YOGYAKARTA — Toga baru dikenakan, ijazah baru hendak diterima. Bagi 27 lulusan Sekolah Tinggi Multi Media (STMM) MMTC Yogyakarta, dunia kerja justru sudah lebih dulu dimasuki sebelum prosesi wisuda berlangsung.
Data tersebut disampaikan Ketua STMM Yogyakarta Dr. R.M. Agung Hari Murti, M.Kom. dalam pembacaan laporannya pada Sidang Senat Terbuka Wisuda Program Sarjana dan Sarjana Terapan Periode I Tahun Akademik 2026/2027, Rabu (9/9/2026). Dari 188 wisudawan, sebanyak 27 orang atau 14,36 persen telah terserap di dunia kerja atau berwirausaha sebelum wisuda.
Para lulusan tersebut terserap di perusahaan swasta, instansi pemerintah, hingga industri kreatif melalui jalur kewirausahaan. Bagi Agung, angka tersebut menunjukkan bahwa kompetensi mahasiswa STMM telah memperoleh pengakuan dari dunia industri dan dunia kerja.
“Ini menjadi bukti bahwa lulusan kita tidak hanya siap memasuki dunia kerja, tetapi juga telah mampu menunjukkan kualitas, kapasitas, dan profesionalismenya sejak masih berstatus sebagai mahasiswa,” ujar Agung dalam laporan Ketua STMM pada sidang senat wisuda STMM MMTC Yogyakarta, Rabu (9/9/2026).
Model pendidikan terapan menjadi salah satu bekal yang diberikan STMM kepada mahasiswa. Selama menempuh 144 hingga 148 SKS, mahasiswa Program Sarjana Terapan mendapatkan komposisi 40 persen teori dan 60 persen praktik. Mahasiswa juga menjalani berbagai bentuk praktikum, Gelar Karya, serta Kerja Praktek di industri penyiaran, animasi dan game, perusahaan swasta, instansi pemerintah, hingga lembaga non pemerintah.
Bekal tersebut dilengkapi sertifikasi kompetensi dan Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI). STMM telah bekerja sama dengan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) sejak 2015 melalui Panitia Teknis Uji Kompetensi dan Lembaga Sertifikasi Profesi untuk sertifikasi berbasis Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia.
Potret kesiapan mahasiswa memasuki industri juga terlihat dari sejumlah prestasi yang diraih sebelum wisuda. Salah satunya Faiz Fathurrohman dari Program Studi Manajemen Produksi Siaran yang meraih Juara II Sony One Minute Film Competition 2023 tingkat Asia-Pasifik. Ia juga tercatat meraih Juara I kategori Pelajar/Mahasiswa dalam Anugerah Karya Festival Film Pendek SOS 2023.
Di bidang teknologi permainan, Muhammad Fariz Rifki Ananda dari Program Studi Teknologi Permainan meraih Juara III TSA Game Fest yang diselenggarakan Agate Academy. Prestasi tersebut menjadi salah satu contoh pengalaman mahasiswa yang bersinggungan langsung dengan kompetisi dan ekosistem industri kreatif digital.
Di tengah angka-angka tersebut, suasana wisuda tetap menyimpan cerita yang lebih personal. Perwakilan wisudawan, Talia, mengenang masa awal kuliah ketika mahasiswa datang dari berbagai daerah ke Yogyakarta dengan cita-cita masing-masing. Empat tahun perjalanan kemudian membawa mereka sampai pada panggung wisuda.
“Rasanya baru kemarin kita pertama kali datang ke kampus ini sebagai mahasiswa baru (maba), diantar oleh orang tua dan belum mengenal Yogyakarta sama sekali,” ujar Talia dalam pidato perwakilan wisudawan pada Sidang Senat Terbuka STMM MMTC Yogyakarta, Rabu (9/9/2026).
Talia kemudian mengingat sisi lain kehidupan mahasiswa yang jarang masuk dalam laporan akademik. Ada praktikum, tugas yang dikerjakan hingga larut malam, mata mengantuk, sampai datang ke kampus dalam kondisi belum sempat mandi. Ia menyebut masa-masa tersebut sebagai pengalaman datang seperti “zombie” demi mengejar masa depan.
Puncak pidatonya diarahkan kepada orang tua yang hadir di auditorium. Talia meminta para wisudawan melihat kembali sosok yang selama ini berada di belakang perjalanan akademik mereka. Menurutnya, toga yang dikenakan hari itu tidak berdiri sendiri dari perjuangan keluarga.
“Ijazah ini memang tertulis atas nama kita, tetapi keberhasilan ini adalah milik dan perjuangan bersama Ayah dan Ibu,” tutur Talia di hadapan para wisudawan, orang tua, dan sivitas akademika STMM MMTC Yogyakarta.
Wisuda STMM periode ini akhirnya mempertemukan dua cerita dalam satu panggung. Sebanyak 188 mahasiswa resmi menyelesaikan pendidikan mereka. Sebagian dari mereka sudah lebih dahulu mendapatkan ruang di dunia kerja, sementara yang lain membawa bekal kompetensi, pengalaman praktik, dan portofolio untuk memulai perjalanan setelah kampus.
Bagi 27 lulusan yang telah bekerja atau berwirausaha sebelum mengenakan toga, wisuda bukan titik pertama memasuki dunia profesional. Mereka datang ke panggung itu setelah lebih dulu membuktikan kemampuan di luar ruang kelas.
Baca Juga
-
Di Era AI dan Digital, Mengapa Belajar Filsafat Justru Semakin Penting?
-
Gengsi di Atas Fungsi, Mengapa Kita Terobsesi dengan iPhone?
-
Vredeburg Game On, Arena Edukasi Anak Panti oleh Loka Bestari
-
Pentingnya Mengurai Benang Kusut Pikiran lewat Journaling
-
Men Support Men: Ketika Laki-Laki Juga Butuh Ruang untuk Cerita
Artikel Terkait
News
-
Gebrakan Baru! Sinema Desa Resmi Disulap Jadi Motor Ekonomi Baru di 2026
-
Vredeburg Game On, Arena Edukasi Anak Panti oleh Loka Bestari
-
Jalan Sore Pukul Panci, Suara Ibu Indonesia Protes MBG di Jogja
-
Bakar Semangat Juang, Plt Ketum PPAD Turun Langsung Kawal Atlet Golf di Surabaya
-
Jangan Asal Viral! Peringatan Keras Komdigi untuk Para Kreator Konten di Era AI
Terkini
-
Membaca, Memahami, dan Merefleksi: Seni Menjaga Fokus di Tengah Serbuan Gawai
-
BGN Siapkan Sistem Marketplace MBG: Kejar Pengadaan, Keracunan Terabaikan?
-
Manga Shojo In the Clear Moonlit Dusk Akan Tamat di Volume ke-12 pada 2027
-
Karnaval Pekalongan Jadi Sorotan, Budaya berkedok Ritual di Ruang Publik?
-
Memaknai Cinta Bagi Orang Dewasa di Novel Hingga Ujung Cakrawala