasiun, kita semua sedang menyelamatkan bumi.

Baca Juga