Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) memproyeksikan kebutuhan sekitar 9 juta talenta digital hingga 2030. Target tersebut disampaikan dalam orasi ilmiah Komdigi pada Sidang Senat Terbuka Wisuda Program Sarjana dan Sarjana Terapan STMM MMTC Yogyakarta, Rabu (9/9/2026).
Orasi ilmiah bertajuk "Berkarakter dalam Integritas, Berkarya untuk Peradaban, Berdampak bagi Negeri" itu dibacakan oleh Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Komdigi RI, Dr. Ir. Bonifasius Wahyu Pudjianto, M.T. di hadapan sivitas akademika dan para wisudawan.
Peluang Inovasi dan Program Pendukung
Dalam orasi tersebut, Bonifasius menyampaikan bahwa kebutuhan talenta digital Indonesia mencakup penguasaan berbagai teknologi mutakhir, termasuk artificial intelligence (AI).
“Angka tersebut menunjukkan adanya sembilan juta peluang, sembilan juta pekerjaan, sembilan juta inovasi, dan sembilan juta kemungkinan bagi anak-anak Indonesia untuk menciptakan sesuatu yang baru,” ujar Bonifasius.
Pemerintah sendiri telah menyiapkan sejumlah program untuk mengejar kebutuhan tersebut. Komdigi memperkuat pengembangan talenta melalui Digital Talent Scholarship (DTS), platform penyerapan kerja Deploy, serta Artificial Intelligence Talent Factory (AITF). Pada 2026, pemerintah juga mengembangkan solusi pembelajaran berbasis AI di 178 Sekolah Rakyat.
Kebijakan pemanfaatan AI di bidang pendidikan turut menjadi bagian dari arah tersebut. Pada 12 Maret 2026, Komdigi menetapkan Keputusan Menteri Komunikasi dan Digital Nomor 117 Tahun 2026 tentang Pedoman Pemanfaatan dan Pembelajaran Teknologi Digital dan Artificial Intelligence di Jalur Pendidikan Formal, Non Formal, dan Informal. Pedoman tersebut disepakati tujuh kementerian untuk mendorong penggunaan teknologi secara bertanggung jawab sekaligus melindungi anak dari risiko ruang digital.
Integritas Kreator di Era Generatif AI
“Kita tidak ingin anak-anak Indonesia hanya menjadi konsumen teknologi,” kata Bonifasius. Ia menekankan pentingnya kemampuan manusia untuk memahami, menggunakan, menciptakan, serta mengendalikan teknologi secara bertanggung jawab.
Pesan tersebut semakin relevan bagi mahasiswa dan pekerja industri kreatif yang kini berhadapan dengan kemampuan AI generatif. Teknologi telah memungkinkan pembuatan video, rekayasa suara dan wajah, hingga produksi tulisan dalam hitungan detik. Kondisi itu membuat persoalan etika tidak lagi berada di luar kemampuan teknis seorang kreator.
Bonifasius menekankan prinsip human-in-the-loop dan human-centric dalam penggunaan AI. Menurutnya, manusia tetap menjadi pihak yang bertanggung jawab atas keputusan akhir. AI dapat membantu menghasilkan materi kreatif, tetapi penilaian mengenai kebenaran, dampak, dan tanggung jawab mutlak berada pada manusia.
“AI bisa membuat konten. Tetapi AI tidak bisa menggantikan hati nurani,” tegasnya. Ia mengingatkan para lulusan agar tidak menggunakan teknologi untuk menyebarkan kebohongan, memanipulasi masyarakat, atau merugikan orang lain.
Dari sana, Bonifasius mengajak para lulusan membedakan konten dengan karya. Konten dipandang sebagai sesuatu yang semata-mata mengisi ruang digital dan mengejar perhatian sesaat. Sebaliknya, karya memiliki orientasi yang lebih panjang karena ditujukan untuk meninggalkan jejak, memengaruhi cara berpikir, serta memberi manfaat bagi masyarakat.
“Saudara boleh menjadi viral. Tetapi jangan kehilangan integritas,” pesannya kepada lulusan STMM, terutama bagi mereka yang akan memasuki dunia media, teknologi, dan industri kreatif.
Dengan perkembangan AI yang bergulir kian cepat, kreativitas dan integritas adalah dua hal yang harus berjalan beriringan. Teknologi dapat memperbesar kemampuan seorang kreator, namun keputusan mengenai nilai, kebenaran, dan dampak karyanya akan selalu menjadi tanggung jawab manusia.
Baca Juga
-
Tembus Grand Final, 5 Tim Futsal Putri Maju ke Puncak AXIS Nation Cup 2026
-
AXIS Nation Cup 2026 Memasuki Puncak, 16 Tim Berebut Gelar Juara di Jakarta
-
Ulasan Buku 'Lambe Akrobat': Mengurai Seni Menulis Ringan Agus Mulyadi
-
Nyesel Baru Tahu! 3 Kelas Menulis Ini Ampuh Bikin Tulisan Makin Enak Dibaca
-
Terdesak Pakan Mahal, Peternak Gunungkidul 'Jual Sapi Demi Sapi'
Artikel Terkait
-
Foto AI Prabowo Naik Whoosh Viral, Bos Humas KCIC Eva Chairunisa Tuai Sorotan
-
Foto Prabowo Hasil Editan AI Diunggah, Alasan Eva Chairunisa Bikin Publik Tambah Geram
-
Viral Guru AI IELTS Mengamuk, Benarkah Kecerdasan Buatan Mulai Punya Perasaan?
-
Kritik Pajak Pembalut 11 Persen, Dosen UGM: Pajakilah Orang Kaya, Bukan Kebutuhan Dasar!
-
Pembalut Dikenai PPN 11 Persen, Bu Tejo 'Tilik' Kritik Keras Pemerintah: Ora Duwe Utek!
News
-
Melalui Piano dan Gamelan, Iqbal Sidiq Perkenalkan Kekayaan Musik Nusantara di Istanbul
-
Gaji Stagnan Harga Barang Naik, Masihkah Orek Tempe Worth It Jadi Penyelamat?
-
Bukan Soal Anti Asing, Ini Alasan Standar Halal Indonesia Bikin Negara Maju Ketar-ketir!
-
Tembus Grand Final, 5 Tim Futsal Putri Maju ke Puncak AXIS Nation Cup 2026
-
Dari Aspal Kampung Ke Panggung Asia: 3 Bintang Muda Futsal AXIS 2026
Terkini
-
Mitos Self-Reward Liburan: Healing Tidak Selalu Menyelesaikan Masalah Hidup
-
Mengungkap Asal-usul Teror Boneka Terkutuk dalam Film The Doll Ghawiah
-
Super Gemas! 5 Lip Scrub Kemasan Jar Mungil untuk Bibir Halus dan Lembap
-
Suho EXO dan Park Hee Soon Jadi Ayah-Anak di Film Aksi A Father's Secret
-
Prediksi Liverpool vs Arsenal: The Gunners Dibayangi Rekor Buruk di Anfield