YOGYAKARTA — Sejumlah anak dari Panti Asuhan Atap Langit mengikuti kegiatan “Vredeburg Game On” di Museum Benteng Vredeburg, Yogyakarta, Sabtu (5/9/2026). Kegiatan yang digelar Komunitas Loka Bestari bersama Museum Benteng Vredeburg itu dikemas melalui permainan, eksplorasi museum, pemutaran film, hingga aktivitas kreatif.
Kegiatan diawali dengan permainan dan aktivitas interaktif yang mengajak anak-anak mengenali ruang serta koleksi museum. Peserta juga diajak mengeksplorasi Diorama 1 hingga Diorama 3 melalui sejumlah pertanyaan dan misi yang disiapkan fasilitator.
Samantha Aditya selaku Koordinator Loka Bestari mengatakan kegiatan tersebut berangkat dari pemikiran bahwa museum menyimpan banyak cerita yang dekat dengan kehidupan anak. Namun, kesempatan untuk mengikuti kegiatan edukatif di museum belum tentu dimiliki semua anak, termasuk anak-anak yang tinggal di panti asuhan.
“Kami ingin menghadirkan pengalaman yang berbeda. Bukan sekadar mengajak mereka berkunjung ke museum, melainkan menjadikan museum sebagai ruang interaktif, ruang belajar, dan ruang bermain,” ujar Samantha Aditya saat diwawancarai oleh Tim Suara Jogja.
Menurut Loka Bestari, Museum Benteng Vredeburg dipilih karena memiliki potensi besar untuk kegiatan edukasi sejarah. Kolaborasi tersebut juga mendapat dukungan dari pihak museum berupa fasilitas transportasi bagi anak-anak Panti Asuhan Atap Langit.
“Sebenarnya kegiatan Loka Bestari pada dasarnya menyasar masyarakat umum. Namun, ada kondisi-kondisi tertentu di mana kami ingin berbagi dengan anak-anak yang belum tentu berkesempatan merasakan secara langsung kegiatan edukatif di museum,” tambahnya.
Dalam pelaksanaannya, kegiatan ini turut melibatkan relawan sebagai fasilitator. Loka Bestari sebelumnya membuka open call dengan target merekrut 10 orang relawan. Pendaftaran tersebut mendapat lebih dari 80 pendaftar. Setelah melalui proses seleksi, sebanyak 15 relawan terpilih untuk mendampingi peserta.
Interaksi antara fasilitator dan peserta juga menjadi bagian dari kegiatan. Saat permainan berlangsung, sempat terjadi perselisihan kecil antara dua peserta. Fasilitator kemudian meminta keduanya saling meminta maaf sebelum permainan dilanjutkan.
Setelah sesi permainan, peserta mengikuti pemutaran film animasi “Kwartet”. Sebelum film dimulai, fasilitator mengajak anak-anak membahas sikap saat bermain, termasuk menerima kemenangan dan kekalahan serta menjaga ketertiban selama menonton.
Usai pemutaran film, fasilitator mengajak peserta mendiskusikan pesan yang mereka tangkap. Salah satu peserta, Mela, menyebut film tersebut berkaitan dengan anak-anak yang tidak bertanggung jawab setelah melakukan suatu tindakan.
“Kalau sudah melakukan sesuatu, harus bisa bertanggung jawab, ya!” ujar Ara, sang fasilitator, saat menjelaskan pesan dari film tersebut kepada anak-anak.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan aktivitas melukis gerabah bersama para fasilitator. Anak-anak juga mendapatkan hadiah dan jajanan sebelum kegiatan ditutup dengan foto bersama.
Salah satu peserta dari Panti Asuhan Atap Langit, Rifki, mengaku menikmati kegiatan tersebut. “Seru!” kata Rifki ketika ditanya SuaraJogja.id mengenai pengalamannya mengikuti acara.
Kegiatan semacam ini sejalan dengan fungsi Museum Benteng Vredeburg sebagai ruang edukasi sejarah. Dalam profil resminya, Museum Benteng Vredeburg menyebut fungsi museum tidak hanya sebagai tempat rekreasi, tetapi juga pendidikan. Informasi sejarah dan nilai perjuangan disampaikan kepada generasi muda melalui pendekatan “edutainment”.
Visi Museum Benteng Vredeburg juga menempatkannya sebagai “ruang jelajah warisan budaya dan sejarah yang interaktif”. Museum tersebut mencantumkan pelibatan masyarakat, edukasi interaktif, pembangunan komunitas, serta ruang ekspresi budaya yang inklusif sebagai bagian dari misinya.
Pendekatan tersebut juga mendapat penekanan dalam peluncuran Indonesian Heritage Agency (IHA) di Museum Benteng Vredeburg pada 17 Mei 2024. Saat itu, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nadiem Makarim mengatakan museum dan cagar budaya perlu menjadi ruang belajar yang “terbuka, inklusif” serta mendukung pembelajaran sepanjang hayat.
Ke depan, Loka Bestari berencana memperluas kegiatan edukasi sejarah melalui program reguler. Bentuknya antara lain regular tour serta worksheet atau activity book yang dapat digunakan anak-anak ketika berkunjung ke museum.
“Kami berharap warisan sejarah museum dapat dikenalkan ke kalangan masyarakat yang lebih luas,” pungkas Samantha Aditya.
Tag
Baca Juga
-
Ulasan Novel Dompet Ayah, Sepatu Ibu: Catatan Perjuangan Karya J.S. Khairen
-
Kontroversi Uan Juicy Luicy: Mengapa Humor Misoginis Tak Boleh Dimaklumi
-
Paranoia Kolonial di Tanah Suci: Membedah Politik Haji Pada Masa Penjajahan
-
Menangkis Label Generasi Sial, Gen Z Impact Fest Bedah Ketahanan Finansial
-
Menjaga Daya Kritis Gen Z, Suara.com dan Bulaksumur UGM Gelar Gen Z Impact
Artikel Terkait
News
-
Mengenal Proyeksi Gall-Peters: Mengungkap Distorsi Geografis di Peta Mercator
-
Generasi Muda Harus Melek Tradisi: Bagaimana Topeng Blantek Tetap Eksis?
-
Tinggalkan Gawai Sejenak, Nikmati Akhir Pekan yang Tenang Bersama The Write and Wonder Club
-
Menangkis Label Generasi Sial, Gen Z Impact Fest Bedah Ketahanan Finansial
-
Menjaga Daya Kritis Gen Z, Suara.com dan Bulaksumur UGM Gelar Gen Z Impact
Terkini
-
Ulasan Novel Dompet Ayah, Sepatu Ibu: Catatan Perjuangan Karya J.S. Khairen
-
Fourteen Ways of Looking at Jellyfish: 14 Cara Melihat Keajaiban Ubur-Ubur
-
Menkeu Boleh Berganti, Beban Anggaran MBG Tetap Menghantui
-
Review Film Runner: Kisah Pengorbanan Mengharukan dalam Balutan Laga Modern
-
Review Dark Matter Season 1: Menjelajah Multiverse Demi Menyelamatkan Cinta Sejati